Belajar komunikasi lagi hari ini dari CHOKY SITOHANG, TOP GLOBAL NGOLAH.
Percaya atau nggak, skill ini bisa buat hidup kamu jadi lebih mudah. Ada banyak pelajaran yang bisa kita catat dari 1 video ini aja.
1. 00:01 "Pak Edi yang mana ini? Udah lama ini nggak ketemu kayaknya"
Ini konteksnya kalau kamu masuk ke ruangan, lagi cari seseorang tapi belum tatap muka. Atau kamu tau orang itu, tapi baru via online dan belum pernah ketemu offline.
2. 00:07 Salaman seenggaknya kalau di video durasinya 8 detik sampai 00:15 tapi itu karena dipotong videonya, at least 10 detik. Jadi ketika salaman jangan buru-buru dilepas.
3. 00:09 "Terima kasih kepercayaannya, terima kasih berkatnya buat keluarga kami"
Kalau kita dapat project atau pekerjaan, jangan lupa untuk nyapa yang ngasi project atau pekerjaan itu. Sampaikan terima kasih karena udah percaya.
4. 00:22 "And, this Raynaldo. Good to see you, brother"
Lagi-lagi penting buat riset dulu, mau ketemu siapa, apa jabatan atau posisinya, istri atau anaknya. Orang bakal lebih senang kalau kita tau tentang dia.
5. 00:43 "Apa kabar, sehat? Baik atau bahagia?"
Nah, ini memang kelas PEMAEN. Jawaban "baik" dibawa ke next level jadi "bahagia. Bisa jadi referensi kalau kamu nanya kabar orang lain terutama kalau jumpa di event yang memang harusnya orang happy.
6. 00:47 "Pembina saya ini. Itokku"
Di detik 00:33 juga ada penggunaan "Direktur saya". Harus diakui Indonesia adalah negara timur yang senang menggunakan panggilan honorifik, untuk nunjukkin rasa hormat, status sosial, jabatan, usia, atau hubungan tertentu.
7. 00:58 "Ini auditor yang bicara"
Ini lanjutan dari frame sebelumnya di detik 00:56 kalau Choky dipuji terlihat lebih muda. Nah, kalau di event atau momen tertentu kamu dipuji, terima. Bahkan amplify. Misal dipuji pintar, amplify, "Ah, kalau bapak yang bilang, saya nggak ada keraguan".
Poin mana yang bakal kamu praktekkin? 😅
Admin ngeh bahwa tepuk sakinah cuma ice breaker, tapi di situlah persoalannya. Di tengah tingginya kasus KDRT di Sleman, bimbingan pranikah di KUA justru masih bersifat formalitas: berlangsung singkat (30 menit–3 jam; materi seperti doa mandi wajib kan sudah jadi pengetahuan dasar di sekolah/madrasah, mestinya bimbingan pranikah lebih fokus pada isu yang lebih serius: kekerasan, ketahanan ekonomi, kesehatan mental.) dan cenderung normatif. Padahal, yang dibutuhin bukan sekadar ice breaker, melainkan chain breaker: mekanisme serius untuk memutus rantai kekerasan dalam rumah tangga.
Poin-poin keluarga sakinah: zawaj, mitsaqan ghalizan, mu’asyarah bil ma’ruf, musyawarah, dan taradhin kan pada dasarnya normatif doang. Dalam praktik rumah tangga, KDRT justru muncul ketika “musyawarah” tidak berjalan (sering kali tafsir seperti ‘lelaki imam, istri wajib nurut’ dipakai untuk membungkam musyawarah) terus konsep “saling ridha” dimanipulasi untuk menormalisasi kekerasan.
Jadi, KUA seharusnya mengambil peran strategis: menghadirkan studi kasus KDRT dan strategi penanganannya dalam bimbingan pranikah, bukan hanya pengulangan ideal normatif. Anggaran publik seharusnya dipakai untuk hal yang lebih substansial, setidaknya membantu menormalisasi melaporkan kekerasan, bukan melihatnya sebagai “aib” seperti yang lumrah dipraktikan dan dijadiin bahan ceramah di bimbingan pranikah.
Memperkenalkan Tepuk Sakinah justru menunjukkan ketidakseriusan menghadapi kenyataan itu. Kalau emang cuma mau hiburan, sekalian saja beli lisensi lagu Bang Jago-nya Wali.