Karenaaaa aku sedang sering capek dan mumet jadi aku akan mencoba menulis 1 hal menyenangkan setiap hari selama 1 bulan. Trial version dulu ceritanya, doakan istiqomah wkwk
Amri, 50 tahun.
Sopir truk.
Meninggal di kursi kemudinya saat antre solar di SPBU Banyuasin, 29 Juni 2026.
Bukan kecelakaan.
Bukan sakit mendadak.
Dia kelelahan menunggu berjam-jam.
Di sekitar jenazahnya: hanya beberapa botol minuman ringan , yang dia minum untuk menahan ngantuk sambil nunggu giliran.
Dan ini bukan kasus pertama.
Dalam 3 bulan terakhir, 3 sopir truk tewas di antrean solar di Sumsel.
Dua dikeroyok karena berebut giliran.
Satu mati kelelahan.
Sementara itu:
a. Organda sudah lapor: kuota dipangkas, barcode diblokir sepihak
b. Pertamina bilang: "kami salurkan sesuai kuota"
c. Pemerintah bilang: "stok dijamin"
d. Amri tidak sempat dengar jaminan itu
Negara ini kaya minyak.
Tapi sopir truknya mati demi setetes solar bersubsidi.
Siapa yang bertanggung jawab?
😡
27 April 2026: 16 perempuan tewas di gerbong KRL Bekasi Timur.
28 April: Presiden turun langsung ke RS, umuman di depan kamera: Rp 4 triliun untuk perbaiki 1.800 perlintasan kereta.
Juni 2026 di rapat DPR ,
Kemenkeu:
"Sampai sekarang saya belum terima masukan yang jelas dari Perhubungan."
Perhubungan:
"Sudah kirim ke BAPPENAS dan Kemenkeu."
Kemenkeu: "Kalau kata staf saya, untuk tahun depan. Belum bisa jawab sekarang."
Rp 4 triliun diumumkan di depan kamera dalam 24 jam.
Tapi 2 bulan kemudian antar-kementerian masih saling lempar "belum terima".
16 nyawa menunggu janji itu jadi kenyataan. Atau minimal jadi dokumen.
Ini framing yang cukup berbahaya sih. Coba riset dulu sebelum menarik kesimpulan.
Sensus Ekonomi (SE) adalah kegiatan rutin BPS yang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali pada tahun yang berakhiran angka 6. Kegiatan ini sudah berlangsung sejak 1986, jadi tidak ada kaitannya dengan poin-poin yang disebutkan pada unggahan di bawah.
Memang apesnya, pelaksanaan SE tahun ini bertepatan dengan kondisi ekonomi yang sedang sulit. Wajar kalau masyarakat sedang sensitif. Tapi bukan berarti kita bisa sembarangan membangun narasi seolah-olah Sensus Ekonomi muncul karena kondisi ekonomi saat ini.
Yang paling kasihan justru petugas lapangan. Mereka hanya menjalankan tugas, penghasilannya juga tidak besar, apalagi setelah berbagai kebijakan efisiensi. Kalau bisa, mari bantu mempermudah pekerjaan mereka, bukan malah memperkeruh keadaan dengan informasi yang keliru.
Di sisi lain, ini juga menurut saya menjadi bahan evaluasi bagi tim humas BPS. Kenapa masih banyak masyarakat yang bahkan tidak tahu bahwa Sensus Ekonomi adalah agenda rutin setiap 10 tahun? Saya sering merasa publikasi BPS masih terlalu berputar di lingkungan internal BPS. Coba lihat media sosialnya, kontennya lebih banyak berisi dokumentasi kegiatan pejabat dibanding edukasi yang menjawab pertanyaan paling mendasar masyarakat: apa itu Sensus Ekonomi, mengapa dilakukan, dan apa manfaatnya bagi masyarakat.
Saya juga melihat masih ada petugas yang kurang siap menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar dari responden. Bahkan ada yang langsung membawa-bawa RT, kepala desa, atau aparat ketika responden menolak. Pendekatan seperti itu justru memperburuk persepsi masyarakat dan menimbulkan kesan seolah mereka sedang dipaksa.
Kalau masyarakat belum paham, itu bukan semata kesalahan masyarakat. Bisa jadi komunikasi publik kita memang belum efektif. Edukasi yang baik akan jauh lebih membangun kepercayaan dibanding pendekatan yang terkesan mengintimidasi.
Intinya ya guys, kalau BPS beneran mau manipulasi data. Ngapain capek-capek buka rekrutmen, bikin pelatihan, dan ngunjungin setiap rumah 1 per 1 untuk ngumpulin data. Perihal gimana data itu dimanfaatkan pemerintah, itu udah diluar kewenangan BPS. Tugas BPS mengumpulkan, mengolah, dan menyediakan data. Jadi meskipun kebijakan pemerintah sekarang buruk, jangan sampai datanya ikut jelek juga, seenggaknya jika suatu saat pemerintah kita berubah jadi lebih baik, data acuannya bagus untuk pembuat kebijakan saat itu.
Aku ga tahu kenapa orang salty sama petugas sensus ekonomi, mereka hanya menjalankan tugas dan sudah ada panduan isian jawabannya.
Aku dulu jaman nulis thesis saban hari buka website BPS nyari data, sangat berguna sekali data hasil sensus ekonomi ini, karena nanti datanya akan disajikan seluruh provinsi seluruh Indonesia, bisa diolah pake time series atau data panel.
Sebagai mahasiswa ga mungkin kita nyari data primer, makanya ambil data sekunder yg sudah diolah BPS.
Ini POV aku sebagai orang yang pernah belajar public policy, kita butuh base data yg solid yang nanti nya akan diolah oleh policy maker menjadi suatu kebijakan. Data tersebut salah satu nya diambil melalui sensus ekonomi
“Citra UGM dirusak oleh mahasiswa yang tidak tahu caranya berdiskusi.”
Orang-orang yang hari-hari tiap memperkenalkan diri dari UGM pertanyaan selanjutnya selalu soal ijazah: