1. Gue baik karena gue kepengen,
2. Gue baik because this world is in dire need of kind people,
3. Kalau dia gak baik ke gue, cukup tau aja. Besides, gak semua orang menampilkan kebaikan dengan cara yang sama.
mulai menormalisasi everything happen for a reason, belajar untuk menerima semua hal yang sudah terjadi dan mengambil pelajaran dari hal itu, jangan berharap mengulang waktu dan kejadian untuk dapat suatu hasil yang berbeda. semakin dewasa kita akan dituntun untuk selalu mengerti dan menerima keadaan yang kita alami.
Seiring bertambah usia, rasanya hidup cuma ttg belajar berdamai dgn ketidaktahuan, termasuk ditinggal tanpa penjelasan/permintaan maaf. Belajar memahami bhw org lain akan menghargaimu dlm kapasitasnya masing-masing & hanya perlu begitu sebaliknya, will take you far.
Call it a millennial crisis if you want.
But in my 30's, I realized l don't actually want the life I worked so hard for. I don't care about titles. I don't care about climbing anyone else's ladder. I care about time. I care about slow mornings. I care about peace. I care about bare feet at the beach with nowhere to be. I still want to make money.. just not at the cost of my life.
@Makaryo0 pas dlu kuliah nontonin VNGNC gra2 dikasih tau mantan. Tontonan yg seru, lucu, dan beda dr yg lain pada saat itu, dan baru tau arti dr 'estetik' yg sesungguhnya dr doi hahaha good old time.
Peluk jauh untuk mereka yang sedang in a phase of trying to make peace with all the disappointment, without having to blame anyone for the pain they’re feeling. Itu memang salah satu tahap paling berat dalam life, but trust me and believe, you will get through this.
Jadi.. selama 10 tahun terakhir, cara parenting yang katanya "lembut dan baik" itu TERNYATA gagal total.
Iya, gagal.
Penelitian di tahun 2025 di Amerika menunjukan:
keluarga yang pake aturan tegas—jam malam nggak bisa ditawar, batasan gadget jelas PUNYA HUBUNGAN SAMA ANAKNYA JAUH LEBIH BAIK.
Awalnya gua kira nonton short video di HP itu bisa menjadi pengisi waktu luang. Tapi setelah baca jurnal ini, gua baru tau efeknya bisa berbahaya untuk otak.
Penelitian dari Tiongkok ini meneliti 48 orang, terus dilihat kebiasaan mereka nonton short video, lalu dicek fungsi atensi & kontrol diri, didukung juga dengan pemeriksaan EEG.
Hasil penelitian ini cukup bikin gue kaget antara lain:
-Semakin sering nonton short video, semakin turun kemampuan otak buat kontrol diri
-Fungsi eksekutif otak, terutama atensi, juga menurun
Short video ternyata berasosiasi dengan overstimulasi dengan karakteristik cepat, singkat, dan penuh reward instan. Lama-lama otak jadi kebiasaan butuh stimulus cepat, sehingga bikin fokus jangka panjang makin susah.
Yang menarik dari studi ini adalah:
Semakin tinggi tingkat kecanduan (adiksi) untuk menonton short video di smartphone, berasosiasi dengan semakin rendah tingkat pengendalian diri (self control)
𝗞𝗘𝗦𝗜𝗠𝗣𝗨𝗟𝗔𝗡
Kebiasaan nonton short video ternyata berkaitan dengan penurunan self-control dan turunnya fungsi eksekutif otak, terutama kemampuan atensi.