as harqeelstan, gue cuma bisa nerima soloharry yg respect sama aqeela dan soloqeel yg respect sama harry. gue respect sama mereka yg tetap support keduanya selama project ini berjalan, atau at least gak bersikap bitter ke salah satu dari mereka.
Mental health itu nyata. Bunuh diri itu nyata. Depresi juga nyata. Jadi hal-hal seperti ini tidak seharusnya dianggap sepele.
Banyak orang terlihat baik-baik saja dari luar. Mereka tetap bekerja, tetap tertawa, tetap menjalani aktivitas seperti biasa. Tapi di dalam dirinya, mereka sedang menghadapi tekanan, kelelahan mental, atau perasaan yang sangat berat. Tidak semua luka terlihat secara fisik, tapi bukan berarti rasa sakitnya tidak ada.
Kemarin ada satu coffee shop yang bikin campaign "NGENTOT", katanya singkatan "Ngenal Total".
Menu kopinya dikasih nama-nama cewek.
Jadi pas barista nanya "mau pesan apa?", pelanggan jawab "mau pesan Nadia."
Lucu? Kreatif? Nggak sama sekali. Ini pelecehan yang dikemas jadi marketing.
Seolah-olah harga diri perempuan bisa dibeli seharga kopi.
Yang bikin gue lebih kesel: "permintaan maaf" mereka kayak ga niat gini.
Cuma tulisan doang. Ga ada video. Ga ada statement langsung dari yang bertanggung jawab.
Gak ada penjelasan kenapa ini bisa lolos. Gak ada akuntabilitas. Cuma damage control yang berasa template dan malah lanjut jualan.
How the fuck was this approved by the higher ups? Did they hire misogynist perverts?
Kemarin ada satu coffee shop yang bikin campaign "NGENTOT", katanya singkatan "Ngenal Total".
Menu kopinya dikasih nama-nama cewek.
Jadi pas barista nanya "mau pesan apa?", pelanggan jawab "mau pesan Nadia."
Lucu? Kreatif? Nggak sama sekali. Ini pelecehan yang dikemas jadi marketing.
Seolah-olah harga diri perempuan bisa dibeli seharga kopi.
Yang bikin gue lebih kesel: "permintaan maaf" mereka kayak ga niat gini.
Cuma tulisan doang. Ga ada video. Ga ada statement langsung dari yang bertanggung jawab.
Gak ada penjelasan kenapa ini bisa lolos. Gak ada akuntabilitas. Cuma damage control yang berasa template dan malah lanjut jualan.
How the fuck was this approved by the higher ups? Did they hire misogynist perverts?
dulu pernah ada yang spill how the brands check the animo.
misalnya ada couple yang potential nih, tapi pas brand ngecheck di X atau IG, ternyata fandomnya toxic, banyak nebar kebencian, itu brandnya bisa gak jadi ambil kerjaan sama si couple itu (c)