Saya Ragu Merger Garuda Indonesia dan Pelita Air Akan Menguntungkan Indonesia!
Wacana merger antara Garuda Indonesia dan Pelita Air kembali muncul, tapi saya tegas menolak ide ini! Jika Pertamina ingin mendivestasi Pelita, silakan, tetapi jangan di-merger dengan Garuda. Sebaliknya, Pelita sebaiknya dijual mayoritas sahamnya ke sektor swasta atau ditempatkan di bawah Danantara, setara dengan Garuda, agar kedua maskapai tetap independen. Berikut alasan saya:
1. Garuda Butuh Pemulihan vs Pasar Domestik Butuh Kompetisi
Garuda sedang berjuang untuk pulih dari krisis keuangannya paska PKPU. Sementara itu, sektor penerbangan domestik membutuhkan kompetisi yang sehat. Namun, keengganan pemerintah untuk menaikkan Tarif Batas Atas membuat pasar penerbangan Indonesia kurang menarik bagi investasi. Hal ini menghambat kompetisi karena memberikan disinsentif bagi pemain baru untuk masuk ke pasar. Pelita, dengan kinerja solid dan keuangan stabil, telah mengisi celah ini dengan baik. Merger justru berisiko mengurangi kompetisi dan melemahkan dinamika pasar.
2. Garuda dan Pelita Punya Peran Berbeda
Garuda harus fokus pada rencana bisnisnya untuk keluar dari krisisnya, sementara Pelita harus tetap menjadi maskapai dengan pertumbuhan konservatif yang mengutamakan kualitas layanan, bukan prestige nasional. Pelita berfungsi sebagai cadangan strategis jika Garuda gagal pulih. Jika merger terjadi dan Garuda tidak kunjung membaik, apa jadinya? Apakah Pertamina harus membangun ulang Pelita dari nol untuk penerbangan berjadwal? Kan konyol.
3. Aliansi ataupun Merger, KPPU Harus Siaga
Jika tidak merger terapi kerja sama dipertimbangkan, aliansi domestik mungkin bisa menjadi opsi, tetapi KPPU harus siaga untuk memastikan bahwa aliansi atau merger tidak menggerus kompetisi. Jika merger menciptakan dominasi pasar dan membuahkan anti-competitive behaviour, KPPU harus bertindak tegas demi menjaga kepentingan konsumen dan pasar yang sehat.
4. Garuda Harus Mandiri, Bukan Bergantung pada Intervensi Pemerintah
Garuda harus bisa bangkit dengan kemampuannya sendiri, bukan melalui intervensi pemerintah yang mengurangi kompetisi pasar. Merger bukan solusi, melainkan cara instan yang berisiko memperburuk masalah.
5. Masalah Garuda Tidak Selesai dengan Uang atau Merger
Garuda punya segudang masalah, dari utang hingga manajemen. Solusinya bukan sekadar suntikan dana atau merger dengan maskapai BUMN lain seperti Pelita. Merger hanya akan menambah beban operasional dan integrasi, tanpa menyelesaikan akar masalah.
6. Divestasi Pelita: Swasta atau Danantara, Bukan Merger
Jika Pertamina ingin mendivestasi Pelita, ada dua opsi yang lebih masuk akal: jual mayoritas sahamnya ke sektor swasta untuk meningkatkan efisiensi dan inovasi, atau tempatkan Pelita di bawah Danantara, setara dengan Garuda. Dengan begitu, kedua maskapai bisa tetap independen, menjaga kompetisi, dan beroperasi tanpa beban masalah satu sama lain.
7. Logika Keuangan Merger Yang Bermasalah
Garuda punya utang besar, termasuk ke Pertamina. Jika Pelita (anak perusahaan Pertamina) di-merger dengan Garuda, bagaimana logika keuangannya? Masa perusahaan A (Garuda) yang berutang ke B (Pertamina) “diberi” perusahaan C (Pelita) untuk pemulihan? Bagaimana dampaknya pada ekuitas Garuda, yang sudah nyaris tidak berkelanjutan? Jika Pelita punya utang, apakah Garuda harus menanggungnya juga? Jika ekuitas Garuda jadi negatif lagi karena merger, ini justru kontraproduktif dan tidak masuk akal.
Merger Garuda dan Pelita berisiko mengganggu kompetisi, melemahkan pemulihan Garuda, dan menghilangkan cadangan strategis Pelita. Kebijakan Tarif Batas Atas yang tidak disesuaikan telah menghambat investasi dan kompetisi, dan merger hanya akan memperburuk situasi. Jika divestasi Pelita diperlukan, menjualnya ke swasta atau menempatkannya di bawah Danantara sebagai entitas setara Garuda jauh lebih logis. Garuda harus fokus memperbaiki diri sendiri, tanpa campur tangan pemerintah yang mengorbankan dinamika pasar. KPPU harus siaga untuk memastikan langkah apa pun tidak merugikan konsumen atau pasar. Kalau merger gagal dan Garuda tidak pulih, apa untungnya bagi Indonesia?
I really dislike the smell of roses and diesel fuel being cooked. It feels like watching seawater disappear after an earthquake and then return as a tsunami. Tomorrow afternoon, after our flag is lowered and stored, hopefully there won't be a tsunami...
@TMCPoldaMetro Hanya berselang waktu hampir 2 jam, 2 korban laka TU di didaerah yang berdekatan. Ada apa dengan para pengemudi dan pengendara hari ini. Tetap fokus berkendara, patuhi aturan lalu lintas, jaga keselamatan anda maupun orang² disekitar anda, jangan lupa berdoa.
@TMCPoldaMetro Semudah itu bikin ini mobil yg ribet netralinnya jadi posisi neutral transmisinya. Pasti mati total dan elektrikalnya jg mati. Tinggal buka kap mesin, buka cover mesin dan tuas kecil di sebelah kanan atas cilinder head, tarik sampai bunyi klik.. netral lah dia dan EPB off.
@TMCPoldaMetro Minimal di halau oleh petugas yang seperti itu, kalau ngeyel di tilang dengan dobel pengurangan point. Jika point habis cabut simnya baru bisa bikin lagi 1 tahun kemudian.
@neVerAl0nely Adakah larangan plat nomor CD untuk keluar dari Jakarta? Apapun jenis dan merek mobilnya, selama mereka mematuhi peraturan lalu lintas dan mereka diperiksa hanya karena kepo atas laporan warga yg jg kepo. Siap² aja gak di kota lagi jaganya
@ridwanhr Bang, yang suka ngaku skill mengemudinya jelek biasanya punya skill dewa, nah yg skillnya memang jelek ngakunya lebih dari max verstappen (jkt-mandalika 5 jam).