darah yang mereka tumpahkan dengan sengaja, adalah harga mati sebuah kehormatan, jika membalasnya merupakan sebuah kejahatan, maka tidak akan pernah tercipta lagi sebuah kedamaian.
seperti pijar lampu taman, berharap bangku besi di bawahnya diduduki, angin utara perlahan melintas, dua pasang daun kering tanggal, lepas dari ketinggian, terjun menuju doa lampu yang diaminkan takdir.
»@sugiartohalid
Demi jarak yang dilupakan rasa, sungguh tatapan itu masih ada, tatapan yang pernah terkubur waktu, kini bertengger di antara dua cermin, melesat cepat.
mudah tersinggung dengan perkataan orang lain, terlebih jika mempersulit orang lain, maka hati-hati dengan banyak hal yang mungkin bisa jadi menurutmu benar, bukan berarti juga benar di mata orang lain.
hujan yang setia menemani, antara tugu patung kuda sampai jalan Sabang, tertatih langkah demi langkah, detik demi detik, dan akhirnya terhenti pada titik dimana orang-orang baik pernah membersamaiku, mereka tidak melupakan bahwa kita pernah menjadi orang baik.
ketika sebuah masalah menghampiri, ikhlas dan hadapi, percayalah pada diri sendiri jika itu bisa dilewati, jangan pergi, apalagi berlari, atau malah terkutuk untuk bunuh diri. mungkin, masalah yang kamu hadapi adalah rencana baik sang pencipta, agar kita bisa memperbaiki diri.