Malam @KMR2287 aku ingin menanggapi postinganmu di sini secara terbuka.
Aku sangat lama merespon karena harus menyusun ingatan lagi tentang kita dulu.
Kita jujur²an, apa yang sebenarnya terjadi.
Selesaikan kecewamu dengan aku secara baik² dan jujur. Soal hubungan pertemanan kita yang dulu di sini.
Hubungan yang awalnya kita hanya dm-an tentang masalah pribadimu lalu aku "membantumu dan kamu terima"
Berlanjut Kamu pengen tau gimana POV sebagai seorang cowok. Karena kamu pengen pacaran lalu harus ngapain aja, setelah sekian lama off.
Di sinilah awal cerita kita yang kemudian jadi masalah.
Singkat cerita kamu mulai pacaran dengan seseorang.
Kamu ingat pertanyaanmu, apakah pacar itu wajib "test" dulu ?
Lalu aku kasih saran.
Apa yang terjadi setelahnya?
Kamu sudah menceritakan semuanya.
Lalu kamu putus nyambung, yang bikin kamu curhat panjang lebar denganku.
Sampai sini kita masih baik.
Dan makin dalam berhubungan.
Apakah chat kita ada unsur pemaksaan ?
Bukankah kamu juga sering memanggil aku "sayang" ?
Bukankah saat di Bis tengah malam, kamu yang minta temenin chat ?
Masih ingat ga kamu yang dulu mencari²ku, lalu terus menerus voice call sampai jam 5 pagi dan aku ngga mau angkat, lalu kamu marah besar ?
Kita ga pernah vcs 1x pun.
Aku yang menolak ajakan video call, dan kamu yang voice call pertama kali bukan ?
Hanya voice call. Jawab jujur.
Diakhir masa pertemanan kita yang singkat kamu chat isi hatimu ke aku tentang takut "ada rasa lebih".
Terus panjang lebar chatmu yang menyebut "Tentang cinta" dan takut jadi terlalu dalam, tapi memang gak pernah aku tanggepin, lalu kamu hapus sendiri chatmu kan ?
Sebelum aku blokir, berapa kali kamu duluan yang blokir aku ?
Alasanmu karena lagi sama pacar, lalu setelahnya kamu unblok dan chat lagi.
Jawab aja jujur.
Lalu apa salahku kalo menjauh ?
Dan ingin berakhir.
Masalah kita simple.
Kita dulu berteman dan sama² welcome, tapi kemudian jadi problematik, pertemanan kita jadi toxic, lalu aku menjauh dan kamu kecewa.
Hubungan kita dulu ga ada bedanya dengan hubungan orang lain di luar sana yang awalnya sama² saling menguntungkan. Hanya aja status kita teman dan hubungannya versi online.
Kemudian aku aku ga pernah lagi baca dan balas chatmu.
Terakhir kamu telpon dan chat aku lagi, dan belum sempat aku baca.
Silakan reply jika kamu bersedia buat ngobrol dengan niat baik dan jujur apa adanya.
Let’s make it more about Arsenal.
Ga ada point yg harus dibuktiin lg kok. Kita angkat piala EPL dan mereka tidak.
Lagian mau mereka bilang gagal UCL juga ya udah. Yg angkat piala kan PSG, bukan team mereka 😂. Udah gt aja.
Rayakan kembali, senang2 lagi!
COME ON ARSENAL!
YA ALLAH TERNYATA MASIH ADA TETANGGA MODELAN GINI
Sore tadi bayiku ditengok sama :
👵🏻: tetangga
👩🏻👧🏻: adik tetangga & anak
👩🏻🦰🧒🏻: menantu tetangga & anak
Pas mereka dateng seperti biasa excited liat bayi. TAPII, GAADA SATUPUN YANG MINTA GENDONG BAHKAN GA NYENTUH BAYIKU. Buibu pasti tau gimana rasanya
JELAS HAPPY LAH
👵🏻 : lucu banget bayimu, gembul. Asi yah?
Jago ya kamu urus bayi"
Wow. Dari sekian banyak yg nengok bayiku, kayanya baru tetanggaku ini yang apresiasi usaha aku
Adik sama menantu tetangga pun fokus jaga anaknya (usia 2 & 4 tahunan). Gaada yang lari lari atau teriak teriak. Bahkan pas minjem buku bayi anakku mereka izin dan tetep kondusif.
Singkat cerita pas mereka mau pulang mereka bertiga ngasih kado buat anakku. Satu orang satu kado.
Happy banget pada sayang sama anakku
Dan yang bikin aku makin respect ke mereka adalaaahhhh
👵🏻 : pamitan dulu sama ade bayinya yuuuk (bilang ke 2 cucunya)
👵🏻 : jangan sentuh jangan cium mukanya yah
Aduh suka banget sama parenting mereka
dan cucunya memang seanteng itu.
Malah mereka nunjukin ekspresi happy dan gemes banget ketemu bayiku
Tetanggaku lanjut bilang ke aku sama mamahku
👵🏻 : sama bayi mah memang ga boleh sembarangan yahh. Apalagi cium sama sentuh mukanya.
Langka ini langka. Sungkem
Perbanyak orang-orang modelan begini ya Allah
cc:threadzaraysm05
Meminta proyek yang didanai negara untuk "menyelamatkan sepak bola" dari sebuah tim yang dibangun melalui proses organik selama bertahun-tahun adalah ironi terbesar.
Mungkin bukan sepak bola yang perlu diselamatkan, tetapi ego kalian.