Dan tangan kiri Godric yang sudah bersinggah dipinggangmu, kini turun mendekati perutmu. Mengusapnya dengan ibujari, seakan menandai sebuah lokasi yang akan ia ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ช sampai akhir.
Ia merunduk untuk mengecup pucuk kepalamu yang surai, gemilang yang dulu sempat berbangga diri pada langit. Dari kepala, ia turun ke pelipismu, sebelum akhirnya menggigit kecil kupingmu. Sebuah stimulasi sederhana agar kamu tak gelisah karena nyeri pada sayapmu.
โKamu tidak suka rasa sakit, William?โ jemari ia mengikuti garis dari sayap, menyentuhnya tanpa menekan, mengoles krim yang terkesan dingin untuk meredakan nyeri yang menjalar di area sayap.
@puppcets
Elok sayap yang tak dapat dikepak, merunduk turun seakan sekujur tenaga tak bersinggah padanya. Godric memandang tengkuk bersihmu, mendengar kamu yang mengeluh adalah hal menggemaskan. Lihat, sampai Godric mengulum senyum sebelum memegang sayapmu yang terluka.
@puppcets Ia menurunkan tanganmu sebelum melirik ke arah sayapmu. Kamu terduduk di sebelah jendela yang tampilkan luasnya langit. Namun tanpa sayapmu, kamu tak layak kembali membaur di antara langit. โBiarku lihat lukamu, @puppcets.โ
@puppcets di hadapanmu. Tangan kamu ia arahkan menuju lehernya tanpa memaksa. Ia letakkan jemarimu pada pita suara yang tenggelam di antara daging-daging di sana.
โO-bat,โ
Seakan Godric memberikan kata baru yang akan kamu genggam hingga akhir.
Beberapa obat ia raih dari nampan, lantas menutup pintu tanpa penjelasan. Tuan kami melirik pada kamu sang penunggu ruang yang sudah menetap hampir genap sepuluh hari tepat di pagi ini.
Apa kamu sedang terjaga, @puppcets ?
Suara langkah kaki yang tidak berisik. Beringinan menuju ruangan yang sama. Pintu ruangan dibukakan oleh sang pelayan menjadi akses Godric memasuki kamar itu. Lantas saat sang pelayan hendak melangkah masuk, pria itu tak berikan ia izin.