Percuma saja cek kesehatan fisik dan psikis internship kalo peraturan internship tidak dibalikin ke awal
Stop gunakan internship untuk menambal kekurangan dokter
Kembalikan ke murni pemahiran dan pemantapan kompetensi
Nakes kurang itu urusan Pemda dan Kemenkes
Sebagai dokter, saya cukup prihatin mengetahui makin banyak anak muda menganggap vape lebih aman dibanding rokok. Padahal anggapan itu terbantahkan oleh studi dari Manchester Metropolitan University, dipublikasikan di jurnal ERJ Open Research pada Juli 2026.
@KakakMade@drnewstwit Pertanyaannya:
1. SDM, fasilitas dan peralatan sudah sangat siap?
2. Masyarakat sebagai pasien dan keluarganya sudah paham untuk ikuti anjuran juga instruksi dari dokter, perawat juga nakes penunjang pelayanan?
Jadi mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan,
"Apakah rumah sakit siap dinilai dari outcome?"
Tetapi,
"Apakah sistem kesehatan Indonesia sudah siap membantu rumah sakit menghasilkan outcome terbaik?"
Karena mutu pelayanan tidak pernah dibangun oleh rumah sakit sendirian.
Saya setuju outcome harus menjadi tujuan.
Tetapi outcome seharusnya menjadi hasil dari sistem kesehatan yang baik, bukan sekadar alat untuk menilai rumah sakit.
Kalau fondasinya belum kuat, kita berisiko menghukum fasilitas kesehatan atas sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendali mereka.
Akreditasi rumah sakit nanti akan dinilai dari angka kesembuhan pasien.
Kedengarannya masuk akal.
Tapi bagaimana kalau rumah sakit sudah melakukan semuanya dengan benar... namun pasien tetap datang terlambat?
Apakah itu tetap salah rumah sakit?
Karena berkecimpung di dunia management RS saya ingin membahas ini.
Sebuah utas. 🧵
Inimah Kemenkes maunya hasil baik tapi support minus
Minimal besaran klaim BPJS itu perbaiki dulu, kriteria BPJS itu gak bikin aturan “kegawatan” sendiri
Lha pasien kalo gak parah gak bisa terklaim mau ngejar angka kesembuhan kek mana
The UN said Israeli settlers have carried out more than 1,330 attacks in the occupied West Bank since the start of 2026, causing casualties and damage to Palestinian property.
Informasi aja nih. BPJS itu punya Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) yang diamanahkan ke Puskesmas buat dijalankan bagi penderita penyakit kronis kayak diabetes dan hipertensi. Dan senam itu masuk dalam kegiatan preventif dan promotifnya.
Kalau dilaksanakannya hari minggu, kapan kami bisa libur Ya Allah 😭
Bayangin, tanganmu diborgol, kakimu diiket, terus kamu diceburin ke waduk. Ngga ada yang liat seberapa tersiksanya kamu waktu air mulai penuhin paru paru. Ngga ada yang liat seberapa putus asanya kamu waktu matamu masih bisa natap matahari dan langit biru, tapi kamu sadar, kamu ngga bisa ngapa ngapain. Alm Bapak Sumarna, security Waduk Jatiluhur yang meninggal. Dia meninggal karena berupaya membubarkan kerumunan anak muda tapi dia dilakban dan diceburkan ke waduk. Jasadnya baru ditemukan jam 11.00 Katanya para pelaku masih SMP
semoga seluruh pelaku segera ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku. @prabowo@ListyoSigitP@DivHumas_Polri@DediMulyadi71 bantu di followup bang budi @BudiBukanIntel
Betul pak..
Poin 1-3 memang itu bukan ranah personal tapi sistem. Poin 1-2, ketimpangannya nyata banget. Beda thp antara dosen asn dan non asn. Di swatas bahkan gaji pokok sesuai umr daerah masing-masing aja alhamdulillah. Kalau serdos pun tidak bisa langsung. Harus menunggu dan ikhtiar sampai eligible. Poin 3 bisa meningkatkan thp tp juga gak tiap bulan hahaha
Ditambah lagi, ada beberapankampus yg nggak ngecover bea publikasi dosennya. Tp nuntut publish ke jurnal inter bereputasi.
Jadi riil dosen non asn swasta di daerah dengan gaji setara umr harus pontang-panting ngiritnya buat bisa publish itu adaaa
Funfact: Harga berobat di Indonesia itu mahal banget, karena masih banyak impor obat dan alat.
Caranya biar tetap terjangkau via BPJS Kesehatan adalah dengan tenaga kesehatan dan tenaga medis yang 'underpaid', padahal bebannya besar, dengan berbagai cara, termasuk menolak klaim (padahal bisa jadi pasien sudah sembuh).
Jadi ada eksternalitas biaya yang ditanggung karyawan dan (kadang) manajemen rumah sakit. Ada pula yg disuruh balikin duit dari berbulan2 lampau, dengan alasan ditemukan kesalahan saat diaudit atau reaudit.
Ada oknum yang coba cari untung dg melakukan fraud. Ada juga yang ga tegaan, sehingga keluar biaya lebih besar dari klaim. Banyak yang mencoba nego agar nilai klaim dinaikkan, tapi ya blm ngejar dolar yang melesat tinggi.
Perlu diakui masih ada yang terang2an jutek ke pasien BPJS ya karena jumlahnya banyak banget, pasien taunya diperiksa dan dapat obat, tanpa tau bisa aja itu 'gratis' karena gagal klaim. Maka minimal ucapin terimakasih kalau sudah dilayani. Jangan jahat sama mereka. Sabar2 ikut alur pelayanan, yang juga melelahkan bagi petugas kesehatannya, yang kadang gonta-ganti dan sukar dipahami.
Kalau mau komplen, komplen ke petugas BPJSnya.
Innalillahi wa inna illaihi rojiun.
Sungguh saya merasa sangat kehilangan, karena saya mengenal dekat almarhum dr. M. Zulfikar Drakel, M.Res, yang selalu ceria, pintar, rajin, dan teliti, serta istiqomah dalam bekerja.
Tak sedikit kontribusi yang telah almarhum …
Belum, korpri cuman hadir dibaju yg kita pakai pas tgl 17 dan hari penting, hadir dalam bentuk pin, hadir dalam bentuk iuran.
Tapi apakah korpri hadir ketika ada asn nya yang meninggal misterius, dimutasi tiba-tiba, diturunkan jabatannya ???
Apakah korpri tau kenaikan gaji 8% itu tidak sebanding dgn inflasi yg menyentuh 12% ???
Apakah korpri tau kalo tunjangan beras dalam gapok asn itu cuman 70'an rb untuk 10 kg beras ???
Apakah korpri tau kalo asn lebih banyak mengerjakan tusi pimpinan daripada tusi jabatannya sendiri ??
Apakah korpri tau klo izin cuti tahunan asn itu tidak mudah didapat dan malah dipersulit ???
Apakah korpri tau kalo asn banyak yang kerja lembur tanpa dibayar upah lemburnya ???
Apakah kopri tau kalo uang lauk pauk itu cuman berlaku di intansi pusat, intansi daerah tutup mata ???
Apakah korpri tau kalo masih ada kesenjangan tpp di daerah padahal masih satu intansi untuk jabatan guru dan nakes ???
Lebih tepatnya adalah HILANGKAN semua KEWAJIBAN POSTING untuk SELURUH tahapan pendidikan dasar, dari TK-SMA.
Sekolah membuat tugas yg harus diposting di sosmed aja udah salah. Terus nilainya dari like?? Arti pendidikan kok direduksi jadi likes.
Termasuk ini, bisa dikategorikan menyuruh apalagi memaksa untuk ikut posting identitas/asosiasi sekolah dengan identitas/personal itu udah marketing lho. Soft marketing, dan EKSPLOITASI anak bawah umur.
STOP TUGAS POSTING foto yg mengandung wajah DI SOSMED untuk pendidikan dasar!!!
Tuberkulosis itu bukan penyakit turunan. Yang menular itu bakterinya, bukan gennya. Penyakit ini memang lebih sering menyebar di antara anggota keluarga karena risiko penularan tinggi pada kontak serumah, bukan karena genetik atau riwayat kesehatan keluarga. Begitu ya.
Kalau mau tau gak adilnya gaji dosen
Jadi gini, gaji dosen itu: Gaji Pokok + A + B + C + D + ...
Jangan tanya ke dosen yang sedang pegang jabatan atau di tengah karir. Mereka mah A, B, C, D-nya banyak.
Masalahnya: A, B, C, D-nya ini:
1) Gak didapat dengan mudah
2) Bisa hilang
3) Gak aksesibel ke semua orang
Tanya ke 2 kelompok: dosen muda dan dosen yang mau pensiun.
***
Tanya ke dosen muda. Yang baru masuk. Yang dapetnya Gaji Pokok doang. A, B, C, D, ... -nya belum ada.
Yang baru nikah, baru punya anak, baru bayar anak sekolah. Yang baru masih punya master, belum punya doktor.
Mereka masih harus nyiapin biaya lahiran, ngerawat anak, uang masuk TK, bayar sekolah SD.
Masih harus nyiapin uang buat tugas belajar buat dapet S3. Beasiswa cari sendiri. TOEFL dan TPA bayar sendiri.
Tunjangan belum ada. Jabatan fungsional pertama ngurusnya bisa tahunan. Kalau dapet tunjangan Asisten Ahli masih 375 ribu.
Sertifikasi dosen belum bisa. Harus Asisten Ahli dulu. Itu pun harus 2 tahun setelah memenuhi BKD. Masih harus bayar training Pekerti/AA pake duit pribadi dulu.
Insentif publikasi? Duit publikasi dari mana? Risetnya dibayarin siapa? Waktunya kapan kalau buat bertahan hidup aja susah.
Proposal riset? Minimal harus udah Lektor biasanya. Biar bisa riset harus lektor. Biar bisa lektor harus riset.
Jabatan di kampus? Mesti berpolitik, ngemeng sana, ngemeng sini.
Semua A, B, C, D itu belum ada.
Pertanyaannya: apakah boleh dosen muda yang menerima gaji pokok doang ini digaji di bawah UMR secara legal?
***
Kelompok kedua: dosen yang sudah sangat senior.
Di mana A, B, C, D - ... nya sudah tidak kepegang lagi.
Jabatan sudah kena regenerasi ke yang lebih muda. Hilang tunjangan jabatan struktural.
Kondisi kesehatan sudah jauh menurun. Mesti pasang cincin jantung, mesti rutin cuci darah, mesti dirawat di rumah sakit. Keluar biaya banyak.
Banyak dosen senior yang sampai minta donasi ke koleganya, untuk perawatan.
Mau publikasi juga udah gak kuat. Ilmu yang dipelajari udah gak lagi update. Mau belajar lagi udah gak sehat. Insentif publikasi udah gak masuk lagi.
Mau proyekan juga kondisi udah gak memungkinkan. Bolak-balik Jakarta ke kota kampusnya udah gak kuat lagi. Kalau dipaksain memperburuk kondisi kesehatan.
Tabungan udah dipakai buat hidup, nyekolahin anak, nguliahin anak, yang jumlahnya lebih dari satu. Tiap anak biaya sekolah makin naik, UKT terus naik.
Tinggal gaji pokok doang, paling sama sertifikasi. Dengan UMR yang terus naik, paling juga udah di bawah UMR setahun dua tahun lagi.
Pertanyaannya: apakah boleh dosen senior menerima gaji pokok + sertifikasi doang ini digaji di bawah UMR secara legal?