Indonesia's biggest loss:
Kevin Sanjaya Sukamuljo
Bakat alam yang belum tentu muncul 10 tahun sekali tapi tidak diakomodir dengan baik oleh PBSI dengan maksimal. Tidak segera diberikan partner sesuai keinginannya yang akhirnya api kompetitif dalam dirinya padam.
Per hari ini, Putra "Srondeng" Tri Ramadani🇮🇩 menjadi satu2nya climber Indonesia yg terpilih sebagai Athlete of the Week, World Climbing.
2025
Srondeng mencetak sejarah ke final lead IFSC Climbing World Cup di Koper, Slovenia. Pd babak kualifikasi dan semifinal, Srondeng tampil luar biasa stabil dan berhasil mengamankan peringkat ke-4 utk melaju ke final.
2026
Jadi athlete of the week berkat keberhasilan fenomenal Srondeng meraih emas lead di World Climbing Series, Praha. Srondeng jadi climber Indonesia pertama dalam sejarah yg meraih emas pada nomor non-speed di level seri dunia.
Komentator IFSC menyoroti gaya memanjat Srondeng yg cenderung lambat namun pasti dan jauh (prefer to go slow but far).
Srondeng dinilai punya ketahanan fisik dan ketenangan yg luar biasa, menjadikannya salah seorang talenta muda nomor lead paling potensial di dunia.
Suatu sore, Joni Sugio dan Susy Tjandra duduk di sofa ruang tamu bersama putra mereka, Nikolaus Joaquin. Susy mengatakan, "Jo, kita kasih batas waktu ya. Sampai kamu kelas 3 SMA. Kalau sampai lulus SMA tidak masuk (klub besar), kita kuliah."
Kesabaran tampaknya sudah mendekati habis. Joaquin sudah SMA, tetapi masa depan bulu tangkisnya masih sangat gelap. Penolakan demi penolakan datang beruntun dan menyakitkan.
PB Djarum total menolaknya tiga kali.
PB Jaya Raya menolaknya sekali.
Mutiara Cardinal Bandung menolaknya sekali walaupun dalam simulasi tiga hari dia tidak pernah kalah.
Lima penolakan. Bagi sebagian besar anak di Indonesia, lima penolakan dari klub-klub besar adalah tanda yang jelas untuk berhenti bermain bulu tangkis dan mulai memikirkan ujian masuk universitas. Apalagi alasan penolakan2 itu sama: tubuh Joaquin terlalu kecil.
Namun Joaquin merasa bahwa belum saatnya menyerah. Dengan keyakinan tinggi, dia memandang ibunya dan berkata, "Maju terus, Ma. Masih mau lanjut.''
Mengingat masa-masa beratnya waktu itu, Joaquin mengatakan bahwa keyakinan itu bukan semata datang karena kekuatan dirinya sendiri.
Tulisan panjang saya tentang perjalanan karier sangat berat yang dilalui Nikolaus Joaquin.
https://t.co/shRQgUXQ0e
Hari ini, 24 Mei, 28 Tahun Lalu.
Tim Badminton Indonesia baru saja menyelesaikan salah satu perjalanan paling berat dalam kiprah mereka di ajang Thomas-Uber Cup. Indonesia sukses memenangkan Thomas Cup untuk ke-11 kalinya dalam sejarah.
Candra Wijaya dan Sigit Budiarto dikerubungi pemain-pemain Indonesia lainnya. Candra/Sigit baru saja memenangkan partai keempat sekaligus membuat Indonesia unggul 3-1 atas Malaysia. Angka ketiga berarti Indonesia sudah mengunci gelar juara.
Rasa gembira dan haru jadi satu. Ketegangan, kesulitan, hingga harapan yang menyelimuti para pemain dalam sepekan penyelenggaraan Thomas Cup berakhir dengan kebahagiaan.
Ketika itu, Tim Indonesia berjuang di Hong Kong di saat Indonesia melalui banyak hal, mulai dari kerusuhan massal hingga pergantian rezim.
Dalam momen keberangkatan, pemain-pemain tidak merasa bakal ada kejadian besar . Nilai tukar dollar AS terhadap rupiah memang terus meninggi dan ada sejumlah demonstrasi, tetapi pemain tidak menduga bahwa akan terjadi kondisi yang tidak pernah terbayangkan di Indonesia saat mereka pergi berjuang membawa nama Indonesia ke Hong Kong.
Thomas-Uber 1998 itu dimainkan pada 17-24 Mei. Namun Tim Indonesia berangkat jauh sebelum turnamen dimulai. Mereka juga masih dilepas secara resmi oleh Soeharto.
Saat itu, Soeharto pergi ke Mesir pada 9 Mei, berarti Tim Indonesia menjalani pelepasan keberangkatan sebelum tanggal itu.
Andaikan rencana Tim Indonesia berangkat di tanggal belasan, bisa jadi Tim Indonesia tidak bisa berangkat atau memutuskan tidak berangkat.
Ketika sedang menjalani latihan tahap akhir dan persiapan menuju pertarungan di lapangan, situasi di Indonesia memanas. Dalam gelombang demonstrasi menuntut Soeharto mundur yang terus membesar, terjadi peristiwa penembakan mahasiswa Trisakti pada 12 Mei.
Peristiwa itu kemudian memicu demonstrasi yang lebih luas di hari berikutnya. Dalam perkembangan peristiwa yang terjadi berikutnya, situasi berubah jadi pembakaran dan penjarahan massal. Sentimen terhadap etnis Tionghoa pun menguat.
Tim Badminton Indonesia yang sedang mempersiapkan diri pun buyar konsentrasinya. Peristiwa di Jakarta dan sejumlah kota lainnya tersiar melalui siaran televisi di Hong Kong. Kejadian di Indonesia sudah jadi perhatian dunia internasional.
Tim Indonesia goyah. Ada ketakutan. Ada rasa ingin pulang dari para pemain melihat kejadian seperti itu. Mereka kepikiran anggota keluarga atau orang terdekat yang tinggal di Jakarta.
Rexy Mainaky saat itu berada di Hong Kong dengan sang istri tengah mengandung anak kedua tinggal di Jakarta. Hendrawan kepikiran calon istri yang tengah bekerja di Jakarta dan tidak bisa keluar dari tempat kos karena kerusuhan.
Begitu pun pemain-pemain lainnya dengan kekhawatiran yang serupa.
Christian Hadinata berusaha memompa semangat pemain. Namun ia mengakui bahwa dalam hatinya, ia juga kepikiran kondisi keluarga daripada pertandingan yang ada di depan mata.
Rapat lalu digelar dan Wakil Ketua PBSI Agus Wirahadikusumah mengambil langkah yang tepat dan cepat. Ia membuka saluran telepon 24 jam sehingga pemain bebas menghubungi keluarga di Indonesia. Setidaknya, pemain bisa mengecek dan berkomunikasi dengan keluarga kapan saja.
Tak hanya itu, Agus juga berusaha menjamin keamanan di kediaman keluarga dan orang terdekat dari masing-masing pemain serta staf yang ada di Tim Badminton Indonesia. Keputusan diambil, Indonesia tetap bertanding.
Selama bertanding, pemain-pemain juga harus menghadapi pertanyaan tentang kondisi di Indonesia. Di sisi lain, semangat untuk mengharumkan nama Indonesia makin kuat di benak para pemain.
Indonesia lolos ke final Thomas-Uber Cup. Indonesia jadi runner up di Uber Cup dan berhasil jadi juara di Thomas Cup.
Dengan ikat kepala merah-putih, para pemain maju mengangkat trofi Thomas Cup tanda kemenangan Indonesia.
Dan yang lebih mengharukan lagi, adalah saat Indonesia Raya berkumandang di luar Stadion Queen Elizabeth, dinyanyikan oleh suporter-suporter Indonesia yang hadir di sana.
Anthony Ginting, Lee Zii Jia, Jonatan Christie. Trio Asia Tenggara yang punya momen membanggakan masing-masing: China Open 2018, All England 2021, All England 2024.
Kita mengira (atau berharap) ketiganya bakal jadi sesuatu dalam jangka waktu lama. Tapi hingga kini mereka terjebak di cerita yang mirip. Cedera berulang dan inkonsistensi yang tak kunjung teratasi.
Bahkan saat tunggal putra tengah mencari ulang siapa yang pantas berada di puncak dunia selepas pensiunnya Axelsen, ketiganya belum kembali unjuk gigi, malah terkesan tak punya lagi relevansi.
Padahal Shi Yuqi yang sekarang nomor 1 dunia tidak konsisten2 amat, talenta super macam Kunlavut juga bukan tipikal pemain tak terkalahkan, begitu pula dengan Lin Chun-yi atau jagoan baru dari Prancis.
Alias tidak ada monster absolut yng bikin era ini mustahil ditembus. Atau seperti yang dibahas Gillian Clark dalam salah satu postingannya, persaingan tunggal putra kini lebih cair dan terbuka.
Tapi melihat kondisi ketiganya, setidaknya dilihat dari beberapa hasil laga terakhir, bahkan untuk melaju jauh di turnamen tertentu saja tampak sulit. Praktis hanya Jonatan yang agak mendingan.
Lantas di usia yang mulai menua, masih adakah peluang bagi ketiganya untuk konsisten bersaing di puncak dunia? Atau justru kita harus mulai menerima bahwa ketiganya memang ditakdirkan untuk "sampai di sini saja"? 😢😢😢
BWF Thomas & Uber Cup Finals 2026
Men's Team Thomas Cup - Group D - R3
20 21 22 🇫🇷Toma Junior POPOV🥇
22 15 20 🇮🇩Anthony Sinisuka GINTING
🕚 in 85 minutes
Untuk siapapun yang meremehkan Jonatan dan Ginting, akan senang hati mengingatkan mereka dengan fakta-fakta mantap ini:
- Setelah puasa 12 tahun, Indonesia kembali raih emas tunggal putra Asian Games lewat Jonatan Christie
- Setelah puasa 19 tahun, Indonesia kembali juara Thomas Cup berkat kemenangan 3-0 atas China di final, di mana Jonaran dan Ginting turut menyumbang angka
- Setelah puasa 16 tahun, Indonesia kembali menjadi yang terbaik di sektor tunggal putra Kejuaraan Asia lewat Ginting
- Setelah puasa 30 tahun, tunggal putra Indonesia kembali raih gelar juara All England lewat Jonatan.
😎😎😎
Masalah Muti ini sepertinya kombinasi teknik dan mental ya. Dulu, waktu junior mainnya terlihat lebih agresif dan penuh api. Naik ke senior, dg pool of lawan lebih bervariasi tentu butuh upgrade skill dan kemampuan.
Namun, yg terjadi justru sebaliknya. Muti ini secara kualitas pukulan, akurasi, kecepatan, dan agility justru tidak lebih baik daripada ketika junior. Stuck di level ini terus-terusan juga pada akhirnya berdampak ke mental juaranya yg perlahan hilang. Fighting spirit di lapangan kurang dan mudah give up poin ketika tertinggal atau tersalip.
Muti perlu diskusi serius dg coach, harus inisiatif minta porsi latihan lebih buat ningkatin fisik dan tekniknya, bahas strategi pemilihan turnamen. Di saat yg sama, benahi motivasi intrinsik utk being competitive lagi. Jangan pasif dan terima nasib gini-gini aja.
Otherwise, dg performa seperti ini akan sulit bersaing ke atas dan sulit bertahan di Pelatnas dalam 1-2 tahun ke depan. Again, di level ini kita ga boleh puas cuma dg lolos ke QF atau SF aja, mindsetnya harus gmna bisa juara.
Pada akhirnya, kalau begini terus tanpa perubahan, negara juga yg rugi krn kita kehilangan potensi Juara AJC yg layu sebelum berkembang di level tertinggi.
Sekali lagi mengingatkan ke PBSI, menghandle sektor WS berbeda dg sektor lainnya. Talenta kita di sektor ini tidak sebanyak yg lain. Program dan strateginya perlu berbeda.
Just my two cents. Seperti biasa, bisa saja salah. 🙏🏼
You may disagree, but let me say this: Tolonglah @INABadminton khusus sektor WS agak jor-joran dikit, kagak usah dijatah-jatah, diirit-irit, dipilih-pilih. Kirim aja sebanyak-banyaknya, push turnamen yg rankingnya udah bisa masuk entry. Daftarin aja dulu, perkara nanti cuma reserve, perkara nanti tnyta WDN karena lelah fisik, ya udah urusan nanti.
Setelah jor-joran, kasih target dan KPI dalam setahun harus achieve apa aja - obrolin sama atlit dan coachnya, kalau gak perform, gak ada motivasi internal buat naik level, ya sudah degradasi. Gak cuma atlitnya, tapi coachnya juga dikasih target dan evaluasi.
Cari cara baru, jangan mengharapkan hasil yg berbeda tapi pakai cara dan pola pikir lama, apalagi di sektor yg jelas-jelas paling tertinggal di banding yg lain. Jangan treat sektor WS sama dg sektor lain. Handle it with care.
Sadar diri kita cuma punya 1 WS di Top 40 sekarang.
Ayo, PBSI, kamu bisa, pasti bisa! 🔥
What a match! Bunyi nyaring raket keduanya dan napas Wang Zhiyi yg terengah-engah bikin makin drama. So intense! And we love a competitive match -- tentu kalahnya ASY is a good sign for WS sector, bahwa kompetisi itu masih ada.
This winning is not only for Wang Zhiyi, but also for everyone. 10 kalah beruntun and it stops now.
Jorji & Putri KW, please get inspired from this match okay? Keep working, keep improving, keep trying. Losing is temporary, keep fighting! 🔥
Latar belakang:
Era 2012-2016:
Momen Tontowi/Liliyana jadi tulang punggung Indonesia di All England. Hattrick gelar dari 2012-2014.
Ada juga Ahsan/Hendra yang menang All England 2014 dan Praveen/Debby yang juara di 2016.
Era 2017-2020:
Kemunculan Kevin/Marcus lewat dua gelar beruntun. Ahsan/Hendra menang All England lagi di 2019 dan disusul Praveen/Melati yang jadi juara di 2020.
Era 2021-2024:
Nomor ganda putra jadi andalan dan bahkan menciptakan All Indonesian Final. Bagas/Fikri rebut gelar di 2022 disusul gelar beruntun dari Fajar/Rian.
Di luar tahun-tahun juara, selalu ada pemain yang lolos ke final saat Indonesia nol gelar seperti 2015 (Tontowi/Liliyana) dan 2025 (Leo/Bagas).
Kalo lebih di-detail-kan lagi:
Saat era Gita Wirjawan (2012-2016)
Indonesia masih ditopang oleh Tontowi/Liliyana dan Ahsan/Hendra yang merupakan racikan baru yang langsung bisa melesat ke persaingan elite dunia.
Muncul juga Praveen/Debby dan Greysia/Nitya yang juga bisa mengganggu persaingan di level elite.
PBSI juga fokus pada regenerasi pemain-pemain muda.
Era Wiranto (2016-2020)
pemain-pemain yang dibina di era Gita Wirjawan mulai muncul ke permukaan. Kevin/Marcus, Fajar/Fikri, Ginting, Jonatan, Gregoria Mariska meski tak semuanya meraih gelar All England di periode tersebut.
Selain itu Ahsan/Hendra juga menjalani periode kedua karier mereka dnegan hasil luar biasa.
Era Agung Firman (2020-2024)
Angkatan Jonatan dkk seharusnya mencapai periode puncak karier mereka dengan target meraih emas Olimpiade.
PBSI juga punya tugas mengakselerasi jebolan Kejuaraan Dunia Junior 2017-2019 sehingga bisa selepasnya mentas jadi andalan.
Hal ini sempat terlihat di nomor ganda putra ketika beberapa ganda muda bisa merebut gelar juara seperti Pramudya/Yeremia, Bagas/Fikri, dan Leo/Daniel.
Jonatan dan Ginting juga sempat menyajikan All Indonesian Final di All England 2024.
Namun karena berbagai faktor dan hal, tidak ada prestasi puncak yang didapat.
Era Fadil Imran (2024-2028)
Harusnya layer utama saat ini diisi oleh alumni Kejuaraan Dunia Junior era 2017-2019 seperti Rinov Rivaldy, Pitha Haningtyas Mentari, Daniel Marthin, Leo Rolly Carnando, Rehan Naufal Kusharjanto, Siti Fadia Silva.
Tapi bisa dibilang belum ada yang benar-benar bisa konsisten bersaing di level atas. Ada pula yang sudah tersisih dari Pelatnas, baik karena mengundurkan diri ataupun cedera.
Sedangkan angkatan Fajar Alfian dan kawan-kawan mendekati dan sudah memasuki usia 30-an. Mereka sudah punya kedudukan seperti Hendra dan Liliyana di era 2012-2016.
Namun harus diakui bahwa memang sulit menyamai level Hendra dan Liliyana yang bisa main konsisten, terutama di ajang besar.
========
Dengan ukuran Indonesia sebagai negara besar, tak ada juara di All England 2026 jelas masuk kategori gagal.
Namun di balik kegagalan itu, bila mengukur formasi kekuatan Indonesia, ada lubang yang menganga.
Setelah era Jonatan dan Ginting, kini status andalan langsung lompat ke Alwi Farhan.
Di nomor ganda putra, setelah era Fajar/Rian kini langsung melompat ke Raymond/Joaquin yang hadir sebagai sosok yang diharapkan meskipun Fajar/Fikri harus diakui masih bisa disebut masuk ke persaingan di kelompok elite.
Begitu juga dengan Jafar/Felisha di ganda campuran kini langsung melompati generasi di atasnya untuk jadi pemain nomor satu Indonesia.
Jadi untuk saat ini, pemain-pemain muda yang mulai berlabel sebagai andalan utama, harus siap bahwa segalanya tak akan lagi sama. Bahwa mereka harus siap disorot jika Indonesia gagal menjadi juara.