Bali is paradise.
Until you realize who's pulling the strings.
- Police have no power
- Politicians are just puppets
- The real force? Not the Hindu gods
Here’s the full story behind the real boss of Bali:
Mumpung lagi musim skripsian, aku mau share tips bikin tulisan akademik. Mulai dari cara cari referensi, cara baca jurnal, dan cara nulis.
Mahasiswa semester 5 ke atas boleh save thread ini.🧵
Ini thread bagus bgt. Gw tambahin dikit:
Kerja ke LN better kejar ke negara yg lg talent deficit yg non-english, e.g. JPN, GER, KOR.
Ada 3 strategi:
1. Lgsg apply. Tapi syarat bahasa lbh tinggi
2. S2 dulu di sana, lanjut kerja
3. Kerja blue collar dulu (krn visanya dipermudah)
@worksfess drpd duit dibuang2 buat bootcamp. mending beli course di udemy aja., atau subscribe buku-buku TI. praktekin. bikin mini project sendiri...
yang mahal itu cuma niat.
Memahami tradisi Tionghoa di balik film "Lanh Mah" atau "How To Make Millions Before Grandma Dies".
Peringatan: mengandung spoiler, jangan dilanjutkan jika belum menonton film ini.
{sebuah utas singkat}
Kawan-kawan, jangan lupa sebarkan doktrin “growth midset”
Urang teh ga pinter MTK, UN aja dapat 3 atau 5, lupa. Tapi kenapa bisa bertahan? Bukan karena pinter, mengutip pepatah bijak, “It's not that I'm so smart, it's just that I stay with problems longer” 🤝🏻
Happy Sunday morning guys☺️
Ada file digital marketing course nih, buat yang mau mau aja😌
Lengkap mulai dari introduction, market research, SEO, copywriting, email marketing, etc..
Bantu follow aja, repost, dan comment "mau.." + tag temenmu (kalo punya🙂)
Salah satu obat sotoy dan overthinking yang paling manjur menurut pengalaman gue, adalah nulis.
Lo akan kaget betapa sering ide cemerlang visioner jutaan dolar lo itu ternyata adalah ide semrawut yang nggak jelas juntrungannya ketika lo coba untuk nulis ide tersebut.
Lo juga akan kaget bahwa pikiran kita itu suka bikin lebih ribet daripada seharusnya. Setelah ditulis, dibikin to-do lists, atau mindmap, ternyata masalahnya solveable.
“Writing is thinking. To write well is to think clearly. That’s why it’s so hard.” — David McCullough
Kegiatan nulis itu maksa kita untuk mikirin secara runut yang ruwet di otak kita. Sehelai demi sehelai benang ruwet dipikiran kita, diurai pelan-pelan seiring kalimat demi kalimat kita tulis.
Makanya my frens, lets go kita nulis. Ga harus bagus. Untuk tujuan ini, tulisannya cuma untuk lo, ga untuk dishare, ga perlu framework, ga perlu harus dapetin likes, bookmark dan share.
Mau tulis tangan, mau ngetik, mau audio journaling, mau pake pensil, pake ballpoint, bebas.
Kalau mau ekstra sangar, setelah selesai nulis, diemin dan tinggal untuk ngerjain yang lain. Lo liat lagi tulisan lo, lo edit, terus hit publish.
Kenapa jadi produktif itu susah?
Ada waktu kosong sedikit, scroll social media. Mindless scrolling aja, ga ada tujuan, lama-lama ketagihan.
Gw ngalamin dan sadar ini bahaya.
Untungnya, perlahan teratasi dengan prinsip "Delayed Gratification"
Ini sedikit penjelasannya.
↓
Dari yang sudah-sudah biasanya ada lag satu sampai dua abad antara matematika dan teknologi.
Aljabar boolean sudah ada duluan sebelum akhirnya terpakai ketika kita sudah bisa menggunakan transistor jadi switch: teknik digital, lalu berkembang jadi computer science.
Fourier transform ada jauh sebelum kita bisa memakainya buat filter suara dan gambar. Statistik sudah jauh ada sebelum machine learning dan AI.
Saya selalu amazed sama para matematikawan, kok bisa sih menemukan sesuatu yang belum ada aplikasinya, dan pas dipakai betulan, it works. Just how?