Bimbinglah lisan kita untuk selalu berzikir dan membaca al-Quran, ajari mata kita untuk menunduk agar tdk melihat kemaksiatan, didiklah tangan kita agar selalu berbuat kebaikan....
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
We are outraged. An Indonesian peacekeeper is murdered. Another is fighting for his life. Israel bombed the base where they served.
This is clearly not an accident, nor a collateral damage. This is Netanyahu’s regime showing, once again, that they don’t care about international law, about UN personnel, and about the lives of those who dedicate themselves to peace.
Indonesia has gone above and beyond. We have sent over 1,200 of our troops to serve under the UN flag. The Indonesian government also joined the Board of Peace to push for a just and lasting resolution in the Middle East. We extended our hand in good faith. Yet the answer to that good faith is a bomb dropped on our soldiers’ base. They spat on every effort Indonesia has made for peace.
But let us be honest, this is not surprising. Netanyahu’s regime has shown time and again that they are indifferent to the world’s calls for restraint. They ignore UN resolutions. They strike UN facilities. They kill civilians, journalists, aid workers, and now peacekeepers. No one is off-limits. No one is safe. Sadly, it keeps going because the world keeps allowing it.
To the UN Secretary-General, we appreciate your condemnation and your condolences. But words are not enough anymore. The UN must move beyond statements. Concrete, enforceable, and urgent action is what this moment demands. The credibility of the UN is on the line. If the world body cannot protect its own peacekeepers, what exactly is it protecting?
To the nations of the world, now is the time to act together. Push for accountability. Refer those responsible to international courts. Enforce the rules that you all signed up to uphold. International law is only as strong as the willingness of nations to defend it. That willingness has been tested over and over again by Netanyahu’s regime. For countless of times, the world has failed the test.
Do not let this death be forgotten in a news cycle. Do not let this become just another statistic in a long list of violations. Demand justice. Demand accountability. Make clear that those who attack UN peacekeepers will face real consequences.
Kepada prajurit TNI yang gugur, selamat jalan, Pahlawan. Doa kami menyertai, juga bagi keluarga yang ditinggalkan. Kepada yang terluka, semoga lekas pulih. Indonesia berduka, tapi kita yakin, Indonesia tidak akan diam.
Semua masih ingat kalau Indonesia adalah pelopor dan tuan rumah Konferensi Asia Afrika. Tapi masih ingat kah apa yg disepakati di sana? Dasasila Bandung namanya, dan ini poin-poinnya…
(12/13) Itulah contoh2 program yg dulu dihadirkan, dimulai dari empati, disusun secara sistematis. Masih banyak yg lain: berbagai bansos, revitalisasi kampung, hingga perlindungan utk kelompok rentan. Tentu masih banyak ruang utk perbaikan. Keadilan sosial itu perjuangan panjang.
(11/13) Lalu ada yg ingatkan soal kurangnya pengetahuan pada segmen ekonomi rendah. Maka Dinas PPAPP, Dinkes, dan PKK proaktif turun ke lapangan utk sosialisasi keluarga berencana, konseling keluarga, hingga edukasi ttg hak2 reproduksi. Pencegahan dimulai dari pengetahuan.
(10/13) Ada juga hipotesis: seks jadi hiburan tersisa bagi pasutri miskin. Maka Pemprov buka ruang2 rekreasi yg setara: ratusan taman kota, ruang publik baru, ribuan titik JakWifi, revitalisasi Kota Tua, acara budaya gratis, dll. Karena hiburan itu hak warga, bukan privilese.
(9/13) Saat kita tahu org miskin punya bnyk anak krn dianggap investasi sosial, maka Pemprov buat solusi agar tak perlu menunggu anak utk “naik kelas”. Pasar murah, Jaklingko gratis, Jakpreneur, subsidi pendidikan, dll, utk yakinkan warga kalau mereka bisa naik kelas dari skrg.
(8/13) Bila kita tahu org miskin punya bnyk anak krn cari jaminan hari tua, maka Pemprov hadir beri kepastian. Mulai perluasan kepesertaan BPJS (dari 1/4 warga tak terlindungi jadi seluruh warga terlindungi), program Kartu Lansia Jakarta, dan peningkatan yankes utk lansia rentan.
(7/13) Di Jakarta, pendekatannya adalah, mulai dari cari akar masalah, dituntun oleh empati, lalu diselesaikan lewat sistem. Bukan sekadar karitatif atau performatif. Karena kemiskinan itu struktural, maka solusinya tentu juga harus sistemik.
Bukan soal di era saya, tapi memang fonnya bagus sekali dan jadi kesukaan banyak desainer. Jakarta beruntung sekali dapat fon istimewa seperti ini. Hormat ke Mas @________gumpita dari @tokotype sebagai penciptanya.
Buat para desainer yang pernah pakai Plus Jakarta Sans, coba taruh karyanya di bawah. Kita dorong Plus Jakarta Sans jadi melegenda seperti Helvetica.
Ok, sesuai permintaan @zakikeyy, buku panduan jenama kota +Jakarta sudah diunggah ke LinkedIn ya. Ini tautannya: https://t.co/EFuUE6Diei
Saat membaca bukunya, sulit untuk tidak dibuat kagum oleh hasil karya teman-teman di 6616 Creative House ini. Ada mbak Frances Cherry dan mas Teddy Kuntjoro yang memimpin, lalu mas Kevin Arfandy sebagai creative director, dan saat itu kita juga dibantu sepenuhnya oleh mas @iwetramadhan sebagai penasihat dalam proses kreasi jenama kota ini. Cek akun mereka di IG: @6616__.
Konsep jenama kota yang mereka buat benar-benar berlapis dan mendalam. Ada banyak “easter egg” di dalamnya. Misal beberapa di antaranya, apa teman-teman tahu kalau:
1. Logo +Jakarta memiliki simbol lima bujur sangkar dan satu segitiga di kiri atas, melambangkan lima kota administrasi dan satu kabupaten administrasi di Jakarta. Saat digunakan sebagai penanda wilayah tertentu, kotak/segitiga wilayah tersebut hanya berupa garis luar tanpa warna solid.
2. Memiliki palet warna "Menor" terdiri dari enam warna khas: Hijau Betawi, Kuning Gigi Balang, Jingga Bis Kota, Biru Abang, Pink None, dan Biru Pesisir.
3. Logo +Jakarta dirancang untuk bisa digabung dengan logo lain dalam acara/proyek kolaboratif, dibaca sebagai “entitas plus Jakarta". Contohnya: Jaklingko plus Jakarta, Java Jazz plus Jakarta, bahkan kita bisa buat sendiri seperti Anies plus Jakarta atau pesepeda plus Jakarta.
4. Menggunakan fon Plus Jakarta Sans karya mas @________gumpita dari @tokotype, yang khusus diciptakan untuk jenama kota +Jakarta, dengan banyak huruf memiliki variasi desain hingga tiga variasi. (Coba perhatikan tiga huruf a berbeda di logonya.) Ini menggambarkan Jakarta yang harmonis dalam keragaman.
Membaca buku ini membuat kita paham: desain itu jelas ada ilmunya. Jenama kota juga bukan slogan politik dan tak seharusnya bergantung hanya pada selera pribadi pemimpin kotanya. Walaupun demikian, penerapan jenama kota tetap sepenuhnya menjadi kewenangan pemimpin kota. Berbagi buku panduan +Jakarta kali ini tujuannya lebih untuk menjadi pelajaran dan, semoga, menjadi inspirasi bagi kota-kota lain. Selamat membaca!
@ProfesorZubairi Selain doa yang rutin saya berdoa agar saya & orang2 terkasih dapat menjadi cycle breaker dalam intergenerational trauma yg ada. Mental health issue ternyata nyata di masyarakat kita.
Akhirnya program Kampung Deret, akibat jadi penemuan BPK selama 2 th, DISTOP sama Ahok. Ahok mengalihkan anggaran perbaikan kampung ke .... BIKIN RPTRA (YES, jaka sembung juga).
Program Kampung Deret itu tipikal cara kerja Mulyono:
bangun bangun bangun kerja kerja doang gak pakai otak. Dan begitu ada masalah fundamental, seperti tata ruang dan pertanahan (serta konflik warga), ditinggal kabur dan gak diselesaikan. Program malah dibatalkan.
Pengalaman buruk Kampung Deret ini pernah membuat para ASN DPRKP trauma, dan agak lambat saat memulai program Community Action Plan di 2018.
3. Selain itu, BPK juga menemukan ada masalah tanah pada kampung deret, selain tata ruangnya bermasalah.
Ini sumber dari BPK langsung ye ...
Tanah Rumah Flat kami? Kami berbadan hukum, koperasi, Tanah SHM, perjanjian hukum, dll. Zonasi di RDTR sdh mendukung utk ijin dll.
https://t.co/gLazeK7NxQ
2. Kampung Deret menjadi temuan BPK di 2014 karena ada yang dibangun tidak sesuai dengan tata ruangnya. Bahkan ada yang di jalur hijau dan tepi kali.
Sebetulnya Kampung Deret hampir bisa dibangun dimana saja - karena dia R biasa, tp saat itupun RDTR 2014 tidak mengadopsi kepadatan tinggi. Sudah lokasi salah, produk RDTR nya juga gak progresif. Itu keluaran era Mulyono, btw. (Perda 1/2014)
Rumah Flat kami sesuai dengan zonasi yang ada. Salah satu advokasi kami ya ada zonasi baru Rumah Flat, yg bisa dibangun di hampir seluruh wilayah DKI. Ini ada di Pergub 32/2022.
Di sini paham bedanya?
@okinedition 1. Kampung Deret adalah rumah tapak untuk single family. Sementara Rumah Flat kami adalah rumah dengan kepadatan sedang dan bertingkat sedang (4-6 lantai) yang dapat dihuni oleh Multifamily. Rumah Flat adalah jenis peruntukan baru yang ada dalam Pergub 32/2022 tentang RDTR.
"Rumah" Deret (yang bener namanya Kampung Deret ya mas @okinedition) adalah proyek fafifu Mulyono saat jadi Gub DKI di 2012. FYI, kalau Rumah Deret (alias rudet) adanya di Bandung, itu juga problematik hasil kerjaan Ridwan Kamil pasca gusur paksa Taman Sari.
Salah satu Kampung Deret yg sering disebut2 adalah Petogogan.
Mari kita bedah satu2 PERBEDAANNYA, agar ketahuan jaka sambung bawa goloknya.
Karena @okinedition menyamakan Rumah Flat kami dengan Rumah Deret (OMG😱) nya Mulyono, sementara dia ngeblok saya, maka saya buat thread utk menjelaskan PERBEDAAN BESAR & MENDASAR dgn Rumah Deret yg bermasalah dan jadi temuan BPK itu.