Ada satu orang di kantor temen gue yang gak pernah dikasih kerjaan tambahan. Bukan karena dia males, dan bukan karena dia anak siapa-siapa. Semua orang di situ tau alasannya, tapi gak ada yang mau niru. Waktu gue tanya kenapa, temen gue ketawa. "Karena caranya bikin kita semua gak enak sama diri sendiri."
Orangnya namanya Pak Hendra, umur 45, staf biasa, bukan atasan siapa-siapa. Udah 9 tahun di kantor itu, dan gak pernah naik jabatan. Yang bikin dia beda, dia satu-satunya yang pulang jam 5 tepat, tiap hari. Bukan sekali dua kali. Sembilan tahun. "Dan gak ada yang berani nyindir dia."
Gue nanya, emang gak pernah dikasih kerjaan mepet deadline? "Pernah, dulu. Sekarang enggak lagi." Yang berubah itu satu kebiasaan yang dia mulai dari tahun pertama. Tiap ada kerjaan tambahan masuk, dia gak pernah jawab iya atau enggak di tempat. Dia selalu jawab dengan pertanyaan.
Pertanyaannya selalu sama, dan itu yang bikin orang mundur sendiri. "Ini mau ditaro di mana ya, karena saya lagi pegang A sama B." "Kalau ini masuk, salah satunya mundur. Bapak mau yang mana yang mundur?" Bukan nolak, cuma minta yang minta ikut mikir. "Sembilan dari sepuluh orang milih nyari orang lain," kata temen gue.
Yang bikin caranya gak bisa dilawan, kerjaannya selalu beres. Sembilan tahun gak pernah sekalipun telat deadline. Gak pernah bikin orang lain nunggu, gak pernah nyalahin siapa-siapa. "Kalau kerjaan lo berantakan, cara kayak gitu bakal dianggap ngeles." "Pak Hendra bisa gitu karena dia gak ninggalin celah buat dikomentarin."
Temen gue cerita satu kejadian yang paling nempel. Ada proyek gede, semua orang lembur sampai jam 9 malem selama 2 minggu. Pak Hendra tetep pulang jam 5. Bagian dia selesai duluan, 3 hari sebelum tenggat. "Yang bikin kami semua diem, dia gak pernah minta kami ngakuin itu."
Gue nanya, ada gak sisi ruginya buat dia. "Ada, dan gede." Sembilan tahun gaji dia naiknya cuma ikut kenaikan tahunan. Dua orang yang masuk setelah dia udah jadi atasannya sekarang. "Dia gak dianggap gak becus. Cuma dianggap gak mau lebih." Dan menurut temen gue, itu emang bener.
Yang bikin gue tertarik, Pak Hendra pernah ngomongin ini terang-terangan. Waktu itu ada anak baru yang nanya kenapa dia gak ngejar jabatan. Jawabannya, "Saya udah pernah ngejar. Empat tahun pertama di kantor lain." Dia dulu manajer, kerja sampai malem, dan sempat sakit sampai dirawat. "Waktu saya di rumah sakit, kerjaan saya tetep jalan. Yang gak jalan cuma saya."
Dia keluar dari kantor itu, dan masuk ke kantor sekarang dengan sengaja ambil posisi lebih rendah. Gajinya turun waktu itu, dan istrinya sempat gak setuju. Yang dia bilang ke istrinya cuma satu hal. "Aku bisa cari gaji lebih gede. Tapi aku gak bisa beli tahun-tahun anak kita yang lewat." Anaknya waktu itu umur 6 dan 3. Sekarang yang gede udah kuliah.
Temen gue bilang, yang bikin orang sekantor gak enak bukan Pak Hendra-nya. Tapi kenyataan bahwa dia nunjukin ada pilihan lain. "Kami lembur sambil ngeluh, tapi gak ada yang berani pulang jam 5." "Pas ada satu orang yang berani, kelihatan bahwa selama ini kami milih sendiri." Itu yang bikin gak ada yang niru, walau semua tau caranya.
Gue nanya di akhir, temen gue mau niru gak. Dia jawab jujur, "Belum berani." "Gue masih pengen naik jabatan, dan gue tau harganya." "Bedanya, sekarang gue tau itu pilihan, bukan keharusan." "Dulu gue kira lembur itu cuma bagian dari kerja."
Yang gue bawa pulang dari obrolan itu satu hal. Beban kerja lo sebagian besar dibentuk sama cara lo jawab permintaan, bukan sama isi kontrak. Dan mau ngejar jabatan atau enggak itu dua-duanya sah, asal lo tau lagi bayar pakai apa. Kalau minggu ini ada kerjaan tambahan masuk ke lo, coba sekali aja jangan jawab iya di tempat. Tanya balik, ini mau ditaro di mana, karena saya lagi pegang yang lain. Share ke temen lo yang tiap minggu lembur tapi gak pernah kepikiran itu pilihan.
cc bun.hebat_
tadi pas makan siang di jalan sabang (deket sarinah) aku ketemu Bapak ini, mungkin ada yg lagi butuh jasa Bapaknya, tapi karena udah mau abis waktu maksi ga sempet ngobrol tadi jd aku gatau beliau keahlianya apa lgsg hubungi aja yaa ☺️
cc: evaheva
Suatu hari, neneknya suamiku meninggal. Tadinya hampir sedih berduka karena beliau meninggal.
Tapi kemudian:
1. Bayar jamaah shalat jenazah 50k/orang dikali 50 orang.
2. Bayar jasa orang yg memakamkan, 5jt all in.
3. Biaya tahlilan 2x sehari selama 7 hari. Hari ke-3 dan ke-7 masak-masak buat nasi berkat.
4. Biaya tahlilan hari ke-40, beli buku yasin, beli bingkisan kerudung dan sarung, bayar biaya katering dan pesan nasi box.
Total habis hampir lima puluh juta. Suamiku kebagian sepertinya.
Akhirnya sedih karena berduka, digantikan sedihnya kehabisan uang 😭🙏
Itu baru 40 hari. Masih ada tahlilan 100 hari, setahun, dua tahun, dan tiga tahun.
😭😭😭😭😭😭
Lo biasanya booking hotel lewat Agoda atau Traveloka?
Gue juga dulu gitu. Sampai suatu malam temen gue yang kerja di front office hotel bintang 4 di Bali ngasih satu kalimat yang langsung ngegas otak gue.
Gue tanya: “Kalau gue mau nginep di hotel lo, booking di mana yang paling murah?”
Dia jawab santai:
“Telepon langsung ke hotel. Bilang lo liat harga di Agoda Rp sekian. Minta lebih murah. Kita PASTI kasih.”
Banyak pejuang CPNS hanya fokus ke instansi yang populer seperti DJP, Bea Cukai, atau Kemenkeu. Padahal ada instansi yang jarang dibahas tetapi menawarkan kesejahteraan yang sangat menarik, yaitu PPATK.
Yang membuat PPATK menarik bukan hanya nominal penghasilannya, tetapi juga karakter pekerjaannya yang strategis. Lembaga ini menjadi garda depan dalam analisis transaksi keuangan, pencucian uang, pendanaan terorisme, dan berbagai kejahatan finansial yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi negara.
Fakta yang sering luput dari perhatian, pemerintah melalui Perpres telah menaikkan tunjangan khusus pegawai PPATK. Untuk level tertinggi, tunjangan khususnya bisa mencapai Rp47,5 juta per bulan, jauh lebih tinggi dibanding banyak instansi yang lebih sering dibicarakan publik.
jangan hanya mengejar instansi yang viral. Dalam CPNS, informasi adalah aset. Kadang peluang terbaik justru ada di instansi yang minim sorotan, sepi peminat, tetapi menawarkan karier, pengembangan kompetensi, dan kesejahteraan yang sangat kompetitif.
Bagi yang sedang menyusun strategi CPNS, PPATK layak masuk daftar riset sebelum menentukan pilihan formasi. Bisa jadi “hidden gem” yang selama ini tidak banyak dilirik orang.