"jangan normalisasi suicide"???? okay, then don't normalize cheap labor. unpaid labor. expensive healthcare and mental healthcare. inaccessible education. poor government planning. terrible government decision making. abusive family dynamics. ITU SEMUA NGARUH KE BUNDIR!!
ALL EYES ON INDONESIA.
Aceh ➝ Belum Pulih
Padang ➝ Banjir Bandang
Kalimantan ➝ Kebakaran
NTT ➝ Gempa 7,7 SR
Papua ➝ Kebakaran
Desa Sade (NTB) ➝ Kebakaran
Way Kambas (Sumatera) ➝ Kebakaran
#PrayForIndonesia
Menurut saya, untuk jadi dokter dan dokter spesialis itu kebutuhan utamanya tetap di klinis
Keahlian menulis ilmiah untuk publikasi di jurnal adalah nomor sekian
Kecenderungan untuk menambah nilai masuk PPDS kalau sudah publikasi buat apa kalau nanti jadi dokter spesialis tidak ada jobdesc penelitian?
Berbeda halnya kalau bekerja di FK/RS akademik. Kalau cuma di RSUD, buat apa menjadi ahli publikasi artikel jurnal?
Lucu ya, kalau diresapi lagi, ternyata selama ini gue bener-bener sendirian. Gue pikir lingkaran pertemanan gue luas, tempat mengadu gue banyak, dan nama gue cukup diingat. Tapi itu cuma ilusi. Gue cuma kenal banyak orang, bukan punya temen yang bener-bener tempat pulang. Sering banget gue ngerasa deket sama banyak jiwa, saling tukar cerita, tertawa sampai larut, tapi di ujung hari, saat riuh itu reda, gue sadar nggak ada satu pun dari mereka yang sudi jadiin gue prioritas. Not a single person would choose me first. Gue cuma ada saat mereka butuh penengah, pendengar, atau sekadar pengisi kekosongan. Begitu mereka selesai, gue kembali jadi sosok yang terlewatkan. Ternyata emang dari dulu gue tuh nggak pernah penting buat siapa pun wkwk, cuma gue aja yang ke-PDean ngerasa dianggap.
meski gue hopeless romantic level akut, gue nggak akan nganggep seorang cowo baper sama gue kecuali dia bilang sendiri scr langsung bahwa, "CHELL, LU PEKA DIKIT NAPA SIH. GUE SUKA SAMA LU ANJER." gitu