Bisa di normalisasi gak ya pidato kayak gini : (gaya koboi tapi lebih bermakna)
- ngk perlu ucap syukur ke TYME toh perilaku ngk mencerminkan juga
- ngk perlu sebut satu2 penjabat yg hadir, kayak absensi
- ngk perlu main tebak2an
- apalagi coba matematika dasar
- ngk perlu senggol hal diluar agenda
- to the point
- yg penting topik dan tujuan utama tercapai
- pesan yg ingin disampaikan tidak terburaikan
- yok bisa yok
Ada fakta menarik lainnya bahwa Fir'aun tidak pernah sakit, karena setiap lubang seperti jendela, ventilasi, pintu dll nya yg dipakai bisa untuk keluar masuk itu semuanya ada lafadz “bismillahirrahmanirrahim” nya, dan itu yang membuat dia juga sehat sampe akhir hayatnya, jadi lafadz “bismillahirrahmanirrahim” itu sangatlah dahsyat keberkahannya.
and thats why mengapa Fir'aun tidak langsung dibinasakan di istananya
Briella ini kayaknya punya kecenderungan sebagai sensory seeker. FYI, anak-anak seperti Briella sebenarnya memiliki potensi kecerdasan kinestetik yang luar biasa tinggi. Mereka adalah risk taker sejati, yang membuat kepercayaan diri mereka tumbuh dengan sangat kuat. Sifat ini juga biasanya berbarengan dengan resiliensi atau daya lenting mental yang luar biasa.
Dengan intervensi dan arahan yang tepat, anak-anak dengan karakter ini memiliki bakat alami untuk menjadi seorang pemimpin. Secara alamiah, mereka berani memulai, berani mencoba, dan tidak takut untuk bangkit lagi ketika gagal.
Untuk para orang tua yang memiliki anak dengan temperamen dan perilaku serupa, kalian harus benar-benar menyadari potensi besar ini. Kalian adalah orang tua terpilih yang beruntung!
Anak-anak dengan energi sebesar ini pantang untuk dibatasi ruang geraknya atau dimarahi. Energi mereka harus disalurkan ke aktivitas fisik yang terarah, misalnya:
-Mendaftarkan anak ke kelas senam (gymnastics), wall climbing, atau les renang.
-Mengajak mereka ke taman untuk melakukan permainan fisik yang menguras tenaga, seperti lari-larian, melompat, main bola, bisbol, atau memanjat di fasilitas yang aman.
Jika setelah disalurkan hiperaktivitasnya tetap tidak berkurang, anak benar-benar tidak bisa fokus, atau terlalu impulsif hingga sering membahayakan diri sendiri, jangan ragu untuk membawanya ke psikolog klinis anak atau psikiater anak. Ini penting untuk mengevaluasi apakah ada indikasi ke arah ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).
BEDA MASA BEDA ISTILAH
(untuk para boomer agar nyambung ke Gen Z)
Dulu termos sekarang tumbler.
Dulu parsel sekarang hampers.
Dulu loakan sekarang preloved.
Dulu ngamuk sekarang tantrum.
Dulu pagar-ayu sekarang bridesmaid.
Dulu bercerita sekarang spill.
Dulu ingin tahu sekarang kepo.
Dulu galau sekarang overthinking.
Dulu makanan dibungkus sekarang take away.
Dulu caper, sekarang pick-me.
Dulu piknik sekarang healing.
Dulu ngeluyur sekarang travelling.
Dulu muhibah sekarang studi banding.
Dulu prihatin sekarang low budget lifestyle.
Dulu sensitif sekarang baperan.
Dulu her sekarang remedial.
Dulu ngirit sekarang frugal living.
Dulu banci, homo, lesbian sekarang LGBTQ.
Dulu warkop (warung kopi) sekarang cafe.
Dulu cukong sekarang sugar daddy.
Dulu testing sekarang UAS.
Dulu NEM sekarang TKA.
Dulu buruan sekarang gercep.
Dulu tustel sekarang kamera.
Dulu blitz sekarang flash.
Dulu es teh sekarang ice tea.
Dulu pecel sekarang salad.
Dulu sepiring 2 ribu sekarang 20 ribu.
Dulu gemuk tembem sekarang gemoy.
Dulu tanggal tua sekarang intermittent fasting.
Dulu programming sekarang coding.
Dulu sahabat sekarang bestie.
Dulu karyawisata sekarang class outing.
Dulu camping sekarang glamping.
Dulu bantingan sekarang split bill cc.
Dulu siomay sekarang dimsum.
Dulu oblong sekarang t-shirt.
Dulu mencongak sekarang imla.
Dulu pelonco sekarang bully.
Dulu mas, kang, uda sekarang bro.
Dulu mbak, teteh, uni sekarang sis.
Dulu numpang tenar sekarang clout chasing.
Dulu pamer sekarang flexing.
Dulu beli loakan sekarang thrifting.
Dulu ikut-ikutan sekarang FOMO.
Dulu diam-diam menghilang sekarang ghosting.
Dulu pacaran sekarang dating.
Dulu kenalan sekarang networking.
Dulu jualan sekarang live shopping.
Dulu kelontong sekarang minimarket.
Dulu telepon rumah sekarang video call.
Dulu surat sekarang DM.
Dulu pos kilat sekarang gmail.
Dulu wesel sekarang transfer atau qris.
Dulu suasana sekarang vibe.
Dulu kesebelasan sekarang squad.
Dulu tanya ke "orang pintar" sekarang tanya ke AI.
Dan jangan lupa ...
Dulu 7 ribu sekarang 18 ribu.
Alhamdulillah punya ibu yang nggak begitu. Kalau tahu harga barang yang dibeli mahal paling cuma "ha? larang men. gak popo ye? pisan-pisan yo."
Udah!!
Tapi kalau bapak, pasti langsung pasang wajah gak enak. Kecewa anaknya hambur-hamburin uang.
kenapa dah ibu2 kalau diajak makan di luar suka comment jelek2in makanannya di restorannya 😭😭😭 WHY ARE YOU TRYING TO GET US KICKED OUT OMG SHUT UP 😭😭😭😭
Baru tau jir ternyata ungkapan tujuh turunan tuh punya basic ilmiah.
Kirain cuma keasbunan orang tua zaman dulu aja 🤣
Setelah baca2, teorinya tuh tiap orang nerima sekitar 50% DNA autosomal dari masing2 orang tua
Maka:
- Orang tua → 50%
- Kakek/nenek → 25%
- Buyut → 12,5%
- Generasi ke-5 → 6,25%
- Generasi ke-6 → 3,125%
- Generasi ke-7 → 1,56%
- Generasi ke-8 → sekitar 0,78%
Bener dong klo less than 1% hahaha. Berarti nyumpahin orang sampe tujuh turunan tuh punya basic ilmiah 🤣
momen purbaya hampir marah karna di tanyain pernah komplain gk ke prabowo soal penggunaan APBN
Denny: begini loh, Pak. Maaf ya. Kalau mindsetnya kan begini: saya punya uang, uang saya dipakai untuk program itu. Saya kan bisa dong ngomong, "Pak, itu kenapa uang saya dipakai buat program begitu?"
Purbaya: Itu kata siapa? kata siapa saya belum pernah ngomong.
Denny: Oke.
Purbaya: Saya enggak usah ngomong sama Anda. Anda bos saya bukan… saya enggak perlu lapor sama Anda kalau ngomong.
Denny: Cuma masyarakat kan pengin tahu apakah komunikasi ini terjadi.
Purbaya: emang anda bos saya?
Purbaya: harus lapor keanda tiap x kali saya ada komplain?
Denny: diam sejenak heran kok begini jawabannya
Di Amerika, harga buku hanya setara satu jam kerja. Upah minimum di sana sekitar $15/jam, sedangkan harga buku $15-20. Artinya mereka bisa membeli satu buku hanya dengan 1 jam kerja, seperti halnya kita membeli es teh jumbo di pinggir jalan.
Di Jepang, satu buku juga bisa dibeli dengan satu jam kerja. Upah minimum disana sekitar ¥1000-1200/jam. Harga buku ¥900-1300.
Di Jerman, satu buku = satu makan siang. Hanya dengan 2 jam kerja.
Di Inggris, satu buku bisa dibeli hanya dengan setengah jam kerja. Buku bukan jadi barang yang harus ditimbang antara 'beli atau tidak' buku sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari seperti roti.
Di Norwegia, negara ikut menanggung harga buku, negara hadir memberikan subsidi dan distribusi yang merata, karena mereka percaya: bangsa yang cerdas dimulai dari buku yang mudah disentuh.
Di Malaysia. Buku masih bisa dijangkau hanya dengan 2 jam kerja.
Singapura. Satu buku bisa dibeli dari sisa makan siang.
cara parenting ibu Kenkulus (Chika):
- cemilan buatan sendiri,
- tidak kenal jajan sembarangan
- jam 8 malam sudah tidur, bangun jam 3.30 pagi karena hormon pertumbuhan terbesar saat malam
- kenalkan buku sejak lahir, latih 7 sistem sensori
- libatkan Ken di kegiatan sehari-hari
- Tidak langsung benarkan jawaban anak
- biarkan berimajinasi dulu, baru arahkan
- Kenalkan kegagalan sejak dini
- sengaja buat kompetisi kecil & biarkan kalah
- fokus bukan pada kepintaran akademis
- tapi bangun fondasi karakter, empati,