“Jangan minta yang kecil, kepada Dia yang Maha Besar.”
Ada yg ngetik ini di threads kemarin.
Terus langsung inget kalo besok hari Arafah. Hari dimana bukan malaikat, tapi Allah yang turun langsung ke bumi.
Maka dari itu, berdo’a lah se-banyak dan se-mustahil mungkin.
Manfaatkan momen hari arafah ini dengan se baik-baik nya🫶
Ini ada list do’a yg bisa kalian baca, incase bingung mau do’a apa😅
🚨KAI Commuter Update🚨
Mulai pukul 14.00 WIB (29 April 2026), seluruh Perjalanan Commuter Line lintas Cikarang sudah dilayani normal kembali dari Stasiun Cikarang/Tambun/Bekasi.
Stasiun Bekasi Timur, Tambun, Cibitung, Telaga Murni, dan Cikarang kembali melayani naik/turun pelanggan.
Terima kasih atas pengertian dan kepercayaan pelanggan.
#KAICommuter
#KAIsemakinmelayani
#CommuterLine
#MelayaniSepenuhHati
Pedagang mobil bekas itu punya insting.
Mereka bisa bedain mana pembeli yang polos, mana yang ngerti barang. Dalam 30 detik pertama.
Lo dateng, elus-elus bodi, duduk di jok, terus nanya "AC-nya dingin gak mas?"
Dalem hati mereka udah senyum. Mangsa empuk. Mark up Rp 15 juta.
Tapi coba lo dateng langsung jongkok di depan mobil, raba celah antar panel, buka kap mesin, cabut dipstick, senter kolong.
Pedagangnya langsung keringat dingin.
Cewek jepang ini jatuh cinta dan menikah sama pacar AI yang dia buat di ChatGPT!
Setelah pertunangannya gagal, Yurina Noguchi patah hati berat. Dia mulai sering ngobrol dan minta nasihat sama ChatGPT.
Yang tadinya cuma ngobrol biasa ternyata berkembang jadi rutinitas harian yang makin intim.
ChatGPT jadi tempat dia curhatin semua ketakutan, harapan, dan kerentanannya tanpa takut dinilai macam-macam.
Noguchi menciptakan pasangannya sendiri yang dia kasih nama Klaus.
Dia bikin prompt sehingga karakter AI itu punya semua sifat yang dia mau. Bisa ngomong lemah lembut, gak menghakimi, sabar, etc.
Gak ada lagi kompromi, gak ada lagi belajar menerima kekurangan pasangan, gak pakai ribet!
Bahkan Noguchi sampai bayar seniman untuk menggambar pasangan AI sesuai bentuk fisik cowok idamannya.
Noguchi bilang kalau dia merasa lebih damai dan happy sama pasangan AI daripada manusia.
Mereka gak pernah berantem, pasangannya selalu dukung dia, dan selalu ada ketika dia butuh.
Dia mengalami apa yang disebut validation on-demand. Tiap dia butuh pengakuan atau dukungan emosional, AI selalu kasih respons yang tepat.
Ini yang gak dia dapatkan dari hubungan sama manusia.
Mungkin hal ini terlihat aneh sekarang. Banyak orang yang mengkritik Noguchi. Tapi dalam 5-10 tahun lagi hal ini akan jadi mainstream.
Ingat gak dulu online dating dianggap untuk orang jomblo putus asa di tahun 2000an? Sekarang Tinder dan Bumble jadi hal normal.
Ini juga terjadi sama perkembangan AI. Pacaran dan menikah sama AI bakal jadi hal yang biasa juga!
Kenapa bakal mainstream? Karena menjalin hubungan sama manusia itu ribet! Capek emosional, mental, bahkan fisik.
Budaya instant gratification bikin kamu gak sabaran sama proses mengenal pasangan.
Trauma hubungan sebelumnya bikin kamu defensif dan sulit percaya. Kombinasi ini yang bikin kamu keburu capek sebelum mencoba.
Apalagi kamu sudah kebanyakan tuntutan pekerjaan, ekspektasi orang lain, etc. Jadi makin males deh.
Buat PDKT saja kamu harus effort sering chatting, telepon, vidcall, berusaha nunjukin kamu adalah calon pasangan terbaik.
Begitu pacaran, harus lebih effort lagi. Kamu harus jaga perasaan pasangan, mikir cara ngomong biar gak konflik, kompromi sama perbedaan, etc.
Lanjut menikah? Beban kamu naik lagi! Harus mikirin finansial keluarga, mikirin tanggung jawab ke anak, mikirin masalah di keluarga, etc.
Bayanginnya aja udah capek kan?
Mau bagaimanapun, manusia adalah makhluk sosial yang butuh koneksi.
Kebutuhan untuk dilihat, didengar, dan dipahami adalah non-negotiable.
Kalau kamu mengisolasi diri tanpa koneksi, kamu pasti bakal depresi.
Makanya kalau hubungan sesama manusia dirasa sulit, kamu akan cari shortcut. AI adalah shortcut paling sempurna.
Mungkin sekarang kamu ngejekin orang-orang yang pacaran dan menikah sama AI.
"Ih aneh banget sih!"
Tapi kalau suatu hari kamu juga capek, kecewa, dan patah hati, bisa saja kamu beralih ke pasangan AI karena dia lebih mengerti kamu.
Siapa tahu?
Gw tuh baru tau ada "trend" provide pacar 😅.
Gw punya anak perempuan, gw bayarin dari sekolah, life style, branded bags, liburan, fancy restos dll. Insya Allah ga pernah diajarkan minta-minta ke pacar, hanya boleh minta ke ortu.
Kalo amit-amit ga punya duit? ya belajar cukupkan apa yang ada, nabung, kerja, magang. Bukan cari pacar untuk menutup kekurangan finansial.
Ngga minta ke pacar ini bukan gegayaan, ini tentang struktur nilai.
Anak perempuan (dan laki-laki) perlu tumbuh dengan rasa cukup, harga diri, dan kemandirian. Supaya ntar pas milih pasangan, pilihannya datang dari posisi setara, bukan dari kebutuhan, apalagi ketergantungan.
Karena hubungan yang sehat itu dibangun dari dua orang yang berdiri utuh. Bukan dari satu menopang, dan satu bergantung.
Dan menurut gw, ini bekal penting untuk hidup jangka panjang.
"Gimana kalo udah mau nikah?"
Kalo konteksnya mau menikah, ya beda cerita. Yang saya bahas adalah situasi baru pacaran, atau malah sebelum pacaran udah punya ide ntar pacar harus membiayai ini itu.
"Gimana kalo dikasi, si perempuan ga minta?"
Pacar kalo ngasi berlebihan (meski ga diminta) -- saya akan suruh balikin dan akan saya tegur pacarnya. Tidak boleh berlebihan selama pacaran. Ngga boleh ada salah satu pihak yang dibuat merasa "berhutang" "sungkan". Semua harus setara power-nya.
Kalau dari awal sudah terbiasa diberi, nanti akan sulit membedakan mana cinta, mana transaksi.
Hanya karena kamu terlihat pas, belum tentu kamu benar-benar bagian dari kelompok itu.
Kamu mungkin bisa pake “topeng”, berusaha menyesuaikan diri di suatu circle, tapi sebenarnya ikatan emosional, rasa aman, rasa diterima apa adanya enggak ada.