๐ฆ Tweet 4/12
๐ข Teriak "berantas korupsi!" paling keras di podium โย Karena dia tahu persis di mana korupsinya disembunyikan.ย Itu bukan keberanian. Itu alibi.
๐ฆ Tweet 3/12
๐คฒ Tangan yang sama:ย Pagi โ tanda tangani RAB fiktif Siang โ rapat anti-korupsi Malam โ angkat doa tahajudย Allah Maha Tahu mana yang paling sering dilakukan.
๐ฝ lanjut...
๐ฆ Tweet 2/12
๐ฃ๏ธ Yang paling banyak bicara soal kejujuran adalah mereka yang paling tahu betapa menggiurkannya kebohongan.ย Bukan kebetulan. Itu pengalaman hidup.
๐งต THREAD: Koruptor & Ceramah Moralย Satire untuk mereka yang paling lantang bicara bersih โ karena tahu persis di mana kotornya disembunyikan.ย (Baca sampai habis. Yang terakhir paling pedas.)
1/ Negara gagal menunaikan kewajiban, lalu rakyat yang disuruh mengecilkan harapan. Hak hidup layak dipelintir seolah ambisi berlebihan. #jangankaya#mimpiterus
Nilai mata uang pada akhirnya bukan ditopang oleh kertas, melainkan oleh kepercayaan bahwa negara masih dikelola dengan akal sehat, kejujuran, dan tanggung jawab. Begitu kepercayaan itu retak, yang melemah bukan cuma uangโtapi juga wibawa kekuasaan. @DPR_RI@prabowo
Krisis ekonomi tidak selalu dimulai dari pasar. Sering kali ia dimulai dari penguasa yang merasa narasi bisa menggantikan kenyataan, statistik bisa menenangkan keresahan, dan pencitraan bisa menunda akibat. Padahal rakyat merasakan krisis jauh lebih cepat. @prabowo@DPR_RI
Mata uang tidak runtuh lebih dulu karena angka. Ia runtuh ketika negara kehilangan kejujuran, kekuasaan lebih sibuk merawat citra daripada realitas, dan loyalitas politik dianggap lebih penting daripada akal sehat. Saat kepercayaan publik ambruk, uang tinggal simbol tanpa wibawa.
3/3 Pendidikan kita tidak butuh pergantian nama yang mengada-ada. Fokuslah pd kualitas riset, fasilitas, dan kesejahteraan pendidik. Mengubah "Teknik" ke "Rekayasa" tidak otomatis menaikkan peringkat universitas kita. Hentikan "rekayasa" istilah, mulai-lah membenahi substansi!
2/3 Secara bahasa, "Rekayasa" di ruang publik Indonesia punya konotasi negatif (rekayasa kasus, rekayasa politik). Mengapa kita tinggalkan kata "Teknik" yang secara historis sudah mapan sejak era ITB (Technische Hoogeschool)? Perubahan ini terasa sekali letterlijk-nya
1/3 Fenomena perubahan nomenklatur program studi dari "Teknik" ke "Rekayasa" di berbagai universitas Indonesia sungguh sangat menggelitik logika akademis. Apakah ini langkah maju atau sekadar proyek kosmetik birokrasi yang minim substansi?
5/5 Memang rakyat kita masih banyak yang mempan sama pencitraan receh. Tapi satu hal yang harus kita sepakati: Semua orangโdari kuli bangunan sampai ibu RTโpunya hak buat ngomel ke pemerintahnya. Itu tanda negara masih sehat! ๐ข
4/5 Jangan pakai gaya "netizen dangkal" yang kalau mentok langsung alihkan isu ke hal nggak penting biar substansinya dilupakan. Rakyat butuh solusi dan transparansi, bukan drama soal siapa yang boleh bicara dan siapa yang nggak.
3/5 Buat pejabat: kalau dikritik soal ekonomi 5%, defisit menggila, atau Rupiah tembus 17rb, ya JAWAB pakai data. Mana fakta yang salah? Luruskan! Itu tugasnya, bukan malah sibuk merasa tersinggung atau ad hominem.
2/5 Kalau kamu netizen yang baperan lihat pejabat dikritik, mending unfollow atau mute biar tenang. Tapi kalau kamu malah marah-marah lihat orang nyinyir ke pemerintah, fix kamu yang "eror". Demokrasi kok minta semua orang setuju? Kocak. ๐คฃ
1/5 Di negara demokrasi bernama Indonesia, siapa pun BERHAK jadi pengamat, kritikus, atau bahkan "nyinyirus". Mau asbun atau nggak berbobot? Boleh! Itu prinsip dasar. Nggak perlu ada sertifikasi untuk sekadar berpendapat soal nasib bangsa. #Demokrasi ๐ฎ๐ฉ
3/
Intelektualitas adalah senjata utama. Di balik jubah tradisional, terdapat teknokrat genius yang percaya bahwa: Kedaulatan Teknologi lahir dari Kedaulatan Pendidikan. Mereka melawan rudal miliaran dolar dengan drone "recehan" yang jauh lebih efektif.