#ParkBoYoung dan #SonSukKu kemungkinan akan bintangi FILM romance fantasi If I’m With You
Ceritanya berlatar di sebuah kapal pesiar dan bakalan ngelibatin karakter dari Korea dan luar negeri yang bertemu di kapal tersebut, lalu berbagai peristiwa fantasi dan romantis pun terjadi.
Garapan PD Scandal Makers
MR GU bareng Bongsoon 😍
https://t.co/l1bICCWzst
Seorang aktor Korea ternama harus terdampar di Vietnam karena kesalahan sang manager. Selama di Vietnam, ia bertemu dengan seorang calon barista yang manis, memicu kisah romantis tak terduga dan mendebarkan yang mengguncang kehidupan mereka berdua.
Dibintangi Lee Kwang Soo, Hwang Ha. <LOVE BARISTA> segera tayang Juli 2026 ini di CGV!
#LoveBarista #나혼자프린스 #SemuaSerudiCGV
Gaess, bantu RT & ❤️ postingan ini pliss 🙏 Temenku nyari pejantan buat kucingnya. Khusus dom kota Cirebon & sekitarnya.
Si meng masih gadis, jd mo dikawinin dulu sblm disteril. Kalo minat jd besan, reply/DM aja. Bantu ramein ya, kasihan dah putus asa nyariin jodoh 😭 makasihh 😾
lu pada pernah gasih nangis pas lagi capek dan stress bgt, terus tiba-tiba malah jadi nangisin keluarga, nangisin takdir, dan nangisin kehidupan yang kek gini, bahkan sampe mikir “ini gua disuruh Tuhan hidup cuma buat ngerasain terpuruk kah? fase bahagianya kapan bjirrr”.
Tiffany cerita kenapa akhirnya memutuskan menikah dengan Byun Yohan. Menurutnya, suaminya itu orang yang sangat tegas dan punya pendirian yang jelas.
Dia bilang kalo Byun Yohan selalu jelas dalam perkataan maupun tindakannya. Karena itu, Tiffany merasa secure gitu: nyaman, aman, dan bisa mengandalkan dirinya. Sosoknya yang bertanggung jawab membuat Tiffany yakin bahwa dialah orang yang ingin ia jadikan pasangan hidup.
Tiffany juga bercerita soal reaksi para member SNSD pas dia ngumumin pernikahannya. Seohyun bahkan sampe bilang: “Unnie, aku belum siap melepasmu,” sambil menangis. Sementara Hyoyeon mengaku tidak menyangka Tiffany akan menikah lebih dulu.
"GUYSSS kita tuh udah 37 tahun, kalian juga sudah dewasa" Reaksi para member pun beragam, ada yang terharu, terkejut, sampe mereka merasa jadi lebih berani memikirkan pernikahan mereka sendiri.
https://t.co/ckILpNPsx1
selemah-lemahnya perlawanan adalah melawan dalam pikiran, tidak membenarkan ketimpangan, ketidakadilan, sistem yg eksploitatif, selalu merasa ada yg salah ketika teman ada yg tidak makan, ada yg tidak merasa aman pulang, ada yg hak-hak hidupnya dirampas. karena pada akhirnya cuma kita yg kita punya.
segala doa baik untuk semua teman-teman yang turun hari ini di berbagai daerah, tetap aman, jaga barisan, mari bergandengan tangan, sampai menang, sampai menang, sampai menang!
Semalam anak cewe gue (yang introvert) tiba-tiba nanya: "Pah, kenapa sih orang seneng banget posting semua hal di sosmed?"
Gue jawab asal: "Ya biar dapat like, sayang."
Dia: "Tapi kan nggak semua orang perlu tau apa yang kita makan waktu siang?"
Anjir... anak gue umur 12 tahun udah punya media literacy yang lebih baik dari trader retail yang posting screenshot profit 50 ribu 😭
Moment itu bikin gue sadar: mungkin generasi dia bakal lebih wise soal attention economy.
Selama ini gue worry dia "kurang gaul" karena nggak aktif posting atau comment di mana-mana. Ternyata dia justru lebih selective dan mindful.
Sama kayak gue yang akhirnya belajar, nggak semua "noise" di market perlu ditanggapi. Sometimes the best action is no action.
Dia consume content dengan kritis, nggak gampang terbawa trend. Bahkan di umur segitu udah bisa bedain mana yang substansial, mana yang cuma performative.
Gue yang udah puluhan tahun hidup malah masih sering kepancing beli saham gara-gara liat thread "analisis" di Twitter 🤡
Mungkin anak introvert itu blessing in disguise di era information overload ini.
Mereka natural-nya udah punya filter yang kuat. Gak mudah FOMO, lebih fokus ke kualitas daripada kuantitas.
Sekarang gue malah belajar dari dia: sometimes being quiet is the loudest wisdom.
Kalian pernah merasa "diajarain" sama anak sendiri nggak?
Kemaren Reuters (portal berita luar negeri) menayangkan secara live aksi demo mahasiswa. Tayangan tsb ditonton lebih dari 100 ribu orang.
Dan kabarnya hari ini ada yang bela-belain kirim surat ke The Economist. Takut terlihat jelek di mata internasional dan biar gak keliatan titik lemah dan bobroknya dia (lagi).
Buat yang gak tau, bulan Mei 2026 kemaren The Economist pernah nulis terang2an kalo wowo dianggap lagi membahayakan ekonomi Indonesia sekaligus pelan2 mengikis demokrasi.
So, aksi kemaren yang katanya gagal, namun tetap ada yang ketar-ketir nih yeee...