Rabu, 28 Januari 2026, lahan garapan petani seluas 83 hektare di Desa Padang Halaban, Kecamatan Aek Kuo, Kabupaten Labuhanbatu Utara, dieksekusi secara paksa.
Ratusan aparat bersenjata lengkap diterjunkan untuk mengawal kepentingan sebuah korporasi, sementara rumah dan tanaman warga diratakan alat berat.
Sejak pagi, ribuan warga datang menyaksikan apa yang mereka sebut sebagai “penggusuran legal”.
Belasan eskavator milik perusahaan bekerja tanpa jeda, merobohkan rumah kayu, kebun pangan, dan tanaman produktif milik kelompok tani KTPH-S.
Dalam hitungan jam, ruang hidup petani lenyap—tanpa kompensasi yang jelas, tanpa kepastian masa depan.
Aparat Negara vs Rakyatnya Sendiri
Eksekusi dikawal personel gabungan dari Polda Sumatera Utara, Polres, Polsek, Brimob, Polwan, hingga Satpol PP Pemerintah Kabupaten Labura.
Kekuatan negara dikerahkan secara masif, bukan untuk melindungi warga, melainkan memastikan proses penggusuran berjalan mulus.
Akibatnya, sedikitnya enam warga dilaporkan diamankan aparat.
Sejumlah lansia tumbang akibat trauma. Anak-anak menangis histeris menyaksikan rumah dan tempat bermain mereka hancur.
Ambulans mondar-mandir mengangkut korban pingsan.
Seorang nenek berlutut di hadapan Kapolres Labuhanbatu, memohon agar rumah dan tanaman tidak dihancurkan.
“Biarlah kami bongkar sendiri, supaya sisa bangunannya bisa kami pakai,” pintanya dengan suara gemetar. Permohonan itu tak menghentikan kerja alat berat.
Menang Tanpa Kepastian Hukum
Eksekusi ini dimenangkan oleh PT Smart. Namun kemenangan tersebut berdiri di atas dasar hukum yang dipertanyakan.
Sejumlah pihak menyebut Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan belum sepenuhnya jelas.
Ironisnya, di lokasi eksekusi terpampang spanduk bertuliskan:
“Tanah Ini Milik Negara Eks HGU PT Smart yang Dikuasai Rakyat sebagai Lokasi Reforma Agraria – Pansus DPR RI.”
Tulisan itu justru menegaskan konflik mendasar: jika lahan tersebut merupakan eks HGU dan masuk agenda reforma agraria, mengapa negara justru berdiri di belakang korporasi?
Ketika dimintai penjelasan, Kapolres Labuhanbatu AKBP Wahyu Endrajaya menolak memberikan keterangan substansial.
🚨🆘 SELAMATKAN ORANG UTAN🙏🙏🙏🆘
Jalan Poros Bengalon, Kutai Timur — Seekor orangutan terlihat keluar dari kawasan hutan di sekitar area pertambangan dan berjalan menyusuri pinggir jalan untuk mencari sisa makanan.😭😭😭
Hewan yang dilindungi itu berhenti di tumpukan sampah dan memungut sisa-sisa yang masih bisa dimakan.
Dugaan sementara, tekanan habitat dan berkurangnya sumber pakan membuat orangutan semakin sering keluar dari hutan dan mendekati aktivitas manusia. Peristiwa ini terjadi kemarin pagi, 26 Januari 2026, dan kembali mengingatkan bahwa konflik antara satwa liar dan manusia bukan hanya soal ruang, tetapi soal sistem tata kelola lahan dan eksploitasi yang tidak ramah terhadap ekosistem. 📸
#SaveOrangUtan
Bapak ini merantau dari Banten ke Sragen Jawa Tengah untuk menjual parfum keliling .
Sayang nya tidak mendapatkan hasil yg memuaskan sehingga sulit untuk sekedar makan. Tapi beliau tidak pernah meminta minta .
Suatu hari beliau ke konter ponsel untuk karena hp nya rusak, ternyata tidak bisa di perbaiki lagi.
Pemilik konter hp yg baik hati mengijinkan bapak tersebut meminjam ponsel nya untuk menelp anak nya karena kangen.
Ini adalah perjuangan seorang ayah di masa ekonomi yang sangat sulit sekarang ini demi keluarga nya .
Pasti beribu ribu kisah yg serupa seperti ini di masyarakat kita saat ini, ini potret di negara nomer 2 dengan penduduk termiskin terbanyak di dunia menurut laporan world bank 2025 . Menyedihkan ? Sudah pasti 🥲
Pendidikan karakter mereka sebagai dasar yang kuat.
Menurut prinsip pendidikan Jepang, usia dini adalah fase belajar bagaimana menjadi manusia: belajar menunggu giliran, jatuh lalu bangkit, berinteraksi, dan memahami lingkungan sekitar. Kegiatan di alam membantu anak mengenali risiko, membangun keberanian, serta melatih rasa tanggung jawab terhadap diri dan kelompok.
NO #VIRAL NO JUSTICE !!
MENYUSUP DARI LAUT SAID DIDU BERSAMA TEMAN² NYA TEMUKAN PROYEK #PIK2 TERNYATA TERUS BERLANJUT !!
BAHKAN SUDAH MASUK TAHAP PENGERUKAN DARI 30,16 KM TERNYATA SUDAH BERLANJUT MENJADI "PENGERUKAN LAUT" DAN PELEBARAN WILAYAH ,RAKYAT INDONESIA DI KADALIN.
Ratusan warga negara Indonesia (WNI) akhirnya keluar dari sindikat penipuan daring di Kamboja setelah pemerintah setempat menangkap terduga bos industri ilegal tersebut. Hingga Senin (19/1/2026), sebanyak 678 WNI dilaporkan telah dibebaskan.
Duta Besar Indonesia untuk Kamboja, Santo Darmosumarto, mengatakan puluhan WNI mulai mendatangi KBRI Phnom Penh untuk melapor dan mengurus kepulangan ke Tanah Air.
Santo menyebut sebagian WNI masih memegang paspor, sementara lainnya disita sindikat. Ada pula yang masa tinggalnya telah habis, namun ada juga yang masih memiliki izin tinggal sah di Kamboja.
KBRI memastikan akan mempercepat proses pemulangan, meski para WNI diarahkan kembali ke Indonesia secara mandiri. Pihak kedutaan juga mengingatkan agar WNI tidak terlibat dalam aktivitas kriminal di luar negeri.
Sebelumnya, Kamboja menangkap dan mendeportasi Chen Zhi, warga negara China yang dituduh menjalankan jaringan penipuan internet dari negara tersebut. Penindakan ini membuat ratusan warga asing, termasuk WNI, meninggalkan kompleks penipuan.
Sumber : warganet
🥺🥺
Hati mana yang tidak tersayat?
Seorang ibu mengkritik kualitas MBG, yang katanya untuk rakyat, tapi balasannya apa? Anaknya dihukum tidak boleh makan selama tiga hari!
Yaa Allah, kok segitunya sih?
Sc: coachaddie.real
Heran betul ya, kenapa gak ada satupun Termulnyet yg komentar, padahal Jakarta banjir kayak gini.
Bukannya dulu jaman ARB Gubernur kelakuannya kayak Monyet Trauma Air, genang semata kaki aja pake sewa pemulung untuk demo di kantor Gubernur DKI.
Apa Monyetnya udah jadi Gajah ?
Aceh Masih Terluka oleh Bencana. Gampong Uyem Beriring dan Desa Pasir, Gayo Lues, Aceh (24 Jan 2025) hancur total disapu “tsunami” banjir dari pegunungan.
Warga kehilangan rumah, sekolah, pesantren, tanah, dan kenangan — sebagian besar terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka untuk selamanya.
Dan ini bukan satu-satunya.
Puluhan gampong di hampir 50% wilayah Aceh mengalami kehancuran serupa.
Apakah negara sudah memiliki komando yang kuat, sistem yang efektif, dan pendanaan yang cukup untuk benar-benar cepat memulihkan — dan membangun Aceh lebih tangguh?
Banjir Aceh akibat 🌀 Cyclone Senyar telah menjadi bencana banjir–longsor 🌊💥 terparah dalam sejarah Aceh dan Sumatera sejak 26 November 2025 — dan dampaknya masih terasa hingga hari ini.
AKSI PAK OGAH TUTUP EXIT TOL RAWA BUAYA VIRAL, SOPIR TRUK RESAH👀‼
Jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya video yang memperlihatkan aksi tiga pak ogah menutup akses Exit Tol Rawa Buaya, kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, menggunakan rantai besi. Aksi tersebut diduga dilakukan untuk memungut uang secara ilegal dari para pengendara.
Peristiwa itu terekam saat tim https://t.co/QUx1HX5oGH melintas di Jalan Ring Road Cengkareng. Ketiga pak ogah terlihat menutup Exit Tol Lingkar Luar Barat arah TL Daan Mogot dengan cara mengikat rantai pada barrier berwarna merah.
Berdasarkan penelusuran di lapangan, rantai tersebut akan dibuka apabila pengendara memberikan sejumlah uang. Besaran pungutan yang diminta bervariasi, mulai dari Rp5 ribu hingga Rp10 ribu, bahkan bisa lebih.
Sasaran utama aksi pungli ini adalah kendaraan besar seperti truk barang, trailer, mobil pikap, hingga truk wing boks yang hendak keluar melalui Tol Lingkar Luar Barat di kawasan Rawa Buaya.
Seorang warga sekitar yang enggan disebutkan identitasnya mengungkapkan bahwa aksi serupa sudah kerap terjadi. Menurutnya, ketiga pak ogah tersebut sering menutup akses keluar tol dan memanfaatkan kondisi lalu lintas yang padat.
“Sering pak ogah nongkrong di situ. Targetnya memang mobil besar seperti truk, pikap, atau wing boks. Ada yang minta Rp10 ribu sampai Rp20 ribu, macam-macam,” ujar warga tersebut, Selasa (13/01/2026).
Warga menilai keberadaan pak ogah tersebut sangat meresahkan, khususnya bagi sopir truk. Mereka bahkan disebut semakin aktif saat kondisi Exit Tol Rawa Buaya menuju Daan Mogot mengalami kemacetan, karena peluang mendapatkan uang dinilai lebih besar.
Hingga kini, warga berharap aparat terkait segera turun tangan untuk menertibkan praktik pungli tersebut demi kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan di kawasan Jakarta Barat.
@DivHumas_Polri
#elshintaviral
Aceh memang istimewa
Warga Gampong Paya Deumam Lhee, Kecamatan Pante Bidari l, Kabupaten Aceh Timur, dikejutkan oleh fenomena alam yang tak terduga. Alih-alih mendapatkan sumber air bersih, proses pengeboran sumur di wilayah tersebut justru mengeluarkan semburan lumpur yang bercampur gas pada Senin (19/1).