@Puding600k Aku sangat mendukung muhammadiyah.
Banyak yg bilang agama harusnya memanusiakan, tp mereka lupa di atas segalanya ada aturan dari Tuhan yg ga boleh dilanggar.
Dari kecil tiap dgr ceramah romantisasi kemiskinan tu selalu ngasih contoh kehidupan rasulullah. Pdhl rasulullah lebih dikenal karna kesederhanaannya, bkn karna kemiskinan. Gw baru paham klo doktrin itu ga bener pas udah gede. Nyatanya miskin dan sederhana itu dua hal yg berbeda.
Perbanyak ngaji fiqih, kurangi nyanyi embel-embel ngaji supaya tidak membuat pernyataan seperti ini.
Jadi, seluruh biaya mengurus hewan qurban memang adalah tanggung jawab shahibul qurban.
Kecuali shahibul qurban sendiri yang menyembelih hewan qurbannya (ini malah yang dicontohkan oleh Rasul).
Kalau diwakilkan oleh tukang jagal dan panitia, maka jasa mereka semua harus dibayar oleh shahibul qurban bukan dengan daging qurban baik kulit, kaki, kepala dll. (ini sangat tidak boleh).
Panitia juga tidak boleh menjual daging qurban untuk biaya jasanya. Biaya jasa harus terpisah.
Atau takmir masjid boleh membentuk kepanitiaan qurban di masjid, lalu shahibul qurban membayar sejumlah uang yang sudah ditentukan oleh panitia, lalu dari uang itu akan dibelikan hewan oleh panitia dan sisa uangnya untuk keperluan mengurus hewan tersebut termasuk jasa panitia, jagal, beli plastik dll. Itu boleh.
Yang dzalim itu datang ke masjid bawa hewan qurban doang, panitia disuruh ngurus.
Dan berharap panitia pakai uang kas masjid. Padahal kas masjid ya untuk keperluan masjid bukan qurban.