@IrfanRinaldi@MrOngDedy Anakku makan daging & sayuran harus dipaksa. Makanan favoritnya Indomie goreng tanpa toping apapun. Selain itu, kalau nyuruh makan udah kayak nyuruh kerja rodi. Dan itu tiap hari. Ibunya ribut terus nyuruh makan. Filosofi makan untuk hidup bukan hidup untuk makan begitu melekatπ
@di_ponegoro@MangOding212 Wakkk...sepakat...pas banget. Padahal kebanyakan yg sekolah swasta targetnya bukan UI. Tapi universitas TOP dunia.
Selain itu, misalnya kepepet masuk UI. Karena privilege punya jaringan berkualitas terkait relasi, ditambah punya duit banyak, tentu peluang suksesnya akan berbeda.
@abulmuzaffar10 Konsultan politiknya yang sembrono. Atau udah Jumawa karena hasil survei terakhir yang naik daun, padahal semua bisa berubah dalam hitungan detik. Lebih baik menjadi orang "kuat" yang gak diperhitungkan, dari pada menjadi pusat perhatian dan dianggap menjadi ancaman.
Di sini ada data desil yang lumayan bisa menggambarkan sebaran pengeluaran per kapita.
Terlihat bahwa memang kelas menengah (16,6%), yang sebenarnya juga gak kaya2 amat, tersebar di desil 9 dan 10. Yang benar2 kaya hanya 0,4% di pucuk.
Dengan demikian, sebenarnya desil ini tidak bisa digunakan sebagai patokan kebijakan.
@OniSuryaman Ketika variabel data gak jelas, akan menjerumuskan dalam pengambilan kebijakan. Kalau itu tidak digunakan untuk mengambil kebijakan, namanya kerjaan yang sia-sia. Karena kalau dari penjelasannya justru itu datanya gak bisa digunakan untuk mengambil keputusan dalam kebijakan.
Sebagai orang yang pernah belajar matematika, kita tahu bahwa tabelnya jelas salah.
Dari 80% ke 92% itu naiknya 15%, bukan naik 92%.
But, what do you expect dari orang yang 10+7=18
@OniSuryaman Si beliau mungkin gak sadar, kalau belajar itu harus terus menerus. Gak waktu cuma kampanye belajar gak emosian, belajar data, belajar gak asal ngomong dan tau batasan. Setelah jadi Presiden dianggapnya itu gak perlu lagi, sampai PD gak pakek teks yo ngelantur...π
Pada pilpres yang lalu aku Golput. Apakah itu salah ketika kita tak punya harapan pada semua kandidat yang ada? Dulu aku adalah "aktivis" anti golput. Tapi pada akhirnya aku menyadari, tidak ada yang benar-benar perduli pada negeri ini. Semua hanya demi diri sendiri.