Sungchan menghembuskan napas panjang, hampir seperti keluhan yang tertahan di tenggorokan. “Haaahh, ganggu saja dasar anak-anak kecil ini,” gumamnya pelan sambil menggelengkan kepala. Ia menaruh hp di dashboard dengan gerakan yang agak kasar, seolah benda itu sendiri yang membuatnya kesal. Layar masih menyala sebentar sebelum otomatis mati, tapi getaran-getaran kecil masih sesekali terasa di permukaan mobil. Ia tidak peduli lagi. Biarkan saja mereka ribut di sana. Ia sudah cukup memberi makan dengan satu selfie.
Ia menggeser tbuhnya di kursi, memutar sedikit posisi supaya lebih menghadap ke samping. Mata yang tadi sayu karena lelah sekarang mencari sosok di sebelahnya. Eunseok. Kekasih hatinya. Lelaki itu duduk diam di kursi penumpang, satu tangan menopang dagu sementara jari-jari tangan lainnya bermain pelan di atas paha.
“Yank,” panggilnya pelan, suara masih sdikt serak karena seharian jarang dipakai. “Mau maem lalapan mana ntar? Mampir Blok M gak?”
Eunseok memiringkan kepala, membuka mata lebih lebar. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya, yang khas sekali; bukan senyum untuk kamera, tapi senyum yang hanya muncul kalau mereka sedang berdua. Ia mengangguk pelan, lalu mengulurkan tangan ke arah paha Sungchan, menepuk pelan sekali sebelum membiarkan jari-jarinya diam di sana.
“Blok M juga boleh,” jawabnya dengan suara rendah. “Tapi jangan yang ramai banget. Aku males antri lagi. Atau muk yang deket apart aja egk? Ada warung lalapan di belakang yang biasanya sepi malam-malam begini.”