Aku sudah pernah berbaju orange
Aku tidak pernah membayangkan akan sampai di titik ini.
Memakai baju orange, berdiri di tengah kerumunan, dilihat banyak mata, seolah hidupku diringkas menjadi satu warna. Tapi kalau mereka mau tahu, ini bukan awal dari ceritaku. Ini hanya satu potongan kecil dari jalan panjang yang sudah kupilih, sadar atau tidak.
Baju orange ini,
Yang sering diteriakkan buzzer dan termul untuk menghinaku
Ketika dia ku sandang di tubuhku, justru
Seperti baju zirah yang membungkus perjuanganku.
Baju orange ini, di tubuhku adalah tanda perlawanan terhadap kebohongan, kepalsuan, kezaliman.
Tanda bahwa aku terus berdiri tegak dan senyuman karena aku tahu nilai apa yang terkepal di tanganku.
Aku hanya berjalan dengan apa yang kupercaya. Kadang langkahku pelan, kadang aku ragu, tapi aku tidak pernah benar-benar berhenti.
Aku tahu, apa yang kusuarakan tidak selalu nyaman untuk didengar. Bahkan mungkin membuat sebagian orang terusik. Tapi bagaimana aku bisa diam, kalau hatiku sendiri tidak bisa diajak kompromi?
Di balik senyum ini, ada banyak hal yang tidak terlihat. Ada lelah, ada takut, ada pertanyaan yang tidak selalu punya jawaban. Tapi ada satu hal yang selalu kutahan kuat-kuat: aku tidak mau kehilangan diriku dan menggadaikannya demi kenyamananku.
Hari iitu, melihat aku berbaju orange, mungkin banyak orang iba padaku, menangisiku.
Tapi di dalam diriku, muncul bara api membara seterang baju ini.
Yang membuatku tetap utuh dalam langkahku dan berkata:
Kalau ini memang harus aku jalani, ya sudahโฆ aku jalani.
Bukan untuk membuktikan apa-apa ke dunia. Tapi supaya nanti, saat aku melihat ke belakang, aku tahu,
aku tidak pernah mengkhianati kebenaran yang kuyakini.
PERNYATAAN DR TIFA
Saya tegaskan bahwa saat ini saya tidak termasuk dalam barisan pihak yang menginginkan pemakzulan Presiden Prabowo Subianto.
Oleh karena itu, apabila terdapat gerakan, pernyataan, atau aktivitas apa pun yang menggunakan nama maupun foto saya untuk tujuan tersebut, maka hal itu dilakukan tanpa sepengetahuan dan tanpa izin saya.
Sikap saya dalam perjuangan ini jelas dan tidak pernah berubah: MENEGAKKAN KEBENARAN.
Itulah landasan saya dalam upaya mengungkap fakta terkait ijazah Joko Widodo serta menelusuri riwayat pendidikan Gibran Rakabuming Raka.
Namun perjuangan saya bukan perjuangan politik, dan sekali lagi saya tegaskan, tidak berada dalam agenda pemakzulan Presiden Prabowo Subianto.
Saya berdiri sebagai peneliti dan aktivis, bukan politisi, bukan oposisi, dan tidak menjadi bagian dari manuver kekuasaan mana pun.
Apa yang saya lakukan adalah bagian dari komitmen moral dan intelektual:
tegak dalam gerakan Amar Makruf Nahi Munkar.
Karena bagi saya, kebenaran tidak tunduk pada kekuasaan,
dan keadilan tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan.