Membuat wanita menstruasi 4 kali dalam setahun, atau setiap 3 bulan sekali, memang secara teori bisa memperpanjang masa subur wanita karena cadangan sel telur di ovarium bisa lebih lama awet, bahkan bisa menunda menopause.
Namun tentunya akan ada efek sampingnya yaitu penurunan berbagai fungsi tubuh, karena estrogen yang diproduksi saat siklus normal menstruasi sangat penting untuk kesehatan tulang, jantung, dan otak. Bahkan risiko serangan jantung pun akan meningkat pada wanita yang sudah menopause.
Sampai saat ini sih belum ada penelitiannya setau saya, baik itu di hewan, maupun manusia.
She isn't perfect.
She misses prayers. She cries. She falls.
But she never stops returning to Allah, because she knows His door never closes.
Not on her. Never.
When he's Muslim, around 180+ cm tall, insanely smart, studied at Oxford with a perfect GPA, and soft spoken with everyone
Auranya kak Azka coc ni pembaik bgtttt
Pake BPJS di Puskesmas Jakarta bikin culture shock.
1. Pelayanan konsultasinya lebih bagus dan nyaman dari RS Swasta premium di Jakarta (pengalaman pribadi)
2. Gratis tis tis. Thanks to BPJS poros sosialisme Indonesia 🔥🔥🔥
3. Puskesmas rasa Rumah Sakit. 4 lantai dan punya banyak layanan.
4. Contrary to popular belief, ramah banget resepsionisnya? Egaliter juga ga pandang penampilan.
What the hell man. Layanan sebagus ini cuma ada di Jakarta. Bandung aja gak gini 😭😭😭
RIP dr. Icha 😭💔
Gantung diri karena depresi berat, diduga akibat intimidasi 2 anggota DPRD 🤬
dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni (dr. Icha), lahir 27 Juli 1998, berusia 27 tahun.
Beliau adalah dokter jaga di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT.
Meninggal pada Jumat, 26 Juni 2026 petang, ditemukan gantung diri di lantai 2 rumah orang tuanya di Kabupaten Kupang, NTT.
Kejadian:
- Pada 13 Juni 2026, dr. Icha menangani pasien anak korban gigitan ular di IGD. Keluarga pasien tidak puas dengan penjelasan medis mengenai ketersediaan serum anti bisa ular.
- Diduga terjadi intimidasi berupa bentakan keras, tunjuk2 wajah, & tekanan psikologis dari oknum anggota DPRD TTU. Saksi menyebut pelaku dalam kondisi mabuk (bau alkohol).
- Terduga pelaku intimidasi: Therensius Lazakar (Golkar) & Norbertus Tubani/Robertus Tubani (PKB).
(1)
Keputusan dr.Icha untuk tidak memberikan SABU adalah tindakan yg tepat dan sesuai protokol medis.
Pasien gigitan ular ini cuma gejala lokal, lab normal, tidak ada indikasi anti bisa ular (SABU). Derajat luka gigitan dan tingkat keparahan gejala menjadi kunci penentuan tindakan.
Bahkan beliau sempat konsultasi ke ahli toksinologi dr. Tri Maharani yang bilang cukup imobilisasi saja, bukan anti bisa.
Kalau diberikan anti bisa tanpa indikasi, justru bisa membahayakan pasien karena risiko reaksi alergi berat sampai anafilaksis yang mengancam nyawa.
Sudah menyelamatkan pasien tapi malah kehilangan nyawa karena depresi 😭
Turut berduka cita untuk dr. Icha & keluarga. 😔
Semoga beliau tenang di sisi-Nya.
funfactnya adalah dr. Icha sudah melapor sejak 14 Juni. ke Badan Kehormatan DPRD, ke Dinkes TTU dan ke IDI.
semua jalur resmi sudah ditempuh. tapi yang membuat kasus ini akhirnya "bergerak cepat" bukan laporan itu, melainkan "kematiannya"
dinkes TTU memang sudah menyatakan keprihatinan sejak awal. tapi keprihatinan saja tidak menghentikan apa pun. tidak ada tindakan tegas dan konkret yang membuat dr. Icha merasa lebih aman untuk kembali bertugas.
RS Leona baru menemui Bupati untuk minta maaf, setelah dr. Icha meninggal dan kasusnya ramai di media, setelah izin operasionalnya terancam. bukan saat dokternya "masih hidup dan ketakutan" untuk kembali bekerja.
"dimana perlindungan RS terhadap dokternya??"
Golkar baru menugaskan pemanggilan kadernya hari ini. PKB baru berencana tabayun. Semua "akan", dan "baru menugaskan", serta baru "berencana".
kata- kata kerja masa depan, padahal kasusnya sudah berlangsung dua minggu sebelum dr. Icha menghadap yang kuasa.
sungguh miris "kepedulian itu baru muncul" setelah ada yang harus meninggal lebih dulu.
"apakah harus ada nyawa melayang dulu baru peduli?"
Ini pola yang lazim dan sering kita lihat di negeri ini. Institusi bergerak cepat untuk pemulihan citra, tetapi lambat untuk pencegahan.
surat keprihatinan dikirim cepat. izin RS dibekukan cepat. tapi perlindungan nyata, yang seharusnya hadir SEBELUM seseorang putus asa, "datang terlambat."
dr. Icha sudah melakukan semua yang seharusnya. Melapor lewat jalur resmi, mengikuti SOP, mencari pendapat dari yang lebih ahli, berusaha bertahan. sistem yang gagal menjaganya bahkan di tengah ia berusaha menjaga dirinya sendiri. beliau menjadi korban.
RS gagal melindungi karyawannya, dinkes gagal melindungi tenaga kesehatannya, IDI gagal melindungi anggotanya, badan kehormatan DPRD gagal membina anggotanya. MIRIS
Tragedi dr. Icha (28) bukan sekadar kasus individu. Sejak pertama kali dapat info ini pekan lalu, seperti dapat alarm keras: dokter di Indonesia sangat rentan. Bukan hanya dari penyakit yang mereka tangani, tapi dari tekanan mental yang sering tak terlihat, terutama dari intimidasi dari orang berkuasa. Dokter juga manusia.
Dan yg jg perlu jadi perhatian, berapa jahatnya kuasa politik di negeri ini. Yg dokter, dan keluarga dokter Icha ini juga bukan orang sembarangan, pun sulit jg mendapat keadilan. Bagaimana dengan masyarakat biasa?
dr. Icha, 27 tahun, dokter di TTU, NTT.
Tangani pasien gigitan ular.
IDI konfirmasi: sesuai SOP medis.
Tapi tiga anggota DPRD TTU , kerabat pasien , datang, membentak, dan memicu bullying berat di media sosial.
Ironisnya , dua dari tiga pelaku diduga datang dalam pengaruh alkohol
Gubernur NTT mengaku sudah tahu sejak awal.
Responsnya? Berharap "diselesaikan secara baik-baik."
Hasilnya:
dr. Icha pergi selamanya di usia 27 tahun.
Dengan surat wasiat yang isinya satu pesan:
"Jangan ada tenaga kesehatan lain yang jadi korban."
Dokternya benar. Prosedurnya benar.
Yang dilindungi sistem justru yang salah.
Ini bukan sekadar tragedi.
Ini kegagalan negara melindungi para pahlawan kesehatannya sendiri.
Polda NTT dan Polres Timor Tengah Utara (TTU) tengah mendalami kasus kematian seorang dokter muda, dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni alias dr. Icha (27), yang ditemukan meninggal gantung diri di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (26/6/2026). Pihak keluarga bilang almarhumah mengalami depresi berat menyusul dugaan intimidasi yang dilakukan anggota DPRD TTU saat sedang bertugas menangani pasien di IGD RS Leona Kefamenanu, 13 Juni lalu. Ada indikasi anggota dewan ini melakukan tindakan intimidasi di bawah pengaruh konsumsi alkohol.
Saat ini, proses hukum terus berjalan guna menguji fakta-fakta di lapangan, sementara beberapa anggota DPRD terkait telah mulai memberikan klarifikasi dan membantah tuduhan itu. Seperti apa kronologi kasusnya?
| Narasi Daily
Tangis Pilu Ibunda dr. Icha: Perpisahan Terberat Seorang Ibu untuk Anaknya
Testimoni langsung Ibunda Dr. icha:
“Kamu catat, saya anggota dewan komisi 3 yang membawahi kementerian kesehatan bla bla bla……..”
“Saat ini juga saya bisa berhentikan praktek kamu”
“Panggil wartawan”
“Mukanya ditunjuk tunjuk….”
Bayangin suasana suram di IGD tersebut, dan dr. Icha sudah mengaku ke ibunya dalam kondisi sangat ketakutan dan terintimidasi.