Langkah ini goyah, tersesat, hilang arah... Membaca aku yang dulu... Yang tak sama... Jadi semua ini kemajuan atau kemunduran?
Wahai aku... Yang pernah berdoa untuk hari ini...
Egois sekali untuk ingin didengar...
لَا تَغْبِطْ ضِيَاءَ غَيْرِكَ، فَرُبَّمَا كَانَ نَاتِجًا عَنْ نَارٍ تَأْكُلُهُ مِنَ الدَّاخِلِ
Jangan iri pada kilau orang lain. Bisa jadi, mereka bersinar karena terbakar dari dalam
Resahku kembali memudar, perlahan menghapus hadirmu yang tak kunjung hilang.
Dan tersadar, aku di tinggalkan hanya karena berbeda pemikiran.
Bukankah perbedaan itu indah?
Atau bukan karena hanya?
Dan apabila dikatakan kepada mereka: 'Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi', mereka menjawab: 'Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan'."
Hikmah-Hikmah Rumi, Matsnawi [04]
Kata Darwish, “Wahai jiwa yang berjalan di lorong-lorong hening kehidupan, pernahkah kau bertanya mengapa manusia begitu haus akan pujian? Mengapa setelah kenyang dari roti dan dunia, kita mencari nama baik, ketenaran, dan ucapan manis yang memuliakan diri?
Rumi membisikkan jawabannya dengan kelembutan seorang guru, “Karena Tuhan adalah Maha Pemurah yang mencintai pujian, dan engkau adalah cermin dari sifat-sifat-Nya.”
Maka jangan buru-buru mencela diri karena ingin dihargai. Akar dari keinginan itu adalah fitrah yang suci, yakni keinginan untuk dilihat oleh Yang Maha Melihat dan keinginan untuk dipuji oleh Yang Maha Memuji.
Namun, Rumi juga mengingatkan, jika engkau belum layak, pujian hanya akan menjadi "angin kosong" yang mengisi kantong rusak dan tidak akan memberi cahaya.
Maka, Darwish sejati tidak menolak pujian, tetapi menjadikannya cambuk untuk memperbaiki diri. Ia bersyukur ketika dihargai, namun ia juga takut, bila pujian itu lebih besar dari kenyataan jiwanya.
Dan bila ia mendapatkan syair-syair indah yang menyanjung, ia kembalikan semuanya kepada Sang Pemilik Pujian. Ia berbisik lirih dalam hati,
"Segala pujian ini hanya pantulan dari Engkau, Wahai Yang Terpuji."
Doa Darwish di malam ini:
"Ilahi, jadikan aku orang yang layak untuk setiap kebaikan yang dikatakan tentang diriku. Dan bila pujian itu belum sepadan dengan kenyataan jiwaku, maka perbaikilah aku, hingga kenyataan diriku melampaui pujian manusia."
Muh Nur Jabir
Jadi nabi pun sebenarnya beliau ini sudah memenuhi syarat, cuman sepertinya beliau menikmati menjadi manusia biasa dengan senyum selalu lebar ketika bertemu dengan rakyat.
Sementara di dunia lain masih ada saja yang tidak siap dengan realitas bahwa tugas kenegaraan beliau sudah selesai dengan paripurna 🤝