orang indo tuh seriusan dah knp ngefans banget ama korporasi??? dikit2 bela korporat, dikit2 bela agensi, dikit2 bela pemerintah, dikit2 bela higer ups. idup lu tuh udh sengsara goblok, ngapain si belain orang yg lu gaakan pernah bisa sentuh kekayaannya๐ฅฒ๐ญ
orang2 tiktok tuh genuinely tolol dan koruptor. ada orang komplain karena dapet teazzi yg volumenya (ml) ga sesuai, dibilang "apaansi ribet banget, padahal mempermudah kerjaan orang itu gampang". ini nih anjing yg bikin indo gabakal lepas dari korupsi bodoh๐ซ
@dddizzi warga tiktok pada rame bgt anjir berisik under someone's post "kak ngomongnya ubi bukan ube" gtgt and i think it's diabolical aja how "police" culture is so relevant in indonesia๐ญ
Indonesians jarang bagi ilmu and help each other -- that's why we never grow:
Gua baru dinner sama founder di San Francisco yang hit $500K (Rp 9 miliar) dalam 6 bulan.
Yang bikin kaget: dia share semua strategi/playbook dia ke gua, orang yang baru dia kenal.
In my experience, this rarely happens in Indo.
We don't share learnings and always keep insights to ourselves.
Bisa dipaham kenapa -- orang takut lo jadi kompetitor, gengsi, dan competition is tough.
Tapi justru itu yang bikin kita stuck:
Kompetisi keras โ orang gak mau share โ fewer people succeed โ
market tetap kecil โ kompetisi makin keras.
Kalo orang mau kolaborasi, more people will succeed and the pie gets larger.
Kalo gak, pie-nya tetap kecil dan kita cuman rebutan terus.