Mischa menunjuk ke arah cafetaria Rumah Sakit yang mulai lengang.
"Bila tak keberatan sambil aku menghabiskan makan siang." Ucapnya menunjukkan wadah bento bersegel, makanan pesan antar. @tragovin
menggantung di jas putihnya, memasukkannya ke dalam saku.
"Jadi, kalau hanya ingin bertanya, kau tidak perlu ikut mengantre. Aku punya waktu."
Nada bicaranya santai, seolah menghapus kecanggungan yang sempat menggantung di antara mereka.
"Ayo, kita bisa mengobrol di sana." -
2DAU! Pleasant days, fellas. I'm here as writer tell me to search for more souls to mingle with. Mind to drop keyword, proximity scale, and preferred language in the reply section below for us to interact? A repost is always appreciated too if you'd like to be friends and then -
@tragovin jas dokternya, memberi perhatian penuh.
"Tentang kucing? Tentu. Kau boleh bertanya apa pun. Mulai dari perilaku, pola makan, vaksin." Senyumnya sedikit melebar. "Kalau aku bisa membantu, dengan senang hati akan kujelaskan."
@tragovin Mischa mengikuti arah dagu yang ditunjukkan Erick. Pandangannya jatuh sesaat pada pria di depan antrean yang tengah membawa seekor anjing, sebelum kembali menatap lawan bicaranya. Senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Begitu rupanya.."
Ia menyelipkan kedua tangan ke dalam saku -
@2DRP_AU "A sweet lie might calm them for a moment, but it doesn't stop the bleeding beneath the skin. A bitter truth may hurt, may even make someone hate me—but if it's the only thing that gives them a chance to live..." He exhaled softly. "...then I'll choose the truth."
He had only been in this city for a week, yet everything seemed to be going well—better than it ever had before.
Before moving, he had been worried. He had come here with nothing but himself, determined to start over with a clean slate.
"Kami bukan Tuhan. Kami hanya dapat mengupayakan yang terbaik dengan ilmu dan kemampuan yang kami miliki.
Pada akhirnya, ada batas yang tidak dapat dilampaui oleh dunia medis."
kritis saat tiba di rumah sakit, dan berbagai komplikasi yang dialaminya membuat tubuhnya tidak lagi mampu merespons."
Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan suara yang tetap profesional.
𝘌𝘮𝘦𝘳𝘨𝘦𝘯𝘤𝘺
Pintu ruang gawat darurat terbuka tepat saat Mischa tiba. Napasnya masih sedikit memburu akibat perjalanan yang nyaris tanpa jeda, namun langkahnya langsung terhenti.
Di balik pintu kaca, suasana telah berubah menjadi sunyi. Beberapa anggota staf kepresidenan
ikut terasa berat.
"Saya turut berduka," ucapnya lirih. "Kami telah mengupayakan segala tindakan medis yang memungkinkan. Resusitasi jantung paru, pemberian oksigen, hingga pemberian adrenalin telah dilakukan sesuai prosedur. Namun kondisinya sudah terlalu