Ideologi degrowth di Jerman menyebabkan transisi energi terbalik, yaitu energi nuklir diganti dengan energi batu bara.
Oleh policymaker degrowth, 37 unit PLTN yang sudah puluhan tahun beroperasi tanpa insiden tiba-tiba ditutup lalu didinamit.
Setelah kapasitas energi nuklir dihancurkan di Jerman, para elite nepo baby SJW itu kemudian terkejut, karena suplai energi listrik di Jerman tiba-tiba anjlok dan menyebabkan kelangkaan listrik dan krisis ekonomi.
"Lho, kok, setelah semua PLTN ditutup, tiba-tiba tidak ada listrik?" Para degrowther Jerman itu terkaget.
"Hmm,tinggal ganti ke energi matahari ga sih?" Nah, coba kita cek bagaimana posisi geografis Jerman. Apakah banyak terkena matahari tropis sepanjang tahun? Oh? Waduh. Hehe.
SJW-SJW libtard degrowth nepo baby yang berkuasa ini kemudian panik dan akhirnya terpaksa mengganti suplai listrik yang hilang dengan batu bara untuk mencegah economi collapse di Jerman dan Eropa ala Krismon 1998 karena kelangkaan energi listrik.
Kebetulan Jerman memang beruntung punya banyak cadangan batu bara open pit, yaitu hamparan tanah hutan dan pertanian luas kabupaten dibongkar jadi tambang batu bara.
Sebenarnya para SJW degrowth nepo baby ini tidak terlalu peduli apabila krismon. Tetapi mereka masih punya survival instinct, dan paham bahwa apabila pasokan listrik tidak pulih dan menyebabkan krismon, rakyat Jerman akan turun ke jalanan Berlin untuk merusuh dan memotong kepala dan menyate kepala para elite penguasa SJW ini di ujung pagar Bundestag.
Fine. Batu bara it is. Bakar.
Akibatnya, polusi udara dan emisi karbon Jerman jadi sangat buruk karena polusi PLTU batu bara yang aktivitasnya sangat bertambah, karena degrowth.
Lingkungan alam semakin rusak dan pemanasan global pun semakin rusak karena degrowth.
Secara ekonomi, damage nya terlanjur terjadi. Harga listrik jadi mahal dan mencekik. Puluhan juta rumah tangga tercekik. Ribuan pabrik manufaktur Jerman yang sudah keteteran melawan China juga tercekik harga listrik. Karena degrowth.
Inilah bahaya ekstrem ideologi degrowth, yaitu kebencian irasional dan emosional terhadap kemajuan peradaban dan inovasi manusia. Evolusi terbalik. Manusia berevolusi jadi monyet, kemudian monyet berevolusi menjadi ikan. Demikian nuklir berevolusi menjadi batu bara karena degrowth.
Dalam psikologi sosial, sentimen kelompok kognitif rendah terhadap kognitif tinggi, bisa disebut dengan Anti-Intelektualisme. Kelompok yang merasa tertinggal secara kognitif atau pendidikan sering kali mengembangkan rasa tidak percaya atau permusuhan terhadap kelompok "elit intelektual."
Menurut Social Identity Theory (Tajfel & Turner), setiap kelompok berusaha mempertahankan citra positif tentang diri mereka. Ketika kelompok kognitif tinggi dianggap sebagai standar "kesuksesan," kelompok lain mungkin merasa terancam secara psikologis.
Kelompok kognitif rendah sering memandang kelompok kognitif tinggi sebagai sosok yang sombong, tidak praktis, atau tidak peka terhadap realitas hidup orang biasa. Hal ini menciptakan jarak emosional yang memicu kebencian.
Untuk menyeimbangkan rasa rendah diri kognitif, kelompok ini sering menekankan nilai-nilai lain seperti "moralitas," "kejantanan," "akal sehat (common sense)," atau "kepatuhan pada tradisi" sebagai bentuk keunggulan mereka atas kelompok intelektual.
Penelitian oleh Hodson dan Busseri (2012) menunjukkan adanya korelasi antara kemampuan kognitif yang lebih rendah dengan tingkat prasangka yang lebih tinggi terhadap "outgroups" (kelompok luar).
Hal ini dikarenakan individu dengan kognitif rendah cenderung lebih menyukai struktur yang kaku dan hierarki sosial yang jelas untuk merasa aman di dunia yang kompleks.
Kritik yang logis memaksa seseorang untuk berpikir lebih keras (cognitive strain). Menyingkirkan pengkritik intelektual adalah cara termudah bagi kognitif rendah untuk kembali ke kondisi "nyaman" di mana keyakinan mereka tidak dipertanyakan.
Jika dominasi kelompok rendah didasarkan pada dogma atau narasi tertentu, maka intelektualitas adalah ancaman eksistensial. Menyingkirkan intelektual adalah bentuk mekanisme pertahanan diri kelompok.
Kelompok kognitif tinggi akan diberi label negatif seperti "elitis," "sok tahu," "tidak nasionalis," atau "pengkhianat rakyat." Ini bertujuan untuk merusak kredibilitas mereka di mata publik sebelum argumen mereka sempat didengar.
Dalam organisasi atau pemerintahan, kelompok mayoritas mungkin menerapkan sistem seleksi yang lebih mengutamakan loyalitas dan keseragaman daripada kompetensi atau kecerdasan. Orang-orang cerdas yang kritis sengaja tidak diberi ruang agar tidak "mengganggu" arus utama.
Ketika kelompok kognitif rendah berhasil menyingkirkan pengaruh kelompok kognitif tinggi, masyarakat tersebut biasanya mengalami fenomena yang disebut The Race to the Bottom atau kemunduran standar.
Karena kritik dianggap sebagai gangguan, tidak ada ruang untuk perbaikan. Kesalahan yang sama diulang terus-menerus karena tidak ada yang berani (atau mampu) mengoreksinya.
Individu-individu cerdas di dalam kelompok tersebut akan memilih untuk diam (silent majority) atau pergi ke lingkungan lain yang lebih menghargai kecerdasan (brain drain), yang pada akhirnya semakin memperlemah kelompok tersebut.
Ini hampir mirip dengan kejadian tahun 60-an di mana 1 generasi intelektual hilang hanya gara-gara politik "kelompok kognisi rendah."
Tidak disangka, hari ini kita akan mengalaminya lagi. 1 generasi dipersekusi, diusir, dan akan "hilang" digantikan dengan perut yang kenyang (MBG).