Waktu Arsenal menang, banyak orang geram karena pendekatan permainan mereka.
Waktu Arsenal kalah, semua dirasa sudah layak dan sepantasnya.
Padahal di final UCL vs PSG, terlihat jelas bahwa merekalah yg menguasai pertandingan. Merekalah yg nyaman setidaknya hingga menit 70an..
Kontrol bukan dilihat penguasaan bola. Bukan juga soal jumlah percobaan tembakan.
Kontrol adalah bagaimana kita bisa memaksa lawan untuk bermain di luar zona nyaman mereka. Mengikuti alur yg kita ciptakan. Arsenal melakukan itu selama satu jam lebih di laga final.
Keputusan mereka untuk memenuhi area sentral memaksa PSG hanya bisa main melebar.
Keputusan mereka menempatkan 4 bek tengah sebagai tembok di depan gawang tidak meninggalkan lubang.
Joao Neves & Fabian Ruiz yg biasa siap menyambut umpan tarik dari sayap kesulitan mendapat ruang.
Vitinha yg biasa bisa membawa bola dengan leluasa dan melepaskan umpan berkelas untuk membebaskan Kvara, Doue, dan Dembele, dikunci sebelum bisa beraksi.
Arsenal baru mulai goyang ketika Gyokeres dan Timber masuk. Mereka memiliki peran serta area yg berbeda dengan Odegaard & Mosquera.
Bahkan sejak pergantian itu, PSG mulai leluasa, sampai Barcola hampir sukses menciptakan gol kemenangan dengan aksi individunya.
Ternyata Arsenal selamat dan terus bisa mengimbangi PSG hingga adu penalti. Tanpa tiga penendang utamanya (Saka, Odegaard, dan Havertz) anak-anak asuh Arteta akhirnya kalah.
Namun mereka layak mendapatkan apresiasi. Mereka harus menerima kekalahan ini dengan kepala tetap terangkat tinggi.
Apa yg mereka capai musim ini, sudah jauh di atas ekspektasi.
Apabila bisa melanjutkan momentum ini, bukan tidak mungkin dalam waktu dekat mereka mendapat kesempatan bermain di final UCL lagi ๐๐๐ซก
Masturbation in Islam
Most people donโt talk about this.
But silence has never healed anyone.
And too many Muslims are suffering alone.
Here is what Islam truly says:
Persib Juara Tiga Kali Beruntun, Euforia Bobotoh Menjelma Solidaritas dan Berkah Ekonomi Warga Bandung
Gelar juara Persib Bandung tak hanya memicu pesta di jalan, tetapi juga menghadirkan ruang kebersamaan hingga rezeki pedagang kecil.
https://t.co/jGgkH9YOHl
Albert Camus pernah menulis bahwa satu-satunya cara menghadapi dunia yang absurd adalah dengan menjadi pemberontak terhadap keputusasaan itu sendiri.
Selama 22 tahun, empat musim terakhir yang mengiris hati, Arsenal adalah Sisifus. Berulang kali mereka memikul batu harapan dengan susah payah menuju puncak bukit, hanya untuk melihatnya terhempas kembali ke dasar jurang setiap kali bulan Mei tiba. Mereka ditertawakan oleh takdir, dipaksa menelan realita bahwa penderitaannya seolah tidak berujung.
Namun, mereka menolak takluk. Mereka terus merangkak, menyusun ulang pondasi yang hancur, dan kembali memikul batu itu. Hari ini, pemberontakan panjang itu selesai. Batu itu akhirnya menetap abadi di puncak. Air mata yang jatuh hari ini adalah saksi bahwa mahkota paling indah hanya pantas melingkar di kepala mereka yang berani memeluk penderitaan tanpa henti.
The struggle itself towards the heights is enough to fill a man's heart. One must imagine Arsenal happy. ๐ดโช๏ธ๐
@Arsenal #Arsenal #AFC #Gunners