DKI Jakarta butuh ±Rp253 M buat gratiskan sekolah swasta.
Kalau ditarik ke 38 provinsi di seluruh Indonesia angkanya sekitar Rp9,6 T.
Sementara satu program nasional bisa habis ±Rp1 T per hari, you know what i mean.
Artinya?
Secara hitungan kasar: cukup pause dulu 8–12 hari itu program, maka sudah bisa bantu pendidikan di seluruh Indonesia.
Dan gue yakin sih kalau program itu di stop dulu ga sampai 2 minggu, tapi bisa kasih pendidikan gratis ke seluruh provinsi, pasti rakyat setuju semua.
Tapi balik lagi, semua hanya tentang skala prioritas.
Terdengar empatik, tapi bodoh.
Gini lho bu menteri, kecelakaan kereta itu nggak selalu tabrakan depan-belakang.
Jika terjadi anjlokan akibat masalah wesel atau patah rel, gerbong tengah yg justru bisa mengalami efek teleskopik yg juga sangat mematikan.
Lagian gini lho, ini soal crowd management. Gerbong khusus perempuan itu di ujung tujuannya membantu memisahkan arus penumpang laki2 dan perempuan sejak di peron stasiun. Jika gerbong khusus perempuan diletakkan di tengah, bakal sangat kacau saat jam2 sibuk.
Kalau solusinya cuma pindah gerbong, menjauhkan satu kelompok dari zona bahaya berarti secara menteri ini sangat sadar utk menempatkan kelompok lain (laki-laki dan penumpang umum) di zona maut.
Benar2 komentar nggak etis dalam konteks keselamatan publik. Bukannya ngepush utk meningkatkan standar keamanan, malah pindah gerbong.
Heran, anggota kabinetnya prabowo ini kok banyak banget yg nggak mutu dan absun kek gini.
Prabowo ini bikin semua presiden pendahulunya jadinya terlihat bener kerjanya.
SBY itu nilainya 3/10, Jokowi 2/10 tapi Prabowo ini beneran 0/10. Nepotismenya gila. Temennya ditunjuk jadi Menhan yang ngurusin koperasi. Ajudannya dijadiiin Seskab. Adiknya dikasih jabatan multifungsi. Ponakannya dikasih Deputi BI.
Ekonomi lagi ambruk-ambruknya tapi presidennya macem gini. Hancur total.
Oh iya, ada satu hal yang tadi sempat kelewat.
Semua yang terjadi malam ini juga bukan berdiri sendiri.
Ini buah dari proses panjang, dari aktif berorganisasi, dari sering hadir, dari mau terlibat dalam sebuah kegiatan
Di organisasi, kita belajar satu hal penting, relasi itu bukan dibangun saat butuh, tapi jauh sebelum itu.
Karena saat momen genting datang, yang bergerak bukan sekadar sistem…tapi jaringan.
Bukan sekadar prosedur…tapi rasa saling peduli.
Maka pesan terakhir, khususnya buat #AnakTwitter yang membaca tweet ini
Berserikatlah.
Berkumpullah.
Dan Aktiflah.
Karena dari situlah jaringan kekeluargaan dan perkawanan tumbuh, terjalin, dan menguat.
Yang hari ini mungkin terlihat biasa, besok bisa jadi penolong di saat luar biasa.
Organisasi itu bukan cuma tempat kumpul, tapi tempat menanam hubungan , yang suatu hari akan kita panen manfaatnya.
Salam
Dalam kerja sama internasional ada istilah imbal balik/imbal dagang.
China dapat konsesi nikel dan imbal baliknya Indonesia dapat teknologi kereta cepat. Ini dalam kerangka Belt and Road Initiative (BRI).
Namun ini situasi bencana bukanlah saat yang tepat memakai matematika diplomasi.
Kemanusiaan di atas semua itu.
Kalau pun pemerintah yakin bisa, bukti di lapangan mengatakan sebaliknya.
Sebaiknya pemerintah jujur & terbuka dalam menangani bencana dan segera menetakan bencana nasional untuk Sumatera.
There are some young athletes who somehow have something different. Something beyond the required technical skills. That indefinable “X factor” which you just sense gives them the potential to develop into something special.
I sensed that when I saw Hendra Setiawan and his partner, the late Markis Kido, defeat the former world champions Sigit Budiarto and Candra Wijaya in the final of the 2005 Indonesia Open. So too when I first saw both Tai Tzu Ying and Kevin Sanjaya Sukamuljo.
All had that something extra. Something I can’t quite pinpoint or describe but could tangibly sense was both special and different when compared to other talented youngsters.
I got that same feeling watching Raymond Indra and Nikolaus Joaquin winning the recent #AustraliaOpen2025. They are quite obviously hugely talented individuals, good technical skills, dynamic, adventurous and aggressive, making them exciting to watch.
And there is absolutely no doubt they’ve had an unbelievable start to their partnership. 6 titles from 8 finals in their first 12 tournaments together, including the title in Sydney when playing in their first ever Super 500 event on the #BWFWorldTour.
As a new young pair, they haven’t yet experienced the pressures that go with star status. With the innocence of youth, they have been able to compete with uninhibited freedom. To simply enjoy the thrill of the exhilarating ride while surfing on the crest of the sporting wave of success, blissfully unaware of the dangers that lurk in the murky waters beneath.
But the moment you achieve an outstanding result, the uninhibited innocence is shattered, and you are forced to deal with the harsh reality of sport – pressure and the heavy burden of expectation.
There has been so much talk and excitement surrounding Indra and Joaquin, and with that spotlight comes pressure. But that’s a fundamental and unavoidable part of sport. How they now handle and deal with that pressure will be crucial in their development.
There’s no doubting the raw talent and potential of these two young Indonesians, and I can’t help but sense, we may just have witnessed the start of something special.
📷 @badmintonphoto
#Badminton
Anda kenal Ponpes Al Khoziny. Pesantren tua, tapi manajemennya baru.
Senin sore. Pukul tiga. Ratusan santri sedang salat Asar berjemaah di musala. Tempat suci. Tapi tempat itu berubah jadi kuburan beton. Bangunan tiga lantai itu ambruk.
Korban jiwa. Luka parah. Semua karena apa? Bukan takdir. Ini murni dosa konstruksi.
Sejarahnya begini: Bangunan itu aslinya direncanakan hanya satu lantai. Tapi, maunya pengelola lain. Terus ditambah ke lantai dua, lalu ke lantai tiga. Tanpa hitungan. Pondasi yang harusnya menanggung beban satu lantai, dipaksa menanggung tiga kali lipat.
Ini namanya meremehkan fisika.
Puncaknya di hari nahas itu. Saat pengecoran lantai paling atas dilakukan, penopangnya jebol. Tak kuat menahan beban. Begitu satu titik ambrol, sisanya ikut menyerah. Runtuh total.
Apa buktinya kelalaian?
* Tidak Ada IMB. Bupati Sidoarjo sendiri yang bilang. Lembaga pendidikan sekelas ini membangun tanpa izin. Legalitas diabaikan.
* Aktivitas Jalan Terus. Saat beton basah di atas, nyawa santri di bawah dijadikan taruhan. Mereka salat tepat di bawah risiko tertinggi pembangunan. Mana logikanya?
Ini bukan sekadar kecelakaan. Ini adalah tragedi kesembronoan massal.
Para ahli sudah bersuara: Kelalaian kontraktor, dan kelalaian pengelola pesantren. Keduanya sama-sama bertanggung jawab atas kematian yang tak perlu ini. Mereka tahu ini bangunan tua yang dimodifikasi tanpa standar. Tapi mereka memilih diam.
IMB diabaikan. Ilmu teknik diabaikan. Keselamatan diabaikan.
Sidoarjo kini punya monumen duka baru: Reruntuhan yang mengajarkan, bahwa membangun rumah ibadah pun harus pakai akal sehat, bukan cuma niat.
Setelah ini, apa jaminan bahwa pesantren dan sekolah lain tidak akan mengulangi "dosa teknis" yang sama?
“Pembuat hoax terbaik adalah penguasa, karena mereka memiliki seluruh peralatan untuk berbohong. Intelijen dia punya, data statistik punya, media punya.” - @rockygerung
Indonesia di persimpangan jalan. Ada yang memaksakan kembalinya masa lalu dengan cara-cara masa lalu, setelah institusi demokrasi dilemahkan dan alat pukul otoritarian dikuatkan selama 1 dekade. Hanya bisa dicegah kalau masyarakat sipil terkonsolidasi.
Random convo dgn supir taksi hari ini. Pas soal Halte TJ kebakar, supir taksi nyeletuk, “itu yang bakar sudah pasti orangnya polisi.”
Mulai jadi pengetahuan umum ya tentang siapa yg suka bakar2 halte 😅
Minta maaf yang benar itu diikuti dengan pernyataan MUNDUR DARI ANGGOTA DPR RI.
Nggak cukup cuma nangis depan kamera!
Kondisi sudah kayak begini kok masih nggak paham juga...
“Untuk menghindari membusuknya seluruh tubuh ikan, maka kepalanya harus dipotong."
“Kebusukan itu dimulai dari puncak. Kebusukan itu dimulai dari pemimpin-pemimpin."
Marcus Tullius Cicero
YaAllah segerakanlah azab di dunia kepada para pemimpin kami yang dzalim. Cabutlah ketenangan, ketentraman, kedamaian dari hidupnya, buatlah mereka selalu gelisah, merasa tidak tenang tidak aman, tanpa terkecuali keluarganya. Aamiin🤲🏻