HIDUP MAHASISWA
HIDUP RAKYAT
Beberapa tuntutan aksi:
1. Setop pemborosan APBN
2. Turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM
3. Hentikan program MBG dan pembangunan KopDes
4. Hentikan militerisme di ranah sipil
5. Prabowo berhenti mengelak dan mengakui kesalahannya
SAMPAI MENANG ✊🏻
Guys, setelah Prabowo bilang "mau dolar berapa ribu kek, di desa kan enggak pakai dolar" sekarang giliran Ketua Komisi XI DPR Misbakhun yang ikut membela narasi itu.
Dan pernyataannya menurut gue sama berbahayanya bahkan lebih berbahaya, karena ini datang dari orang yang seharusnya mengawasi kebijakan ekonomi negara.
Apa yang Misbakhun katakan:
"Yang terpengaruh adalah transaksi-transaksi yang menggunakan impor, orang-orang kaya yang bepergian ke luar negeri."
Jadi menurut Ketua Komisi XI DPR pelemahan rupiah ke Rp17.600 hanya masalah orang kaya.
Rakyat desa aman.
Rakyat kecil tidak terdampak.
Tenang saja.
Gue mau tanya langsung kepada Misbakhun dan ini bukan retorika:
Bapak pernah makan tempe?
Kedelai untuk tempe itu 90% impor.
Harganya dalam dolar.
Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.600 harga kedelai naik.
Harga tempe naik.
Penjual tempe di desa yang "tidak pakai dolar" itu langsung merasakannya di lapak mereka.
Bapak pernah makan mie instan?
Gandum bahan baku mie instan yang jadi makanan pokok rakyat kecil 100% impor. Dalam dolar.
Petani di desa pakai pupuk apa?
Bahan baku pupuk sebagian besar diimpor.
Dalam dolar.
Rakyat desa sakit, berobat pakai obat apa?
Bahan baku obat generik sebagian besar diimpor dari China dan India. Dalam dolar.
Jadi siapa sebenarnya yang "tidak pakai dolar" itu? Rakyat desa tidak pegang dolar secara fisik.
Tapi seluruh kehidupan mereka dari sarapan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar yang Bapak bilang tidak relevan buat mereka.
Dan ini yang paling menggelikan dari seluruh pernyataan Misbakhun:
Di satu sisi dia bilang rakyat desa tidak terdampak pelemahan rupiah.
Di sisi lain dia bilang: "
Salah satu yang impor yang kita khawatirkan adalah impor dari komoditas-komoditas yang selama ini menjadi penopang pertumbuhan ekonomi."
Jadi dia sendiri mengakui ada komoditas impor yang mengkhawatirkan.
Tapi komoditas impor itu tidak terdampak pelemahan rupiah?
Ini logika dari mana?
Misbakhun ini bukan orang sembarangan:
Dia Ketua Komisi XI DPR komisi yang membidangi keuangan, perbankan, dan perencanaan pembangunan.
Dia yang seharusnya paling paham bagaimana transmisi kurs mempengaruhi kehidupan rakyat kecil.
Dan dia keluar dengan pernyataan bahwa rupiah anjlok hanya masalah orang kaya.
Ini bukan ketidaktahuan.
Ini adalah pilihan untuk membela narasi yang salah demi melindungi citra presiden.
Dan Prabowo sendiri bilang apa di Nganjuk:
"Jadi saya yakin sekarang ada yang selalu entah apa saya enggak mengerti sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa ya kan?"
Presiden mengejek mereka yang mengkhawatirkan kondisi ekonomi.
Menyebutnya tidak dimengerti.
Seolah-olah orang yang peduli dengan rupiah Rp17.600 adalah orang yang lebay dan tidak rasional.
Sementara Prof. Ferry Latuhihin ekonom 40 tahun pengalaman yang prediksinya soal rating downgrade, rupiah ke Rp17.000, dan IHSG ambruk semuanya terbukti memproyeksikan rupiah bisa ke Rp22.000-25.000 di semester kedua.
Siapa yang lebih bisa dipercaya? E
konom yang track record prediksinya benar tiga kali berturut-turut
atau presiden yang bilang "mau dolar berapa ribu kek" sambil memberikan Bintang Jasa kepada Kapolri yang laporan panen jagung?
Dan ini yang paling miris:
Misbakhun adalah Ketua Komisi XI yang tugasnya mengawasi BI dan kebijakan fiskal.
Tapi alih-alih mengawasi secara kritis dia justru memvalidasi narasi presiden bahwa rupiah anjlok bukan masalah rakyat kecil.
Ini bukan fungsi pengawasan.
Ini adalah fungsi humas.
DPR yang seharusnya jadi checks and balances —malah jadi cheerleader.
Ketika presiden bilang rupiah bukan masalah rakyat desa dan ketua komisi keuangan DPR membenarkannya ada dua kemungkinan.
Pertama: mereka benar-benar tidak tahu bagaimana kurs mempengaruhi harga kedelai, gandum, pupuk, dan obat-obatan yang dikonsumsi rakyat kecil setiap hari.
Kedua: mereka tahu tapi memilih untuk tidak mengatakan yang sebenarnya karena lebih penting untuk menjaga narasi presiden tetap terlihat baik.
Dua-duanya sama berbahayanya. Karena di ujung jalan yang membayar harga dari narasi yang salah ini bukan mereka yang duduk di DPR.
Yang membayarnya adalah ibu di desa yang harga tempe naik. Petani yang harga pupuk naik. Rakyat kecil yang obatnya makin mahal.
Dan mereka tidak punya podium untuk balik berbicara.
nenek Warisem (70) udah ilang 2 hari. berhasil ditemukan warga lalu dititpkan ke polsek pasar minggu
respon polisinya cuek hanya bilang "ibunya biarin di situ saja, udah biasa hilang"
anaknya jemput ke polsek pasar minggu tapi si ibu hilang lagi dari polsek
perjalanan pulang, ga sengaja ketemu ibunya lagi duduk di depan toko
kapolsek pasar minggu menegaskan kantor polisi bukan tempat penitipan orang (hilang)
Guys, lu pada tau gak?
Ketua BGN baru aja klarifikasi soal anggaran makan gratis,
tapi jujur ya,
denger penjelasannya
malah bikin gue makin pengen nanya:
Ini Mau Ngasih Makan Anak Sekolah
Atau Mau Buka Toko Elektronik?
Gue beneran gagal paham sama logikanya.
Dia bilang datanya meluruskan tapi buat gue ini mah malah makin bengkok.
Nih, kita pretelin satu-satu biar lu tau yang dia bilang:
1. Laptop 5.000 Unit:
Klarifikasi Dia:
Bukan 32.000 unit kok,
cuma 5.000 unit doang di tahun 2025.
Logika: Woy, Pak! 5.000 unit itu kalau satu laptop harganya 10 juta (standar kantor),
totalnya 50 miliar
Itu baru urusan administrasi doang.
Pertanyaannya:
Ini Badan Gizi atau Call Center?
Emang anak-anak di pelosok kalau laper mau disuapin motherboard?
2. Alat Masak 245 Miliar:
Klarifikasi Dia:
Pagu alat dapur cuma Rp 252 Miliar,
realisasinya Rp 245 Miliar buat 315 titik.
Logikanya:
Berarti satu dapur jatahnya sekitar 780 juta
Lu bayangin,
modal 780 juta cuma buat beli alat masak di satu lokasi?
Itu mah udah bisa buka resto
fine dining di Jakarta Pusat
Rakyat itu pengen liat dapurnya ngebul pake bahan makanan lokal,
bukan liat perabotan dapur seharga mobil mewah yang ujung-ujungnya mungkin cuma dipake buat masak mie instan kalau anggarannya bocor.
3. Bayar EO 113 Miliar
Klarifikasi Dia:
BGN ngaku butuh EO karena internal belum siap.
Logikanya :
Ini paling ngeri.
Lu bikin badan baru
dapet duit triliunan
tapi lu bilang Gue gak siap kerja,
makanya gue sewa orang lain?
Terus gaji lu buat apa?
Rp 113 Miliar cuma buat bayar EO itu pemborosan
Itu duit bisa buat gaji ribuan Ibu-ibu PKK di desa buat masakin anak-anak mereka sendiri.
Kenapa duitnya malah lari ke pengusaha EO di Jakarta?
Bau-bau bagi-bagi jatah proyeknya kenceng banget di sini
4. Drama Kaos Kaki
Klarifikasi Dia:
Itu pengadaan Universitas Pertahanan, bukan BGN.
Logikanya:
Saling lempar tanggung jawab??
klasik Mau Unhan, mau BGN,
itu semua pake DUIT APBN,
duit pajak gue dan lu semua
Publik nanya kenapa program makan gratis ada bau-bau belanja kaos kaki lewat kampus militer?
Jawabannya malah teknis "swakelola".
intinya mah sama aja:
Duit rakyat diputer-puter di antara mereka sendiri sampe kita pusing ngelacaknya
Jangan mau dibego-begoin pake istilah Paguatau Realisasi"
Intinya simpel:
Anggaran makan gratis ini rawan banget lumer di jalan buat beli barang-barang yang gak ada hubungannya sama perut anak sekolah.
Mereka lebih sibuk belanja laptop dan bayar EO daripada mastiin peternak ayam dan petani lokal dapet orderan.
Klarifikasi ini cuma strategi "pemadam kebakaran" biar rakyat bisa tenang sementara, padahal lubang boroknya makin kelihatan.
Gimana menurut lu, Guys?
Masih percaya sama klarifikasi gajelas kayak gini, atau lu ngerasa ada yang lagi pesta pora pake duit makan siang anak-anak?
Modelan kepala SPPG yg menghilangkan hak dua orang penerima manfaat karena orang tua yg bersangkutan memprotes program MBG.
Baru dikasih status pegawai negara aja udah kya gini, gimana klo dia gantiin Nanik S. Deyang..
🇮🇩💔 CNN Indonesia journalist Irene Whardanie broke down live on air from Aceh Tamiang, Indonesia.
After more than three weeks since the disaster, she reported that nothing has meaningfully changed. Children are going hungry, standing by the roadside waiting for food that isn’t coming.
She couldn’t hold back tears seeing the conditions or the slow response.
Residents asked journalists to tell the truth about what’s happening, not to soften it or cover it up.
@tanyakanrl Gausah terlalu sering angkat berita2 sensasi gini. Baru banget baca berita, Pers yg ngeliput kondisi Sumatera terkini dirampas hasil liputannya dan dipaksa hapus permanen gaboleh tayang. Bantuan diaspora dikirim ke Indo utk Sumatera tapi dikenain pajak gede. Angkat isu ini aja.
⚠️ PLEASE STOP SCROLLING AND HELP TO REP, RT THIS. THEY DESERVE TO GET THEIR RIGHTS AS A LIVING CREATURE IN THIS WORLD ⚠️
STOP ABUSING ANIMALS AND EXPLOITING THEM @balaiksda_bali@kemenhut_ri@GakkumKLHK
Betapa mengerikannya seseorang yang menjadikan penderitaan orang lain sebagai panggung.
Ketika ribuan orang berjuang hidup, ada yang justru sibuk memilih angle terbaik.
Yang terjadi di Indo:
-Banjir & longsor
-Orang mati & ilang
-Satwa & orang tergusur
-Satwa terancam punah
Yang dilakukan pemerintah:
-Biarin penebangan & pengerukan ilegal di area konservasi
-Bilang “jangan takut deforestasi”
-Baru naikin status bencana alam di Aceh & Sumut setelah beberapa hari
Gini lah realitanya punya pemerintah pembunuh
There are only around 150 Sumatran elephants left in Tesso Nilo National Park as forest loss for plantations cuts off their home, food, and medicine. (via Kompas)
Tesso Nilo harus diselamatkan sebelum terlambat. Mari bersuara untuk gajah dan seluruh satwa liar yang kehilangan tempat tinggalnya. Mereka berhak hidup aman di habitat yang sejak awal menjadi milik mereka.
#SAVETESSONILO#WeStandForTessoNilo#SelamatkanGajahSumatra
Hanya orang goblok yang membiarkan dirinya dikelilingi orang-orang goblok. Punya akses dan kuasa buat cari orang paling mumpuni tapi tetap memilih dikelilingi mereka yang tanpa kemampuan, ya... emang goblok.