pertama kali ngerasain malam takbiran di kota orang. idul adha bukan di rumah ga ngumpul sama keluarga. pertama kali juga masak sapi sendiri biasanya dimasakin dan masih banyak nawar ke mamah wkwk
kalau ada yang tanya:
"KOK NYERAH SIH? KAN DIA TIDAK SELINGKUH"
akan aku jawab:
dia tidak selingkuh tapi dia berhenti memberi effort dalam hubungan, dia tidak nakal tapi juga tidak pernah insiatif untuk ajak proper ngedate/quality time. dia tidak gengsi minta maaf tapi maaf hanya menjadi kata penenang bukan perubahan. dia tidak membentak tapi menganggap sepele apa yang aku rasakan.
SEDIH BGT GUSTI
iya udah tau setiap pertemuan pasti ada perpisahan. tapi kunaon gue hrs ngerasain perpisahan sama org yang bener² bisa mendewasakan gue di tempat kerja. gue masih butuh mereka
adegan paling menguras energi di tempat kerja bukan kerjanya, tapi harus bersikap normal dengan orang orang yang sebenernya pengen kita sleding kepalanya
Sebenarnya,
Ego perempuan itu memang besar,
makanya harus bersama laki-laki yang dewasa,
biar apa?
biar ketika sedang bertengkar,
ia mampu mengatasi ego perempuannya, bukan malah membalas balik dengan egonya sendiri.
Ego perempuan cukup dipahami dan dimengerti, sebab perempuan akan luluh dengan rasa sabar dan tutur kata yang lembut dari pasangannya
Dear wanita, 🤍
Cobalah mulai menikmati hidupmu sendiri, tanpa harus bergantung pada orang lain.
Bangun pagi, jalani tahajud kalau mampu, lanjut witir dan doa. Baca Al-Qur’an walau sedikit, yang penting konsisten. Lakukan dhuha kalau sempat, dan biasakan dzikir pagi dan petang supaya hati lebih tenang.
Menurut psikologi, anak yang tumbuh di lingkungan dengan orang tua yang mudah marah sering belajar hidup dalam mode “siaga”. Mereka terbiasa membaca situasi, menebak-nebak suasana hati, dan berusaha tidak membuat kesalahan sekecil apa pun. Bukan karena mereka perfeksionis sejak lahir, tapi karena dulu kesalahan kecil saja bisa berujung pada kemarahan besar.
@utamakank3 Tau sejak SMP pas silaturahmi bareng ortu ke tetangga (orang Kuwait)
Jadi kalo ngucapin "minal aidin wal faizin" harus dilanjut dengan "mohon maaf lahir batin"
Tapi yg lebih baik adalah ngucapin "taqabbalallahu minna wa minkum" terus dibalas "minna wa minkum taqabbal ya karim"