Derap langkah menggema dalam ruang, seolah benar hanya ada diriku didalam sana. Namun nyatanya langkah ini membawa menangkap figur @maharanca yang berjalan kearahnya.
Suka cita menghampirinya, tergambar pada air muka yang kini menatap sosok itu: sosok yang sudah hidup โโ
@maharanca Hatinya bergetar hebat.
Bahkan bisa dilihat dari air wajahnya kini, begitu tenang dan sendu. Membayangkan bisa hidup bahagia dan normal dengan gadis dihadapannya, menjalani kehidupan normal tanpa harus merasakan sakit.
โJangan bicara disini, ayo kekamar.โ
Ucapnya tersadarโโ
@maharanca Sorot matanya masih memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan yang teruni, bahkan sekecil kesalahan yang mungkin terjadi pun bisa terlihat.
Hingga tangannya terulur berinisiatif menggenggam pergelangan tanganmu saat menuruni tangga.
โPerlahan, aku โโ
@maharanca Penolakan yang diterimanya bukan lah yang pertama, walau begitu ide yang baru saja ditawarkan tetap akan dilakukan, mungkin nanti?
Seiring tubuhmu pergi dari sana, yang lebih jangkung mengekor dibelakang.
Setidaknya ia berhasil membuatmu pergi dari balkon bukan?
@maharanca โKalau tidak berencana, untuk apa aku bertanya?โ Balasnya disana, walau benar ia akan membelikan gadis itu, tanpa harus membawanya keluar.
Setiap inci bagian lekuk tubuh ramping yang teruni sudah ia hafal, diluar kepala.