@pistoiamarliana astaghfurullahhhh, sampe udh gatau mau ngomong apa lagi
ini nyawa, manusia. bukan cuma angka statistik ya allah. liat ni kelakuan pembuat kebijakan, lu semua bikin banyak org kehilangan keluarga!!. Dajjal aja sujud sama kalian
Hari ini Negara kita genap berusia delapan puluh tahun. Usia yang panjang untuk sebuah negara yang lahir dari darah, air mata, dan doa para pendahulu.
Jika Indonesia adalah pasien maka hari ini datang dengan gejala dan keluhan yang jelas terlihat.
Tanda tanda vital Pancasila sebagai pondasi bangsa, menangis.
Sila pertama merintih karena banyak yang tidak takut Tuhan. korupsi, judi, dan semua laranganNya, dilakukan dengan santainya.
Sila kedua merintih karena masih banyak yang kehilangan adab, menghina sesama, merendahkan martabat orang lain.
Sila ketiga merintih karena persatuan sering dikalahkan oleh ambisi, kelompok, dan identitas.
Sila keempat merintih karena hikmat kebijaksanaan dan musyawarah telah bergeser jadi adu kuasa dan transaksi kepentingan.
Sila kelima merintih karena keadilan masih terasa sangat amat jauh, jurang penghasilan dan kekayaan makin dalam dan nyata, yang kuat makin berkuasa makin tidak peduli.
Diagnosis Sebuah bangsa yang tampak besar di luar, menyimpan penyakit di dalam. Luka yang dibiarkan akan bernanah, luka yang diabaikan dan melemahkan tubuh bangsa.
Tapi Sebagaimana dokter menatap pasiennya, saya tidak hanya melihat penyakit. Saya juga melihat harapan kesembuhan. Indonesia masih punya denyut nadi. Dan Nadinya sangat kuat.
Masih banyak anak muda yang JUJUR, masih ada guru yang mengajar dengan hati, masih banyak petani yang setia menanam, masih ada rakyat yang berjuang tulus.
Kita perlu kembali belajar takut kepada Tuhan, kembali beradab, kembali menegakkan persatuan, kembali bermusyawarah dengan tulus, kembali memperjuangkan keadilan bagi semua anak bangsa.
Indonesia telah melewati perang, krisis, bencana, dan berkali-kali bangkit dari keterpurukan. Saya yakin, Indonesia juga mampu sembuh dari sakitnya hari ini. Usia delapan puluh tahun adalah panggilan untuk menjadi bangsa yang matang, lebih bijak, lebih kuat.
Hari Merdeka adalah hari untuk berani jujur pada penyakit.
Indonesia akan sembuh. Indonesia akan bangkit. Indonesia akan kembali berdiri tegak, menjadi rumah yang membanggakan bagi anak cucu kita.
Saya mencintai negeri ini sepenuh hati.
Merah darahku, Putih tulangku.
Dirgahayu Republik Indonesia.