We are publicly asking @SeattlePD and @GovBobFerguson to consider reopening the Kurt Cobain case.
In 1994, authorities publicly characterized Cobain’s death as self-inflicted before a full forensic analysis could be completed.
In 2005, then-SPD Chief Gil Kerlikowske asked former Capt. Neil Low to audit the case. Low was given full access to the case file and concluded the evidence pointed to a homicide and that the case should be reopened.
In 2025, a multidisciplinary team published a peer-reviewed study in the International Journal of Forensic Sciences concluding that its analysis of the publicly available evidence was inconsistent with a self-inflicted death and supported homicide.
We believe Kurt Cobain’s death deserves to be investigated as a potential homicide, without beginning from the preconceived assumption that it was self-inflicted. Whoever was responsible could be walking free to this day.
For those who want to examine the evidence for themselves, see our full investigation here: https://t.co/deWbbQ6onI
We're not afraid because you have millions of followers, we're afraid that you move those millions of zealots to do unimaginable things on the basis of "protecting our religion"
Setakut Itukah Sama NU?
NU hanya berdiri di tempat yang sama sejak 1 Abad silam sejak 1926, berdiri di tengah perbedaan dan keberagaman.
NU istikamah menjembatani agama dan kebangsaan (hubbul wathān minal iman), membidani segala kemaslahatan (tasharrufūl imam 'alā rā'iyyah manūtun bil maslahah), merawat akal sehat di tengah hiruk-pikuk tafsir iman dan kepentingan (lā tajtami'u ummatī 'ala dholālah).
Tapi anehnya, setiap NU mulai bergerak, selalu ada yang gemetar. Hingga muncul gelagat NU-Phobia segala.
Apakah karena NU punya jamaah? Karena NU punya jutaan pesantren? Atau karena NU punya cara menjaga kebangsaan tanpa harus berteriak?
NU tidak sedang berebut pengaruh, kami sedang menjaga keseimbangan republik agar tetap waras.
Kalau itu menakutkan, mungkin yang menakutkan bukan NU, tapi bayangan tentang Indonesia tanpa NU yang merawat peradabannya dengan ber-i’tidal, ber-tawassuth, ber-tawazzun dan ber-amar ma’ruf nahi munkar.
Setakut Itukah Sama NU?
NU hanya berdiri di tempat yang sama sejak 1 Abad silam sejak 1926, berdiri di tengah perbedaan dan keberagaman.
NU istikamah menjembatani agama dan kebangsaan (hubbul wathān minal iman), membidani segala kemaslahatan (tasharrufūl imam 'alā rā'iyyah manūtun bil maslahah), merawat akal sehat di tengah hiruk-pikuk tafsir iman dan kepentingan (lā tajtami'u ummatī 'ala dholālah).
Tapi anehnya, setiap NU mulai bergerak, selalu ada yang gemetar. Hingga muncul gelagat NU-Phobia segala.
Apakah karena NU punya jamaah? Karena NU punya jutaan pesantren? Atau karena NU punya cara menjaga kebangsaan tanpa harus berteriak?
NU tidak sedang berebut pengaruh, kami sedang menjaga keseimbangan republik agar tetap waras.
Kalau itu menakutkan, mungkin yang menakutkan bukan NU, tapi bayangan tentang Indonesia tanpa NU yang merawat peradabannya dengan ber-i’tidal, ber-tawassuth, ber-tawazzun dan ber-amar ma’ruf nahi munkar.
Vast rural regions in Java are largely organized around a central town, where trade and administration happens. Example being the Port of Sumur for Ujung Kulon area. An indicator of a "central town" is the presence of the civilizational astronomicon known as Indomaret.