Pernyataannya mengandung sesat pikir ad hominem (menyerang personal pengkritik), false dilemma (dana pribadi dianggap menghapus akuntabilitas), dan overclaim (klaim investasi instan). Tindakan ini didorong oleh in-group bias dan halo effect yang memicu loyalitas buta.
Teddy ini men-downgrade kualitas PR istana. Komunikasi publiknya buruk, cenderung ad hominem!!
Cara Teddy ngomong soal perjalanan dinas Pak Prabowo makin ke sini kok makin aneh.
Bukannya nenangin publik, malah kayak buzzer medsos yg sibuk muter narasi.
Katanya Pak Prabowo pakai uang pribadi biar negara hemat. Lah rakyat malah makin bingung, ini negara dikelola pakai sistem apa pakai dompet pribadi.
Negara itu ada aturan dan mekanismenya. Bukan kalau APBN seret terus pejabat nombok sendiri.
Kalau begitu caranya, nanti semua jadi campur aduk. Uang negara sama uang pribadi jadi nggak jelas batasnya.
Kalau sudah begitu, nanti repot pas audit. BPK pasti nanya aliran dana dan accountability-nya bagaimana.
Yang bikin orang makin geleng kepala itu jumlah rombongannya. Katanya sekali lawatan bisa sampai sekitar 60 orang.
Lah kalau mau hemat ya jangan bawa orang sekampung. Masa bilang efisiensi tapi delegasinya kayak rombongan wisata.
Rakyat sekarang juga nggak bodoh. Orang bisa lihat mana penghematan beneran, mana cuma framing.
Claudia Sheinbaum saja pernah bilang pengawalnya sekitar 10 orang. Dia malah nggak suka pengamanan yg terlalu ramai dan penuh gaya.
Di Italia, Giorgia Meloni juga sering tampil dengan delegasi yg lebih ramping. Orang yg dibawa seperlunya saja sesuai agenda.
Bahkan beberapa kepala negara di Eropa sekarang banyak yg pilih VC atau video conference buat rapat bilateral tertentu.
Di Finland dan Estonia, komunikasi antar pemimpin sering dilakukan virtual buat ngurangin biaya dan waktu perjalanan.
Makanya rakyat heran lihat kondisi sekarang. Narasi hematnya kencang, tapi rombongan tetap jumbo.
Belum lagi waktu kritik dijawab dengan nyebut Dino Patti Djalal cuma jadi Wamenlu 3 bulan. Lah itu namanya bukan jawab substansi, tapi malah ad hominem.
Yang dipersoalkan publik itu soal tata kelola dan efisiensi. Bukan soal berapa lama orang pernah duduk di jabatan.
Ngurus negara itu bukan lomba pencitraan. Yang penting kerjaannya proper, efficient, dan bisa dipertanggungjawabkan.
Ujung-ujungnya rakyat cuma minta satu. Negara diurus serius, hematnya nyata, dan jangan kebanyakan sandiwara.
#EfisiensiBukanPencitraan
#APBNBukanDompetPribadi
#GoodGovernance
#Rombongan60Orang
Teddy dismissed Dino's criticism about government travel waste by saying Dino was "only Deputy Foreign Minister for 3 months" .This is pure cherry-picking; it completely ignores that Dino is a 30-year career diplomat and former US Ambassador.
Now that the economy is on the brink of collapse, citizens are squeezed to cover the deficit. The public is rightfully outraged by this shameless betrayal
Di protes agar hentikan 2 proyek politik yang nyedot anggara fantastis, kalian tidak mau.
Giliran negara diambang kehancuran, rakyat yang di tekan untuk nutupi lubang yg kalian buat, memang kalian ini bgsttt...
Instead of arguing over who funded it, watch the actual substance. โPesta Babiโhow the Marind, Awyu & Muyu tribes are losing ancestral lands to mega-plantations. The irony? Defending Indonesian forests gets you labeled a "foreign agent," while actual land destruction gets ignored
Salam hormat untuk Pak @prastow
Gila, gila, di Threads banyak banget yang berusaha mendelegitimasi "Pesta Babi" dengan narasi Soros-Soros, antek-antek asing.
Analisis terhadap Makara Adan-Adan memberikan jawaban pamungkas mengenai usia situs ini. Meskipun ukurannya yang raksasa sering membuat orang terkecoh dan mengaitkannya dengan kemegahan Mataram Kuno (era Borobudur), detail morfologinya justru berbicara sebaliknya.
Klaim dibangun antara abad ke-9 hingga ke-11 Masehi ini perlu bukti yang kuat.
Dua penelitian dalam enam tahun terakhir menyimpulkan bahwa makara dan dvฤrapฤla yang ditemukan di situs Adan-Adan dibuat antara abad ke-11 hingga ke-12, yang disebut sebagai โperiode Kadiriโ.
Panca Korsika memiliki kedudukan yang sangat krusial, terutama di bagian akhir prasasti yang memuat Sapatha atau sumpah kutukan. Panca Korsika dipanggil bersama dewa-dewa lainnya untuk menyaksikan peresmian desa Sangguran menjadi tanah Sima(perdikan).
@hrdbacot Si Laksana rupanya bawaan dari raja sebelumnya, Dyah Wawa, dia juga penulis Prasasti Sangguran (928 M; Minto-Stone) yang sayangnya masih terdampar di Skotlandia