️️
️️
“Lagian, hubungan kita halal, kok! Kita nikah! Kita sah secara agama dan hukum dan negara!”
Taufan menghentikan ucapannya. Ia terengah-engah, kelelahan.
: @POLEMlK.
️️
️️
️️
️️
“Ay, ya Tuhaaaaan! Kamu tau enggak, prosedur aborsi itu gimana?” Taufan menatap Ayska. “Perut aku harus dibedel, Ay! Aku harus operasi! Aku enggak bisa, enggak boleh pokoknya sampai operasi sampai harus kuret-kuret dan segala maceeeem!”
Taufan menjerit.
️️
️️
@POLEMlK ️️
️️
Taufan menghela napasnya, panjang sekali. Penjelasan dari Ayska entah mengapa membuat hatinya teriris. Jelas, sebagai ‘yang menanggung’ semuanya, Taufan harus mampu tegas dalam memutuskan. Apapun keputusan itu, yang tentu saja, tak boleh didasari oleh ego.
️️
️️
️️
️️
Taufan mengusap air matanya. Ia membuka mata dan menatap Ayska.
“Kita enggak usah basa-basi.”
“Sekarang, jawab aku.”
“Kenapa kamu lari?”
: @POLEMlK.
️️
️️
@POLEMlK ️️
️️
Taufan mengangguk. Namun, saat Ayska menyentuh perutnya, ia memejamkan mata. Taufan menghembuskan napas dengan pelan, menikmati sentuhan Ayska di sana.
Hingga ia sadar, ada pembicaraan yang harus dibahas dan dua pikiran yang harus disatukan.
️️
️️
️️
️️
Kali ini, pintu itu ia kunci dan kuncinya ia masukkan ke dalam kantung baju. Setidaknya, Ayska tidak akan bisa lari lagi.
“Duduk. Ayo bicarakan dengan kepala dingin.”
: @POLEMlK.
️️
️️
@POLEMlK ️️
️️
Taufan terengah. Kepalanya terasa pening tetapi ia masih bisa mencerna ucapan Ayska yang tiba-tiba datang.
“Masuk ke dalem dulu. Biar pintunya aku tutup.” Taufan melepaskan tangannya dari genggaman Ayska dengan paksa. Pintu rumah lantas ia tutup.
️️
️️
️️
️️
Pesan-pesan Ayska tak Taufan jawab. Lelaki itu memutuskan untuk bangkit dari posisinya dan meninggalkan film yang ia tonton begitu saja.
Di dorong oleh hasrat untuk menjerit di hadapan wajah si egois bernama Ayska, Taufan membuka pintu rumahnya.
️️
️️