Belakangan aku baru sadar kenapa teman aku di Jkt-Bgr beda dg di Pnk. Kalau di Jkt-Bgr mereka menilai aku dari karakter, integritas, value.
Kalau di Pnk menilai aku dari jabatan, manfaat dan harta, itu fake banget.
SDM-nya beda.
Minimal kamu punya satu orang teman dimana kamu merasa sangat berarti baginya. Contohnya, kamu hijrah ke lain kota dia anterin sampai bandara padahal lagi sibuk dan dia lepas kamu dengan tangisan. Suami dan anak2nya juga bahagia melihat pertemanan kalian.
Akhir tahun ssmoga aku bisa ke Bogor, ada teman rasa saudara di Jakarta yang udah kangen sama aku. Kami mau halan2, curhat2, makan2, ketawa-ketiwi menertawakan randomnya hidup.
Tiap chat ditanya : "Kapan ke Jakarta?, kabari ya".
Kata teman aku yang sudah keliling kemana2 : "Semilih2nya akan makanan, minimal sukailah nasi padang. Kita bisa hidup dimanapun di dunia ini jika doyan nasi padang, karena orang padang dan nasi padang ada dimana-mana"
Kalau ada yang ngasi makanan selalu aku bilang enak walau B aja, aku apresiasi karena aku ga suka masak.
Aku sukanya bikin craft yang kebanyakan orang melihatnya mumet.
Sering ada yang nungguin aku pulang kerja lalu ada chat :" Bu aku masak ......, pulang kerja mampir ya biar gosah masak lagi di rumah".
Nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan 🩷
Bagi aku yang penuh rasa syukur ini, semua makanan itu enak. Apapun yang disajikan orang lain aku habiskan dengan suka cita.
Makanya banyak yang nawarin aku makan.
Aku kalau ditanya mau makan apa pas lagi liburan akan dijawab : Apa aja yang ga ada di Pontianak.
Teman aku di Bogor udah pada tahu, makanya disajikanlah yang unik2 dihadapanku.
Kalau kita sehat secara fisik dan mental, mendapat masalah seberat apapun akan dapat kita cari solusinya.
Makanya ada yang bilang sehat itu tak ternilai karena modal awal jalani hidup.