TOLONG JANGAN MENIRU VIDEO INI!!
Sumpah, serem banget kalo ini ditiru!
Izin menjelaskan sambil marah sedikit.
Mounjaro atau Tirzepatide TIDAK DIREKOMENDASIKAN untuk orang dengan BMI normal atau rendah. Apalagi seperti orang di video ini.
Obat ini bukan untuk penurunan berat badan yang kosmetik. Tapi untuk pengelolaan obesitas atau overweight dengan komplikasi.
Tirzepatide bekerja sebagai agonis ganda reseptor GIP (glucose-dependent insulinotropic polypeptide) dan GLP-1 (glucagon-like peptide-1). Awalnya disetujui FDA untuk pengobatan diabetes tipe 2.
Obat ini bekerja dengan cara:
-Menekan nafsu makan di otak.
-Memperlambat pengosongan lambung.
-Meningkatkan sekresi insulin dan menurunkan glukagon secara glukosa-dependent.
Akibatnya, pasien merasa kenyang lebih lama dan asupan kalori menurun drastis, sehingga berat badan juga ikut turun.
Penurunan berat badan bisa mencapai 21-22% dari penelitian yang ada, memang sangat baik, namun coba bayangkan bila diberikan pada orang yang sebenarnya berat badannya normal.
Jadi JANGAN sembarangan meniru video ini ya!
Udah cukup marah-marahnya.
Sumber: SURMOUNT-1 Study.
In 1835, a Native Californian woman named Juana Maria was accidentally left behind on San Nicolas Island, a remote island off the coast of California, when the remaining members of her tribe were evacuated to the mainland.
For the next 18 years, she survived alone. She built shelters, gathered food, caught fish and shellfish, and made clothing from bird feathers, adapting to life in complete isolation on the windswept island.
In 1853, she was finally discovered by sea otter hunter George Nidever and his crew.
After being brought to the mainland, she was baptized and given the name Juana Maria. Tragically, after surviving nearly two decades alone, she died just seven weeks later, likely from illness.
Her remarkable story became famous around the world and later inspired the beloved novel "Island of the Blue Dolphins."
Temen gw kerja di PLN.
Dia bilang ada satu pertanyaan yang tiap hari bikin dia dimaki, dan dia capek ngejelasinnya.
Pertanyaannya: "kok beli token 100 ribu, dapet listriknya kurang? Sisanya ke mana?"
Dia cerita ke gw sambil geleng-geleng. "Yang motong duit itu bukan PLN. Tapi yang dimaki tetep kita."
Gw ngerutin dahi. Kalo bukan PLN, terus siapa yang ngambil?
Malem itu gw cek struk token gw sendiri. Ada satu baris kecil yang selama ini gak pernah gw baca.
Breaking❗
Peristiwa di Prayunan, Desa Dawung, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, Jumat (5/6/2026) sore.
Dewi, warga setempat histeris saat masuk rumah melihat anaknya, Bilqis, tewas penuh luka bacok.
Bilqis, bocah yang masih berusia 11 tahun itu ditemukan tewas mengenaskan masih pakai seragam sekolah pramuka.
Saat peristiwa, Bilqis berada di rumah sendiri, sementara dua orangtuanya tengah bekerja. Polisi masih menyelidiki motif pembunuhan bocah malang itu.
Mendapatkan penghargaan Photogenic Winner Award di KOPA & NIKON Press Photo Awards, Karina (Aespa) mengucapkan terimakasih kepada para wartawan dan fotografer.
"Saya selalu ingin mengucapkan terimakasih karena selalu memotretku dengan sangat cantik mengenai dirinya yang tak terlihat oleh matanya sendiri, dan terimakasih telah memberiku kesempatan ini.
https://t.co/sBJVMZhRuK
@tvindonesiawkwk baru aja kemaren nonton, sama-sama tentang pembunuhan karena terpaksa/terpojok tapi beda konflik dan endingnya tuh kek yang harusnya sih salah tapi bener, tapi plot twistnya dapet banget
Kenapa Jibril menolak melanjutkan perjalanan di Sidratul Muntaha?
Menurut Hadits, Jibril berkata, “Jika aku melangkah lebih jauh dari titik ini, sayapku akan terbakar.”
Pada malam Mi’raj, Malaikat Jibril A.S. membawa Nabi Muhammad SAW melintasi langit-langit.
Beliau melewati langit pertama, kemudian kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, hingga akhirnya mencapai langit ketujuh. Di sana mereka tiba di sebuah tempat bernama Sidratul Muntaha.
Di situlah Jibril berhenti.
Menurut Hadits, Jibril berkata, “Jika aku melangkah lebih jauh dari titik ini, sayapku akan terbakar.”
Tapi mengapa?
Jika ia bisa melintasi semua langit sebelumnya, apa yang membuat tempat terakhir ini begitu berbeda?
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman di Surah An-Najm: “Demi bintang ketika ia jatuh.” (53:1)
Kini ilmu pengetahuan modern menjelaskan bahwa ketika bintang / planet raksasa collapse, ia dapat membentuk blackhole — sebuah tempat dengan tarikan gravitasi yang sangat dahsyat sehingga cahaya, energi, maupun materi pun tidak dapat lolos.
Para ilmuwan mengatakan beberapa blackhole berputar dengan kecepatan luar biasa; materi di sekelilingnya bergerak hingga hampir 63 juta mil per jam, dan energinya berputar ribuan kali setiap detik, menarik segala sesuatu di dekatnya dengan kekuatan yang tak terbendung.
Kemudian di Surah yang sama, Allah menyebutkan pertemuan kedua dengan Jibril di dekat Sidratul Muntaha.
Kata “Sidrah” berarti pohon bidara atau pohon berry, sedangkan “Muntaha” berarti batas akhir / final boundary.
Pohon tersebut lebar di bagian atas dan menyempit ke bawah, seperti corong.
Jika dibandingkan dengan gambar blackhole modern, kemiripannya sangat mencengangkan.
Padahal 1.400 tahun lalu, manusia tidak mungkin memahami konsep lubang hitam, gravity well, atau cosmic singularity.
Karena itu, deskripsinya disampaikan dalam bentuk yang bisa dibayangkan oleh orang-orang saat itu.
Mungkin langit-langit sebelumnya juga memiliki lorong-lorong kosmik yang bisa dilalui Jibril dengan izin Allah, karena gaya gravitasinya tidak terlalu ekstrem.
Namun Sidratul Muntaha berbeda — ia adalah batas akhir, lorong kosmik yang paling utama.
Tarikan, kekuatan, dan daya tariknya melampaui imajinasi.
Jika lubang hitam biasa saja sudah mampu menjebak cahaya, bayangkan betapa agungnya Sidratul Muntaha.
Mungkin itulah sebabnya Jibril enggan melanjutkan perjalanan: karena ia diciptakan dari cahaya, dan kekuatan di sana terlalu dahsyat baginya.
Hanya Nabi Muhammad SAW yang melanjutkan perjalanan dengan izin khusus dari Allah.
Allah berfirman: “Di dekatnya terdapat Jannatul Ma’wa.” (53:15)
Seolah-olah di balik batas akhir tersebut terdapat alam yang sama sekali berbeda.
Subhanallah
via @.luqman.aldarrawi
Pelukis Sigit Santosa merekam zaman, persisnya Indonesia hari ini, melalui tafsir visual yang cerdas dan menarik. Lukisan cat minyak di atas kanvas, judulnya "QUO VADIS, QUIXOTE".
(Mau jadi pahlawan tapi naiknya bukan kuda gagah, naik keledai. Tujuannya kemana, dia ngadep kemana, kebalik. Terus mau make mahkota raja juga kebalik.
Parah)
Seorang warga suku di Odisha, Jeetu Munda, terpaksa membawa kerangka kakaknya yang sudah meninggal tiga bulan lalu ke Odisha Grameen Bank pada Senin (27/4/2026).
Tindakan ini dilakukan setelah pihak bank di cabang Maliposi berulang kali menolak pencairan saldo sebesar ₹20.000 dengan alasan pemilik rekening harus hadir langsung.
Jeetu, yang merupakan buta aksara, tidak memahami prosedur dokumen seperti sertifikat kematian. Ia memilih membongkar makam kakaknya, Kalra Munda, dan berjalan kaki 3 km ke bank untuk menunjukkan bukti kematian tersebut.
Kasus yang viral di media India seperti NDTV dan The Hindu ini berakhir setelah campur tangan kepolisian dan pemerintah lokal (BDO) yang memerintahkan bank segera memproses hak ahli waris Jeetu.