Ayok naikin hastag dan bantu up semuanya
Kita perlu berisik untuk negara Indonesia yang terdampak gempa bumi dan kebakaran dimana-mana
#PrayForIndonesia#AllEyesOnIndonesia
belum genap 2 minggu hari gajah sedunia
Satwa gak pernah jahat, mereka cuma berusaha bertahan hidup di bumi yang makin diserakahi manusia.
Up terus beritanya biar isu perlindungan hutan gak makin redup!
selepas ini semua, yuk kita mulai aware dan kasih sayang yang luas buat hutan dan penghuninya.
terutama gajah.
gajah ini teman-teman, buat yang belum tau ya, mereka lah sarjana kehutanan tanpa ijazah.
selain sarjana kehutanan, mereka pun arsitek dari hutan. mereka yang buat hutan sedemikian rupa sehingga beragam jenis tumbuhan dan penghuni di dalamnya.
gajah, saat dia melintas di hutan, tubuhnya yang besar itu suka melewati pohon-pohon atau buah tertentu.
nah, kadang, saat dia lewat itu, nyelip atau nyangkut lah pohon atau benih di tubuh dan kakinya.
jatuh pohon itu, dipijak gajah di belakangnya lagi, tertanam bibit. setahun, dua tahun, tiga tahun, tumbuhlah pohon baru. begitu seterusnya sampai hutan menjadi bagus.
begitu juga dengan orangutan, harimau, tapir, rusa, mereka ini memang lah gabisa bicara, tapi mereka "membangun" itu semua siang malam.
tiba manusia tau harga pohon, harga tanah, harga gading, harga kulit harimau, manusia datang merusak semuanya, dzalim.
bumi ini, tanah negara ini, pun rumah mereka. tempat mereka hidup dan mereka punya hak untuk hidup aman dan nyaman. usah dirusuhi.
jangan lagi rakus, cukup-cukup lah dengan yang udah, jangan diteruskan.
Telah nyata kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia. (QS 30:41)
Catatan reflektif tentang bencana…
Rangkaian badai, tanah longsor, banjir bandang, gunung meletus, hingga satwa yang kelaparan belakangan ini jangan hanya kita pandang sebagai musibah alam, tetapi wajib dipandang sebagai cermin diri.
Badai, hujan lebat, gunung meletus, adalah peristiwa alam yang telah berlangsung jutaan tahun. Namun, kita memperparah dan mengubahnya menjadi bencana ketika kita memperlakukan alam tanpa etika. Tata ruang dilanggar, hutan ditebang habis, pesisir dicemari, habitat satwa dihancurkan.
Ingat kan di masa kampanye lalu kita pernah sama-sama membahas tentang pentingnya tobat ekologis, yaitu mengakui dosa kolektif kita pada bumi, lalu mengubah cara kita hidup dan cara negara mengelola kuasa?
Kita perlu mengakui bahwa kerusakan ini adalah hasil pilihan kolektif, mulai dari kebijakan yang lemah, mengabaikan analisis risiko, pengawasan yang longgar, serta ketidakpedulian ketika aturan dilanggar demi keuntungan jangka pendek yang hanya dinikmati sebagian orang.
Hari ini kita harus jujur bahwa kita terpaksa hidup berdampingan dengan bencana. Terlalu sulit untuk mencegah semuanya. Iklim sudah berubah, bentang alam sudah banyak dilukai. Namun, kita masih bisa mengurangi risikonya, sembari terus berusaha memperbaiki kerusakan alam.
Caranya, dengan tata kelola yang transparan, penegakan hukum yang tegas, gaya hidup yang lebih ramah bumi, keberanian berkata “tidak” pada proyek yang merusak, serta mendidik dan membiasakan mitigasi bencana secara serius bagi seluruh masyarakat.
Ini mungkin unpopular opinion: bumi tidak peduli pada kita, dan bumi tidak butuh kita peduli padanya. Bumi akan terus berputar, dengan atau tanpa manusia. Yang sedang terancam punah bukanlah planetnya, tapi keberlangsungan hidup kita sendiri. Maka kitalah yang butuh peduli pada bumi.
Tobat ekologis, sebuah pengingat dari Paus Fransiskus, adalah upaya yang harus kita jalankan untuk mengembalikan batas. Batas serakah, batas abai, batas melanggar aturan. Demi bumi yang lebih layak dihuni untuk anak dan cucu kita semua. •••