Suatu hari kau akan bertanya kepadaku:
mana yang lebih penting, hidupku atau hidupmu?
Aku akan menjawab: hidupku.
Lalu kau akan pergi dengan kecewa tanpa mengetahui bahwa kaulah sesungguhnya hidupku.
- Kahlil Gibran
Prabowo meletakkan bunga di makam leluhurnya, Kapitein Benjamin Thomas Sigar, tokoh Minahasa yang memimpin Pasukan Tulungan (Hulptroepen) dalam Perang Jawa. Menurut keluarga, ia terlibat dalam penangkapan Pangeran Diponegoro.
Foto ini diambil sekitar 1968, tak lama setelah Soemitro Djojohadikusumo dan keluarganya kembali dari pelarian politik (1957–1967) terkait keterlibatannya dalam pemberontakan PRRI.
I said that if $BTC reached $66,000, I’d give away $20,000 in Bitcoin to 15 people.
Well, we made it.
As promised, I’m giving away $20,000 in $BTC to 15 lucky winners today.
To enter:
✅ Like
✅ Retweet
✅ Comment “BTC” 🔔
Entries close in 24 hours. Good luck!
Menengah itu apes mas, lebih deket ke jurang kemiskinan daripada chance ke kaya.
Udah pph kena, ppn kena, subsidi cuma dapet tertentu (pertalite) wkwwkwk, gaji naik susah pula wkwkwkw
Solusinya: double job.
Edan
Trade off ama health ini
Gw mau ngomel agak panjang. Monggo dibaca.
Dalam supply-demand, ketika supply naik, harga jadi turun.
Hal yang sama terjadi pada IPK tinggi dan cum laude.
Kalau semua orang cum laude, maka cum laude berhenti jadi istimewa.
Ketika terlalu banyak lulusan berpredikat cum laude, nilai IPK sebagai sinyal kualitas jadi turun "marwah"-nya.
Gw pernah liat wisuda suatu kampus, rektornya dengan bangga mengumumkan rata-rata IPK adalah 3,65.
Peserta sidang wisuda tepuk tangan.
Gw bingung karena implikasinya jadi ada beberapa kemungkinan:
1. >50% mahasiswanya pintar sekali
2. Kurikulumnya super mudah
3. Dosen2nya mengamalkan hadits "Barangsiapa memudahkan urusan orang lain yang sedang kesulitan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat" di dunia perkuliahan alias Dosen Bonus
Fenomena ini ga langka, malah cukup aman disebut "jamak", yaitu: Fenomena "false signalling"
Semua orang tampak unggul di transkrip, tapi memble saat uji kompetensi di dunia nyata.
Sama halnya di level wajib belajar 12 Tahun. Mulai jarang gw dengar cerita anak tidak naik kelas. Tapi justru makin sering terdengar berita anak SMA tidak bisa perkalian dasar.
Balik lagi ke soal IPK.
Kalau terlalu banyak orang cum laude, predikat itu berhenti jadi istimewa. Nilai IPK sebagai sebuah indikator sinyal : disiplin, kualitas kognitif, dan pencapaian akademik, jadi turun nilainya.
Market akhirnya mencari sinyal lain yang relevan: portofolio, sertifikasi, prestasi, pengalaman, atau balik lagi dari mana kampus asalnya.
Gw gatau bagaimana cara mengakhiri omelan ini, masih panjang sebenernya. Dan gw pun enggak tau solusinya mulai dari mana. Tapi gw cuma mau bilang:
"Ketika sistem pendidikan berhenti menjadi juri yang jujur, Market menghukum dengan berhenti percaya"
[Omelan ini terinspirasi setelah baca tulisan Guru Besar UGM Eduardus Tandelilin di bawah ini]
Adik-adik, kakak-kakak semuanya. Kali ini gw mau bicara tentang sesuatu yang sudah menyiksa rakyat Indonesia selama bertahun-tahun. Bukan korupsi. Bukan inflasi. Tapi sesuatu yang lo rasain setiap kali mau mudik atau liburan dan buka aplikasi Traveloka, lalu langsung menutup aplikasinya lagi karena tidak sanggup melihat angkanya.
Yes. Tiket pesawat domestik Indonesia. Yang harganya bisa lebih mahal dari tiket ke luar negeri. Yang bikin relawan bencana harus muter lewat Malaysia dulu baru bisa ke Aceh. Yang udah dikeluhkan jutaan orang tapi tidak pernah beneran berubah.
Gw udah baca risetnya. Gw udah cek datanya. Dan sekarang gw mau cerita ke lo semua, pelan-pelan, dengan bahasa yang bisa dimengerti semua orang, kenapa ini terjadi dan siapa yang sebetulnya diuntungkan dari penderitaan kita bersama. 🧵