@disztant mungkin adolis terlampau antusias berbelanja untuk florian. lihat, dia bahkan sudah mengambil wortel serta beberapa sayur lagi. bisa saja nanti dia akan mengambil semua buah untuk florian.
“apakah ini cukup, kakak?” | @disztant
@disztant telapak tangannya memutari deret makanan sampingan itu.
“kalau malas memasak, kakak bisa makan nasi dengan kimchi. lalu, sayur yang aku ambil tadi biasanya banyak dipakai di berbagai resep. bawang juga perlu untuk bumbu masakan. nanti aku ajarkan cara menyimpannya!”
“sebenarnya semua tergantung masakan yang mau dibuat, tetapi tidak menutup kemungkinan berbelanja yang lain juga. untuk sekarang, kita mulai dari bagian sayur dulu, ya?” lalu, dia memandu florian beserta troli menuju deret sayur. “pokoknya sayur paling penting!” | @disztant
“mungkin kita bisa membeli bumbu-bumbu khas seperti gochujang atau doenjang untuk membuat masakan berkuah. kita juga bisa beli telur, daging, berbagai macam sayur, dan buah.”
dia meraih tangan kekasihnya itu dan menggenggamnya sembari tersenyum dengan lebar.
bagaimana kalau florian dibuat sedikit lelah karena berbelanja dan makin lelah dengan bersetubuh? pasti akan jadi kesempatan baik bagi adolis menghabiskan lebih banyak waktu memanjakan florian di ranjang, bukan?
“ya sudah, siap berangkat, kakak?” | @disztant
adolis menangkup pipi florian dan membelainya dengan ibu jari. “itu tidak akan bermakna kalau salah satunya tidak menikmatinya. rasanya akan hampa karena seharusnya menjadi momen intim.”
sesungguhnya, ada rencana kecil yang dia pikirkan sejak tadi terkait ini.
barangkali dialah yang mesum karena merasa terangsang oleh florian sendiri meski dia tidak melakukan apapun. namun, dia kesulitan juga menahan diri terhadap orang yang dicintainya itu.
“aku akan mengikuti keinginanmu. sekarang prioritasku adalah kamu.”
adolis tersenyum pada florian, lantas mencium pipi kekasihnya itu dengan lembut.
“kita berbelanja saja, ya? menurutku itu lebih penting untuk kakak tersayangku, pacarku, suamiku.” ucapnya dengan senyum yang kini mekar menjadi seringai.
“selain itu, sudah naluriku memastikan kamu punya cukup bahan makanan untuk memasak. tanpa semua itu, kita akan kesulitan masak.”
dia menatap kekasihnya itu, kemudian tersenyum dengan lebar. “aku pastikan kamu tidak perlu masak mie instan atau makan makanan siap saji saja!”