Biangmie tutup permanen karena tidak sanggup bertahan di tengah kenaikan harga bahan baku dan operasional lainnya. Mereka juga nge-spill resep dan racikan mereka biar orang bisa coba bikin sendiri di rumah🥺
Tri Rama Dandi (26), driver ojek online di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra) harus menjadi ayah sekaligus ibu bagi anak laki-lakinya yang berusia 1 tahun 6 bulan bernama Muhammad Al-Faizih.
Setiap kali pesanan dengan jarak dekat masuk, Tri Rama harus meninggalkan anaknya seorang diri di dalam kamar kos-kosan sempit tanpa dititipkan ke ibunya ataupun pengasuh.
"Hal terburuk yang pernah terpikirkan adalah b*nvh diri. Tapi anak saya yang membuat saya bertahan. Dia alasan saya masih ada sampai sekarang," tuturnya.
Meski hubungan dengan keluarga besarnya tetap baik, Tri memilih berjuang sendiri. la tidak ingin menjadi beban bagi orang tua maupun kerabatnya. la juga memilih tidak lagi membuka luk4 lama tentang perpisahannya dengan sang istri. Sebab, masa lalu itu begitu sakit, apalagi sebuah penghianatan.
"Sekarang saya cuma fokus kerja untuk anakku. Dari kecil dia ditinggal, dan sampai sekarang anak saya tidak pernah merasakan air susu ataupun kehangatan seorang ibu," ucapnya.
Kenapa Prabowo kemungkinan besar terpilih lagi?
Kekuatan pendukung Prabowo di pemilu 2029:
1. 1,28 juta karyawan SPPG + Investornya
2. Pejabat pemilik dapur
3. 35k - 800k pegawai kopdes
4. Parcok-Parjo, Pekerja hukum
5. Partai pemilik dapur
6. Artis + Buzzer ( Karena terbukti bisa dikasih posisi komisaris kalau ngebacot )
7. Guru sekolah rakyat
8. Pemilik lahan sawit
9. Pegawai pabrik kilang B-50
10. Pengusaha peternakan dan telur ayam plus karyawannya
8. Pengusaha ayam potong plus karyawannya
9. Sales pickup dan truk, terutama yang menang tender kopdes.
10. SDM rendah
Dahlah gaes. Gak ada harapan.
Kita harus mengakui, Febrie Adriansyah, mental-nya bukan kaleng-kaleng.
Gak mental 'tempe'.
Bayangi, rumah dijaga TNI. digeledah Polri di belasan lokasi. namanya nyangkut di tiga kasus korupsi gede sekaligus.
Isu mundur udah kemana-mana...
tapi pas dia berdiri di podium, nadanya tegas dan datar.
Nggak ada gemetar, nggak ada defensif berlebihan.
Soalnya ya kalau orang beneran kepepet, biasanya reaksinya dua:
Panik atau Ngeles
Ditanya soal mundur, dia nggak bilang:
"nggak, saya nggak mundur" gamblang gitu.
Dia malah muter, "saya masih terima perintah dari Jaksa Agung."
Terus dia juga pinter milih fokus.
Alih-alih ribut bela diri soal rumah Sentul, emas, duit yang ketemu, dia lempar semua ke "yang penting proses hukum jalan, kasus prioritas negara jalan."
Dan jangan lupa settingnya-> dia pake seragam dinas, berdiri di kantor sendiri, bukan ngumpet atau cuma kirim rilis.
Itu semua kesan yang dia bangun sengaja:
Saya masih di sini, masih pegang kendali.
Kalau sebutanya, bukan 'psychological war', lalu apa ini guys?
Tetangga gue bangun rumah Rp 150 juta.
Tetangga sebelahnya bangun rumah Rp 400 juta.
5 tahun kemudian gue masuk ke dua rumah itu. Bedanya bikin gue mikir panjang. Bukan soal yang lo kira. 😭
Rumah Rp 150 juta. Tipe 36. Cat sederhana. Keramik polos. Tapi strukturnya kokoh. Dindingnya nggak retak. Atapnya nggak pernah bocor. Orangnya bilang ke gue: "Semua budget gue habisin buat yang nggak keliatan."
Rumah Rp 400 juta. Fasadnya bagus banget. Instagramable. Batu alam. Roster. Pintu kayu solid. Tapi 3 tahun pertama: Atap bocor 2x. Dinding retak di 4 titik. Lantai keramik kopong di beberapa area. Orangnya bilang ke gue: "Kontraktornya fokus yang keliatan. Yang nggak keliatan dikurangin."
Yang dimaksud "yang nggak keliatan." Pondasi: kedalaman dan lebarnya. Besi tulangan: diameter dan jaraknya. Campuran beton: rasio semen, pasir, kerikil. Waterproofing: jumlah lapis dan cara aplikasinya. Instalasi listrik: kualitas kabel dan sambungan. Semua ini nggak keliatan setelah rumah jadi. Tapi semua ini yang nentuin rumah lo tahan 30 tahun atau 5 tahun.
Cara kontraktor nakal kurangin biaya di bagian yang nggak keliatan. Besi tulangan diameter 10 diganti diameter 8. Hemat: Rp 8-12 juta. Risikonya: kekuatan struktur berkurang 35%. Campuran beton dikasih air lebih banyak biar gampang dikerjain. Hemat: waktu dan tenaga. Risikonya: kekuatan beton turun 30-40%. Waterproofing 2 lapis jadi 1 lapis. Hemat: Rp 3-5 juta. Risikonya: bocor dalam 2-3 tahun.
Cara deteksi ini sebelum ketauan terlambat. Besi tulangan: minta lihat faktur pembelian dari supplier. Cek diameter di batangnya langsung. Campuran beton: minta tukang lakuin slump test sederhana. Beton yang terlalu encer itu tanda air kebanyakan. Waterproofing: foto tiap tahap aplikasinya. Berapa lapis, berapa waktu antar lapis. Semua ini bisa lo lakuin sendiri. Nggak perlu jadi insinyur.
Yang tetangga Rp 150 juta lakuin beda. Dia habisin 60% budgetnya buat struktur. Pondasi yang dalam. Besi yang sesuai spek. Beton yang campurannya bener. Sisanya buat finishing sederhana. "Tampilan bisa diubah kapan aja, Mas. Struktur nggak bisa." Tahun ke-7 dia mulai renovasi tampilan. Sekarang rumahnya lebih bagus dari yang Rp 400 juta. Dan strukturnya masih sempurna.
Prioritas budget yang bener buat bangun rumah. Struktur (pondasi, kolom, balok, sloof): 35-40% dari total budget. Atap (rangka + penutup + waterproofing): 15-20%. Utilitas (listrik, air, sanitasi): 10-15%. Dinding + plester + acian: 15%. Finishing (keramik, cat, plafon): 10-15%. Estetika (fasad, taman, pagar): 5-10%. Kalau kontraktor lo propose sebaliknya, tanya kenapa.
ertanyaan yang wajib ditanyain ke kontraktor sebelum deal. "Berapa diameter besi tulangan yang dipake untuk kolom?" "Berapa rasio campuran betonnya?" "Waterproofing berapa lapis dan produk apa?" "Boleh gue foto tiap tahap pengerjaan strukturnya?" Kontraktor yang bagus: jawab semua dengan detail. Kontraktor yang markup struktur: mulai cari alasan.
5 tahun kemudian. Tetangga Rp 400 juta udah keluar Rp 65 juta tambahan buat perbaikan. Atap. Dinding. Keramik. Instalasi listrik yang bermasalah. Tetangga Rp 150 juta? Nol pengeluaran perbaikan dalam 5 tahun. Dan baru mulai renovasi tampilan tahun ini. Dengan budget yang tadi harusnya buat perbaikan tapi nggak kepake.
Rumah mahal bukan jaminan. Rumah murah bukan masalah. Yang nentuin bukan harganya. Tapi ke mana uang itu dihabisin. 60% ke struktur yang nggak keliatan = rumah tahan 30 tahun. 60% ke tampilan yang keliatan = rumah bagus 3 tahun pertama. Pilihan ada di tangan lo sebelum mulai. Bukan sesudah.
cc : material_daily
Dulu gue sempat mikir, kalau ada orang bikin salah ke kita ya wajar aja kalau dimarahin. Tapi ternyata, makin dewasa malah makin sadar... nggak semua kesalahan harus dibalas dengan emosi.
Beberapa waktu lalu gue lagi makan di salah satu restoran di Grand Indonesia. Tiba-tiba mbak kasir nggak sengaja numpahin minuman ke meja gue, bahkan sedikit kena bagian belakang laptop.
Dia langsung panik, tangannya gemeter, berkali-kali minta maaf sambil buru-buru ngelap meja dan barang-barang gue. Padahal gue udah bilang, "Santai aja mbak, nggak apa-apa."
Tapi dia tetap minta maaf terus. Sampai akhirnya, dengan suara yang hampir nangis dia bilang, "Pak, nanti masih mau makan di sini lagi kan? Jangan kapok ya, Pak."
Jujur, kalimat itu bikin gue langsung diem.
Kalau kejadian ini terjadi beberapa tahun yang lalu, mungkin reaksi gue beda. Bisa aja gue komplain panjang lebar ke manajemen karena ngerasa dirugikan.
Tapi sekarang, yang gue lihat bukan lagi minuman yang tumpah atau laptop yang kena. Yang gue lihat justru seseorang yang lagi ketakutan.
Gue langsung kepikiran, kalau sampai gue bikin masalah ini jadi besar, bisa aja dia kena tegur. Bahkan dalam kondisi tertentu, mungkin pekerjaannya ikut terancam.
Padahal kita semua tahu, di situasi ekonomi sekarang, kehilangan pekerjaan bukan hal yang sepele. Ada keluarga yang harus dinafkahi, ada cicilan yang harus dibayar, dan ada hidup yang tetap harus jalan.
Lihat dia segugup itu, gue jadi bertanya dalam hati, jangan-jangan buat dia, kesalahan yang nggak disengaja ini terasa seperti akhir dari segalanya.
Sejak saat itu gue makin percaya, nggak semua orang yang berbuat salah butuh dimarahin. Kadang mereka cuma butuh sedikit pengertian.
Kita nggak pernah tahu orang lain lagi bawa beban apa. Bisa jadi satu ucapan kasar dari kita jadi pukulan terakhir buat mereka. Tapi sebaliknya, satu sikap baik yang kita kasih bisa jadi alasan mereka tetap kuat buat lanjut jalanin hidup.
Jadi, kalau masih bisa memilih buat baik, ya pilihlah baik. Karena memanusiakan manusia nggak pernah bikin kita rugi.
Semakin lu berusaha menyembunyikan, menyensor, atau melarang suatu informasi, orang-orang malah bakal makin brutal buat nyari tahu.
Kamera wartawan boleh aja mati, tapi penguasa nggak bisa menghentikan kebocoran informasi dari rekaman suara HP yang disembunyiin di kantong peserta.
Semakin informasi itu dilarang, bocorannya bakal makin liar dan digoreng habis-habisan oleh netizen tanpa bisa dikontrol lagi narasi aslinya oleh pemerintah.
cara parenting ibu Kenkulus (Chika):
- cemilan buatan sendiri,
- tidak kenal jajan sembarangan
- jam 8 malam sudah tidur, bangun jam 3.30 pagi karena hormon pertumbuhan terbesar saat malam
- kenalkan buku sejak lahir, latih 7 sistem sensori
- libatkan Ken di kegiatan sehari-hari
- Tidak langsung benarkan jawaban anak
- biarkan berimajinasi dulu, baru arahkan
- Kenalkan kegagalan sejak dini
- sengaja buat kompetisi kecil & biarkan kalah
- fokus bukan pada kepintaran akademis
- tapi bangun fondasi karakter, empati,
kalo kalian sadar sebenarnya prabowo
lagi nyindir fatimah mahasiswa ui
karna sebelumnya fatimah adu argumen dengan
salah satu juru bicara prabowo (orang gerindra)
jubir: ada anak- anak di desa sana nyebrang sungai kesekolah demi MBG
fatimah : lah itu bapak cerita, harusnya akses jembatan nya dulu gk sih, baru mikirin makanannya?
ternyata nyampe ke prabowo nih hasil debatnya
gatau masuk fyp dia atau kagak
tapi ngeliat respon hari ini wasalam guys
Bertahun tahun ngerantau di Jabodetabek, baru minggu lalu tau kalo Kapal Dishub dari Pelabuhan Muara Angke ke Kepulauan Seribu sangat ramah kantong 😭 under 50reboo PP bisa ke 3 pulau dgn kapal ber AC man teman, kemaren nekat nyobain paket wisatanya
cc:threadd.indriasr
Ada polisi ngamuk-ngamuk, ngaku kakinya patah sambil nunjuk-nunjuk mahasiswa. Padahal mahasiswa ga ngapa-ngapain. Kayaknya cuma kesel karena ga ada yang dengerin.
Terus tiba-tiba jatuh sendiri, langsung teriak kakinya patah. Lucunya, dia kayak ga sadar kalau ada yang ngerekam dari awal. Jadi ketahuan jatuhnya bukan karena didorong siapa-siapa. Jatuh sendiri ternyata Pak,kirain patah ulah mahasiswa untung ada videonya, apa dampak kegemukan pak?? kayak pemimpinnya, Aduh jadi malu.....lagi marah tiba-tiba jatuh.....keseleo lagi...
Pajak yg udh gw bayar buat gaji anak lu :
• PPN 11% tiap kali makan, belanja, atau pakai jasa
• PPh puluhan juta per tahun
• Pajak mobil 2 dan motor 3 (saat beli dan tiap tahun)
• Pajak rumah (PBB)
• Pajak usaha kontrakan
• Pajak tiket pesawat
• Pajak saat lewat jalan tol
• Pajak BBM
• Pajak pulsa, paket data, internet, dan listrik
• Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB)
• Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) tahunan
• SWDKLLJ saat bayar pajak kendaraan
• Pajak rokok
• Pajak hotel
• Pajak restoran dan kafe
• Pajak parkir
• Pajak hiburan (bioskop, konser, tempat rekreasi tertentu)
• Bea Meterai
• Pajak jual beli properti
• Pajak deposito dan investasi tertentu
• Pajak impor barang dari luar negeri
• Bea masuk barang impor
• Pajak reklame
• Pajak penerangan jalan (di tagihan listrik)
• Pajak transaksi saham tertentu
• Pajak transaksi kripto
• Pajak hadiah undian
• Pajak sewa tanah dan bangunan
• Pajak penghasilan UMKM/usaha tertentu
• Retribusi pasar
• Retribusi kebersihan/sampah
• Retribusi perizinan tertentu
• Biaya administrasi dan pungutan daerah lainnya.
Terus masih dibilang kurang kontribusi ke negara. 😅
“Endasmu.. eh eh sorry sorry.”
Dia tuh tau rakyat mengkritik ucapan ga pantes dia saat pidato, tp di sini sengaja banget diucapkan dg entah apa maksud dan niatnya silakan nilai sendiri 😔💔
Terus diakhiri “Emang gw pikirin?”
Anjirlah ga ada harapan lagi klo gini mah 😩
Dari sekian banyak pidato, pidato kali ini bener bener nyesek
Rakyat yang bayar gaji kalian, dikritik malah dibales:
“EMANG GUE PIKIRIN” dan disambut tepuk tangan yang meriah