Di UI memang banyak yang seperti ini, apalagi kalau sudah masuk ke dunia jaringan sospol mahasiswanya. Beuh, pengalaman yang tidak terlupakan selama aktif di UI dulu.
Kalau sudah masuk lingkungan yang tepat, ada dorongan yang kuat dari sekitar, mau tidak mau, kita juga "terpaksa" mengembangkan diri. Definisi “bagus” akan berubah seiring kita bertemu dan berada di lingkungan yang tepat. Orang-orang yang kalian kagumi juga akan berubah.
Bagi banyak orang, kagum disini memang wajar. karena pada dasarnya bisa dapat lingkungan yang tepat adalah privilege yang nilainya tidak terhitung.
Maka, saran saya teruslah belajar dan membaca dunia. Naikkan gairah berkompetisi, dan biasakan diri untuk memikirkan problem-problem sulit yang ada di dunia dan semesta.
Seiring waktu, cakrawala berpikir kalian akan meluas, sehingga anak-anak UI seperti wakabem ini akan terasa sebagai standar yang memang sudah seharusnya. Pada akhirnya, kalian akan sadar bahwa manusia-manusia yang benar-benar outlier, bukan sekadar produk zaman dan lingkungannya, memang berada di level yang berbeda.
Pada titik itu, kalian akan sadar bahwa latar belakang pendidikan, status, jabatan, dan pangkat sudah tidak banyak artinya.
From “sayang” to “user not found”
From “sayang” to “people you may know”
From “sayang” to “account not found”
From “sayang” to “stanger”
From “sayang” to “shared video with you“
From “sayang” to “from your contact“
From “sayang” to “instagram user“
From “sayang” to “people nearby“
From “sayang” to “people who viewed your story“
Is a true story.