@moriecse Kedua mata Amalthea berkedip. Mau jutaan kali mendengar suara Patricia, jutaan kali pula dia termangu akan keindahan suara nona itu.
βMm, suaramu selalu bagus. Apa judul lagu itu dan tentang apa?β
@moriecse Aduh, pikir Amalthea. Sekali Patricia bernyanyi, maka akan berlanjut hingga berjam-jam.
Namun, dia juga tidak mau Patricia merajuk, jadi dia tidak punya pilihan lain.
β... Ya, boleh.β
@moriecse Dia menggigit bibir; berharap iblis itu mau menerima.
β... Aku bisa kabulkan permintaanmu. Kalau kamu punya misi sendiri dan butuh tempat tinggal, aku bisa tawarkan itu. Jadi, sebutkan apa yang kamu mau, @moriecse.β
@moriecse ... dia tawarkan untuk memuaskannya? Nyawa rasanya terlalu berbahaya untuknya sehingga itu tidak Thea tawarkan.
Dia diam untuk memikirkan bayaran yang cocok untuk iblis itu.
βAku tidak bisa memberimu nyawaku karena aku tidak sudi, tetapi...β
@moriecse Lantas itulah kenapa dia tidak pernah bisa membalaskan dendamnya segera. Mereka pandai bersembunyi.
βBau bangkai pasti akan tercium, itu yang aku yakini,β Ucapnya, menatap sosok itu dalam-dalam. βBisa kamu mengeksposnya, @moriecse?β
@moriecse Kendati waspada, rasa penasaran tetap ada. Maka, Thea dekati sosok itu dan menyentuh tubuhnya. Sedetik saja untuk memastikan dia tidak bermimpi.
βApa kamu benar-benar bisa membantuku membalas semua dendamku? Pasalnya, cara bermain mereka bersih sekali. Sulit mencari celah.β
βIblis,β Suaranya lantang. Kedua matanya dipejamkan dengan erat. βAku memanggilmu kemari untuk menjadi duri bagi pencuri. Aku memintamu memunculkan rupamu dan berpihak padaku. Maka, hadirlah di sisiku, @moriecse.β
Saat ini, dia duduk di tengah sebuah lingkaran dengan lilin mengelilinginya. Di tengah terdapat sesuatu yang berperan sebagai persembahan kepada roh yang dia panggil. Mulutnya mengucapkan beberapa mantra dalam suara kecil dan tangannya menyentuh lingkaran tersebut.