ini out of context kasus yg skrg ya, I just wanna share.
for those of you whos in your clinical years, keep on going ๐ค you dont have to be perfect kok, jalanin aja..
koas itu ngajadin banyak hal, di hidupku, krn aku melewati pendidikan dokter, aku jadi:
bertanggung jawab sama setiap pilihan yg aku pilih, sebisa mungkin gak mau telat, suka bangun pagi, sayang banget sama temen sejawat, menghargai waktu luang, dan satu lagi: grow resilient.
ngerasa ga adil di koas? banyak jg. cuma mau diapain lagi? gakbisa, telen aja dan jalanin. akhirnya sampe skrg kebawa di hidup.
dikhianatin, dijahatin org pdhl udh baik, telen aja. hidup ttp harus berjalan walau rasanya antara hidup dan mati.
you become resilient with life.
dear TS, menanggapi yang sedang ramai, cuma mau mengingatkan (and this is my personal opinion) tegur boleh, raising awareness boleh, bully mohon jangan, krn sudah cukup banyak mata dan mulut netizen yang tertuju ke dia, sampai lihat di X dicari ke alamat rumahnya
segala doa "semoga kamu dikeluarin FK", "gausah jadi dokter", "gak pantes jadi dokter", sebenarnya sama mengiris hati bgt dengan ngeliat dektingku digebukin.
perkataan dan perbuatan yg ngancurin mental seseorang mungkin butuh waktu selamanya untuk sembuh.
Buat kalian yang mau interview kerja, sidang skripsi, lamaran, persentasi di tempat kerja, ketemu orang, atau biar dilancarkan lisannya, coba baca doa ini, doa nabi musa, biar lancar dan semua urusanya dipermudah
And when he's hurt its ironic how its only hurtful to my heart more, and as I closed my eyes, what I chanted was a plea for Allah to protect his heart and his life.
Its ironic..
And if love ever finds me again, I hope that it teaches me better about myself.
I hope it gives me strength to keep going, I hope it makes me want to give life the best version of myself.