“Kalau kalian tidak merasakan ini, kalian tidak akan jera, kan?” Sepatunya menekan dada orang itu, senyumnya melebar, nyaris seperti anak kecil yang menemukan mainan baru.
Lalu, ia menatap sisanya. “Maju kalian. Ku-habisi semua.”
⤵
"Mau kabur, atau mau dihajar?"
Akira menunduk, menyembunyikan sorot matanya yang kini sudah tajam. Tangannya gatal ingin memukul, tapi ia menahan diri. Bukan waktunya, dia masih harus menunggu kode dari rekan lainnya.
( @dienightingale )
Ia mencoba lewat pelan, berharap cukup meyakinkan sebagai anak sekolahan yang menumpang jalan. Tapi langkahnya terhenti saat salah satu dari mereka maju, menepuk dadanya.
"Mau ke mana, bocah?!"
Dorongan kasar menyusul, memaksa Akira mundur setengah langkah.
⤵
Misi kali ini cukup menyulitkan. Tapi melihat semua masih bisa berdiri, masih bisa tertawa, Akira pun bisa menarik napas lega. Tidak ada yang terluka parah, dan itu saja sudah cukup membuatnya tenang.
⠀⠀⠀⠀( END )
Ia menyapu pandangan ke sekitar, memastikan tak ada satu pun barang yang tertinggal.
Setelah yakin, ia melangkah mendekat, lalu mengangkat Ayane dengan hati-hati—satu lengan menopang punggung, satu lagi menyangga lututnya agar tubuh gadis itu tidak terjatuh.
⤵
Namun tak ada lagi bayangan hitam yang mengendap, tak ada ilusi yang membelenggu pandangan seperti sebelumnya.
Pelan, ia melempar sekop itu ke tanah, membiarkannya jatuh begitu saja. Beratnya tak lagi perlu dipikul.
"Sepertinya berhasil..."
( @lostinddream )
@nightlyechoes Akira menunggu, sejenak saja. Menghitung dalam hati, mengasah indranya agar tetap waspada.
Hening. Terlalu hening.
Hanya desir angin yang menggugah dedaunan dan napas mereka yang masih tersengal—jejak dari kecemasan yang belum benar-benar pudar.
⤵
“Aku akan berusaha secepat mungkin menimbun semua bekasnya.” Ucapnya sebelum kembali berjongkok, siap menutup luka yang ditinggalkan tanah terkutuk itu.
Tanah, darah, semuanya harus dikuburkan secepatnya.
( @lostinddream )
Lalu, matanya beralih ke Ororon, “terima kasih, Ororon.” Ucapannya tulus.
Karena jika bukan karena suara panah itu—dan teriakan memekik yang mengikutinya—ia mungkin masih terjebak dalam kabut ilusi.
⤵