I love critical theory, I love seminars, I love reading groups, I love universities as public goods, I love historiography of disciplines and knowledge itself, I love difficulty and difficult questions, and I love the humanities being human. And that's the hill I die on.
The older I get, the more I understand why people disappear into gardening, baking, reading, and long walks. Not because life got boring. Because peace became valuable.
Self-respect hits different when you finally stop explaining your worth to people who never saw it. The Hidden Laws of Feminine Power by Sabrina St. Clair teaches you that silence can be strength.
Lisez des livres.
Ils vous permettent de réfléchir, d’imaginer, de créer, de vous cultiver, d’élargir votre esprit critique, de vous éduquer, d’avoir une autre vision du monde, de comprendre l’autre…
Bref, lisez des livres.
saat istri menempuh studi magister, Prof. Paripurna P. Sugarda (Guru Besar Hukum Bisnis FH UGM) pernah memberi kuliah tentang hukum persaingan usaha.
di tengah penjelasan materi, beliau melihat seorang mahasiswa membuka botol air putih dan meminumnya. Lantas, beliau tiba-tiba berkata:
👨🎓: "Coba ketua kelas di sini, ada berapa mahasiswa di kelas ini?"
🧑: "Sekitar 50 orang, Prof", jawab seorang mahasiswa.
👨🎓: "Oke, tolong pesankan masing-masing kopi Fore buat semuanya, ya. Saya traktir. Nanti kirim nomor rekeningnya ke saya".
kelas riuh sejenak karena kaget. Tak lama kemudian beliau mentransfer uang, bahkan jumlahnya sedikit lebih banyak dari kebutuhan.
ketika ketua kelas berniat mengembalikan sisanya, beliau berkata:
👨🎓: "Dipakai saja buat makan. Tapi jangan ke burjo, ya."
kelas kembali riuh dan tertawa. Dan, beberapa waktu kemudian, kopi Fore pun datang.
beliau lalu menjadikan itu sebagai ilustrasi. Bahwa, hukum persaingan usaha, bisa melahirkan manfaat yang kita rasakan setiap hari, bahkan dari sebotol air putih atau kopi Fore yang ada di tangan mahasiswa.
coba bayangkan, jika hanya ada satu produk kopi yang tersedia. Pilihan konsumen terbatas, harga bisa lebih mahal, kualitas dan invoasi berjalan lambat. Justru, karena pelaku usaha saling bersaing, konsumen dapat memilih produk yang sesuai kebutuhan dan kemampuannya.
tapi menurut istri saya, yang paling membekas adalah keteladanan beliau:
yakni tentang bagaimana seorang guru, dapat meninggalkan kesan yang baik melalui perhatian-perhatian yang sederhana.
Sehat selalu, Prof 🙏🥹
Podcast feminists seharusnya diisi host : Fatima Az Zahra, Okky Madasari, Nabila Izzati, bahkan dr. Tifauzia kalau perlu. Semuanya layak, bukan sok edgy doang ngomong Enggres bahas beauty modern standard dari make up, skincare, hairdo, karir, wellness, yoga, atau stoicism.
Mereka akan kritik ketimpangan sosial, kejahatan pinjol, judol, KDRT, pajak mencekik, MBG, Kopdes, ijazah palsu sampai melengserkan kekuasaan yang zalim.
Ayooo kita satukan mereka🤲🏻🙏👍🏼 Nama podcastnya: Feminists in Revolt👏🏻 Ini baru the real beauty and modern women🫶🏼
Kesel banget kalo pakaian sampe mukenah ku luntur jadi motif tie dye, pengen ku buang aja yaAllah. Bukan maksud gimana, bayangin deh di kasih ke orang juga ngga layak, terus di apain kalo ngga di buang 😣