Are you in a constant state of questioning your ability of projecting the whole ideas into a clear articulations and feeling insecure about the writings or are you normal?
Setelah baca ini, jadi paham kenapa tiket pesawat domestik bisa jauh lebih mahal dari tiket luar negeri ternyata bukan soal avtur mahal. Mau marah tapi gimana? Ini indonesia. 😭😭😭
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi.
Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas".
Saya tolak, ngga mau bohong & zalim.
Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka.
Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua.
Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan.
Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan:
Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri.
Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong.
Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran.
Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak.
Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.”
Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran.
Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar.
Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia.
Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe.
Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif.
Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah.
Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan.
Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir.
Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan.
Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan...
Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan.
Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini.
Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini.
Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara.
Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.
Sejak poin "mobil HARUS Alphard" sudah langsung nggak percaya. Jangankan Fajar, bahkan artis yang sudah showbiz banget pun kelihatannya juga nggak bakal pakai kalimat "mobil HARUS Alphard".
Saya sudah jawab anda di kolom komentar
Proses hukum yg buruk harus dikritik, sistem yg problematik harus dilawan, UU dan sistem itu bukan datang dari langit, harus dikritik dan dilawan
Kalau sekadar ikut kata aturan dan meyakini segalanya benar, anda masih anggota ABRI
Mas @ainunnajib. Two wrongs don’t make a right.
Ngesot/ jalan jongkok di manapun itu merendahkan manusia. Harus dibasmi.
Ngesot gak mainstream di pesantren. Tapi bkn berarti ga ada.
Yuk basmi ngesot di pesantren. Menghormati kyai itu harus. Tp caranya yg berperadaban.
People from kartini, to PKI, to muhammadiyah thought that this practice was barbaric & old-fashioned. The reason why nationalists chose melayu pasar as the national language because it was seen as more egalitarian than the feudal & hierarchical javanese language/culture.
Semakin yakin feodalisme di pesantren hanya akan membawa hasil yang buruk. Saat ada santri diperkosa pemimpin ponpres, mereka tidak semarah ini. Saat ada santri meninggal karena kelalaian pemimpin ponpres, mereka diam saja.
Cara Banser membela pesantren seperti ini memalukan. Main geruduk, menutup paksa, ini kan cara2 preman. Citra NU dirusak oleh perilaku warga NU sendiri.
GRETA THUNBERG FULL SPEECH IN GREECE AFTER BEING ABDUCTED BY ISRAEL
“Thank you to all of you who are keeping an eye on the flotilla & sharing our content”