Kenyataan pahitnya adalah : Beberapa orang memilih untuk hilang selamanya dari hidup kamu hanya karena mereka tidak cukup dewasa untuk menghadapi kenyataan bahwa mereka telah berbuat salah sama kamu.
Mereka tahu mereka salah, dan tahu kamu tidak layak diperlakukan seperti itu.
Namun, karena mereka enggan bertanggung jawab, mereka memilih untuk menciptakan narasi palsu tentang dirimu, agar mereka tidak merasa bersalah pada diri mereka sendiri…
Kamu tau gak sih, kenapa negara di Asia Tenggara (SEA) tuh so obsessed with Susu Kental Manis (SKM)?
Ini gak lain dan gak bukan campuran antara iklim tropis, sejarah kolonial dan strategi marketing jaman dulu.
Basically SKM tuh awalnya cuman logistik militer yg berubah jadi selera rakyat. SKM tuh bukan produk asli SEA.
Jaman dulu sebelum kulkas ada, nyimpen susu segar di SEA tuh mustahil. Suhu tropis dan kelembaban tinggi bikin susu sapi cepet basi.
✅Solusinya : Proses kondensasi (menghilangkan kadar air) dan penambahan gula dalam jumlah besar (sekitar 40-45%) yg berfungsi sebagai pengawet alami.
SKM bisa bertahan berbulan-bulan di suhu ruang tanpa basi.
Lalu para penjajah ini membawa SKM ke wilayah kita karena mereka gak bisa ngebawa sapi perah Eropa yang manja ke iklim tropis yang ganas.
🇮🇩 Di Indonesia, SKM diimpor dari Belanda. Merek yang paling ikonik adalah Friesche Vlag (Susu Cap Bendera). Awalnya cuman dikonsumsi sama Belanda dan priyayi. Kemudian meluas ke masyarakat umum sebagai simbol status “gaya hidup modern”.
Lahirlah Es Teler, Es Campur, Terang Bulan.
🇻🇳Di Vietnam, tentara Prancis kangen minum kopi susu (café au lait). Makanya mereka ngeganti susu jadi SKM di minuman kopi nya. Maka lahirlah “Cà Phê Sữa” (kopi tetes Vietnam).
🇲🇾🇸🇬 Di Malaysia & Singapore, Inggris ngebawa merek Milkmaid (Cap Junjung). SKM jadi komponen vital di Kopitiam (kedai kopi Tionghoa-Melayu). Budaya minum “Teh Tarik” lahir karena SKM memberikan kekentalan yang pas untuk menciptakan buih saat dituang bolak-balik.
Kemudian Di tahun 50-an sampai 70-an, perusahaan besar di SEA ini memasarkan SKM sebagai "minuman sehat" untuk anak-anak sekolah karena harga susu segar yg masih selangit.
Nah, karena sudah terbiasa dengan rasanya sejak dari kecil, masyarakat mulai memasukkannya ke resep lokal dan diadaptasi jadi Kuliner Lokal.
SKM yang tadinya "obat rindu" orang Eropa, berubah jadi bahan wajib untuk Martabak, Es Campur, hingga Thai Tea.
Jadi, setiap kali kita menuang SKM di atas martabak atau kopi, kita sebenarnya lagi menikmati produk teknologi militer abad ke-19 yang dimodifikasi oleh selera lokal.
Nakal bgt dah karyawan toko donat ini. Org2 pada beli minuman gak dikasih free donat, padahal distruk jelas ada.
Pas aku beli gak dikasih jg, sengaja didiemin kirain bakal dianter, tp gak.
Pas ditnya jawabnya “oh belum ya?”
Ku jawab “iya, bapak yg itu, yg itu juga”
Mukanya masem
@SosmedAnu Paling sebel klo dibilang 'boros amat' yakali woey, belanja duit sejuta skrg dpt apaan. Belom ntar klo ada yg ultah2 beli kado segala mcm. Duit yg dikasihin istri faktanya dipake buat kebutuhan sehari2, bukan 100% buat istri.
@tanyarlfes Msh pacaran ga perlu tau gaji pacarnya brp, buat apa..lu pake uang lu sendiri nder. Klo value pacar lu ga sesuai sm lu, tinggal putusin dia aja trs cari yg sesuai.
Saya yakin kamu gatau
Ada istilah medis u/ mereka yg menelan mentah-mentah saran medis dari internet seperti chatgpt/AI/google dkk
Nama medisnya = IDIOT syndrome
Ini beneran bukan sarkas, udh ada jurnalnya di PUBMED..
IDIOT = Internet Derived Information Obstructing Treatment.
Sebuah kondisi medis dimana pasien menemukan informasi di internet → percaya bulat-bulat → berhenti minum obat → kondisi memburuk
Kalau istilah dari WHO namanya ini infodemic
Jadi jangan telan bulat-bulat saran dari AI/internet, dokter saja jika ragu akan bilang tidak yakin, atau akan cari info lagi
AI ga diajarin untuk ragu, dia cuman kasih info yg ada dan kadang-kadang info yg kamu inginkan
Be smart guys 😁
Guys lebaran 2016 ada kejadian yang sampai sekarang gw rasa belum pernah benar-benar dipertanggungjawabkan secara serius.
Namanya tragedi Brexit.
Bukan Brexit Inggris.
Tapi Brebes Exit pintu keluar tol Brebes Timur.
Ceritanya begini.
Pemerintah baru saja resmikan ruas tol Pejagan-Brebes Timur.
Bangga banget.
Dipamer-pamerin.
Jokowi gunting pita.
Janji waktu tempuh Jakarta ke Jawa Tengah bakal jauh lebih cepat.
Jutaan pemudik percaya.
Masuk tol semua.
Tapi ada satu masalah yang tidak ada yang pikirin sebelumnya.
Tolnya belum tersambung sampai mana-mana. Ujungnya buntu di Brebes Timur.
Dan begitu jutaan kendaraan keluar dari tol kecepatan tinggi mereka langsung ketemu jalan arteri pantura yang sempit, pasar tumpah, dan persimpangan biasa.
Bottleneck.
Kemacetan total.
Puluhan kilometer.
Tidak bergerak lebih dari 24 jam.
Di dalam mobil suhu Brebes saat itu 33 sampai 35 derajat Celsius. AC menyala terus supaya tidak kepanasan.
Tapi mesin menyala terus bikin gas karbon monoksida dari ribuan knalpot numpuk di satu titik dan merembes masuk ke kabin.
Tidak matikan AC juga tidak aman di panas segitu heat stroke bisa mematikan terutama lansia dan anak-anak.
BBM habis.
SPBU kosong.
Air mineral dijual pedagang dadakan dengan harga berlipat-lipat.
Ambulans tidak bisa masuk karena bahu jalan juga penuh kendaraan yang nekat menyalip.
Hasilnya 12 sampai 17 orang meninggal.
Bukan karena kecelakaan.
Tapi karena keracunan karbon monoksida.
Heat stroke.
Dehidrasi akut.
Kelelahan ekstrem.
Serangan jantung.
Mati karena macet.
Dan ini yang paling bikin gw marah dari semua yang gw baca.
Tidak ada satu pun pejabat yang dimintai pertanggungjawaban secara serius.
Tidak ada audit kebijakan yang dibuka ke publik. Tidak ada penetapan ini sebagai kegagalan sistemik.
Yang ada kalimat klise soal volume kendaraan di luar prediksi. Evaluasi dilakukan setelah kejadian.
Sistem one way, contraflow, e-tol semua itu baru dibenerin setelah orang sudah mati.
Bukan sebelum.
Dan ini polanya selalu sama di Indonesia.
Infrastruktur dibangun untuk dipamerkan.
Diresmikan sebelum siap.
Dipotret untuk kampanye.
Dan ketika ada yang mati di atasnya itu masuk statistik mudik tahunan. Bukan kegagalan kebijakan.
Tol dibangun tanpa mikirin ujungnya kemana. Gerbang tol tidak siap menampung volume.
Tidak ada protokol darurat.
Tidak ada koordinasi antar lembaga.
Polisi di setiap daerah sibuk mastiin kemacetan tidak terjadi di wilayahnya masing-masing akibatnya semua menumpuk di satu titik dan meledak di Brebes.
Kamar Film nyimpulin dengan satu kalimat yang gw rasa paling jujur.
Selama keberhasilan negara diukur dari berapa kilometer tol yang dibangun bukan dari berapa nyawa yang terlindungi tragedi seperti ini akan selalu mungkin terulan
Kita bukan kekurangan jalan.
Kita kekurangan pemimpin yang menghitung nyawa lebih penting dari foto gunting pita.
@platm106@menuembegejelek Tergantung sppg nya kayaknya, bener2 mau nyerap anggaran scr maksimal apa mau mainin anggaran. Di sekolah anakku dlu MBGnya ya ga mutu, jalan brp bulan ganti sppg kata dia skrg menunya enak2, susu jg pakenya ultra bukan susu sekolah.